Pages

Tuesday, September 10, 2013

Perihal Wanita Menikah yang Berkarir (PART 2)

bismillaahirrahmaanirrahiim...

Ingin melanjutkan postingan saya di sini beberapa waktu lalu yang ternyata sangat ramai dikunjungi orang-orang (trafficnya langsung mencuat ke ranking 1 popular posts)..

Kemarin, waktu postingan saya itu sedang ramai-ramainya dengan komen, suami saya bilang,
"dek, kayaknya ada yang beda penafsiran deh tentang tulisanmu itu...."

Saya sih nggak ngeh mana yang bikin salah penafsiran.. Sampai tadi teman-teman saya ada yang menegur, "Sasaa, kamu lolos exchange ya? Bukannya katamu perempuan yang udah nikah itu jadi ibu rumah tangga aja? Kok kamu malah pergi-pergi?"

Dan bukan hanya satu dua orang aja yang menanyakan.. Walaupun lebih banyak yang memberi selamat daripada mempertanyakan hal tersebut. Dan pertanyaan itu lah yang membuat saya tiba-tiba sadar dimana kesalahan persepsi yang dulu disebut-sebut sama suami saya itu.

Jadi begini ya,, terkait dengan judul tulisan saya "Wanita Menikah yang Berkarir-Sunnah pun Tidak"...
Point pertama saya adalah :

Wanita Menikah itu TIDAK SUNNAH untuk Berkarir

Berkarir di sini saya batasi dalam konteks mencari nafkah lho ya..
Bisa dilihat dari sebuah ayat di Al Qur'an:
Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang telah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka melahirkan.” (Ath-Thalaq: 6)

Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak seperti yang diperintahkan dalam ayat diatas. Dan kewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak berlaku meski suami miskin dan atau istri dalam keadaan kaya/berkecukupan.

Ayat lain menyebutkan :
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah ‎ berikan kepadanya. ‎Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (Ath-Thalaq:7)

Nafkah yang harus dipenuhi suami kepada istri, antara lain tempat tinggal, makan dan minum, pakaian, dan biaya kesehatan ketika sakit. Hal tersebut adalah nafkah yang utama disamping nafkah lainnya yang mengikuti sesuai dengan kebutuhan.

Which means, suami berkewajiban memberikan tempat tinggal untuk ditempati bersama demi mewujudkan ketenangan dan cinta kasih diantara keduanya. Tempat tinggal tidak disyaratkan harus hak milik suami, karena dapat juga sewa atau berupa pinjaman. Mengenai makanan dan minuman, suami juga berkewajiban memberikan nafkah sesuai dengan kebiasaan yang berlaku, seperti misalnya suami menyediakan berbagai peralatan dapur serta memberikan uang belanja agar istri dapat memasak. Suami pun wajib memberikan pakaian kepada istri dengan yang baik. Dan mengenai pakaian bagi istri, Islam telah mengatur bagaimana pakaian yang sesuai syariat, di mana suami lah yang berkewajiban untuk menjaminnya.

Jadi saya rasa jelas sekali ya di sini, bahwa kesemua permasalahan materi tersebut dibebankan Allah kepada suami, bukannya kepada istri. Dan di sanalah letak ke-wajib-annya. Sedangkan istri? Apa tugasnya? Tugas istri itu mudah : hanya taat dan hormat kepada suami. Titik nggak pakai koma.

Saya akan menukilkan sebuah kisah terkait hal ini..

Seorang perempuan datang memohon nasehat pada Nabi Muhammad SAW.
Nabi menanyakan apakah dia memiliki suami, dan perempuan itu mengiyakan. 
Kemudian Nabi menanyakan apakah dia melayani suaminya. Perempuan itu menjawab dia melakukan apa yang bisa dia lakukan.
Kemudian Nabi berkata pada perempuan tersebut: “Engkau sama dekatnya dengan Surga dan sama jauhnya dari Neraka sebagaimana dekatnya engkau dalam melayani suamimu”, 
dan dalam riwayat lain dikatakan : “suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Atau ada juga hadist seperti di bawah ini :
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk menyembah yang lain, aku akan memerintahkan istri untuk menyembah suaminya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hanya dari dua hadist itu saja sudah dapat dipastikan ya bagaimana pembagian tugas wajib bagi antara istri dan suami. Suami itu wajib menafkahi, dan istri wajib taat pada suami.

Lalu bagaimana dengan wanita yang berdagang atau mengajar atau yang lain?
Kembali lagi ke bahasan utama saya tadi, sudah sangatt saya tegaskan bahwa yang saya garis bawahi dalam kalimat berkarir itu adalah mencari nafkah, dimana artinya sang istrinya yang "dipaksa" atau "memaksakan diri" untuk menjadi tulang punggung keluarga, dan bekerja keras demi memenuhi kebutuhan di rumah.

Meskipun ketika masuk ke konteks "istri wajib taat pada suami" dan kemudian suaminya yang justru meminta istri untuk ikut bekerja mencari nafkah, ya itu urusan mereka kan. Yang jelas, kalau kata suami saya, sangat nggak pantas bagi suami itu untuk meminta istri juga ikut bekerja demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Karena suami lah yang diwajibkan Allah untuk urusan itu.

Dan mungkin banyak yang harus diluruskan dari persepsi ini. Di sini saya ingin kembali menegaskan : tidak ikut mencari nafkah bukan berarti si wanita itu harus selalu ada di rumah.

Iya saya tau wanita itu punya banyak potensi. Iya saya tau banyak sekali lapangan pekerjaan sosial yang sangat membutuhkan SDM wanita. Dan tulisan saya kemarin benar-benar tidak bermaksud untuk melarang itu. Bahkan suami saya pun juga mengijinkan saya untuk berwirausaha, suami saya mengijinkan saya untuk bersekolah setinggi-tingginya, dan beliau juga mengijinkan saya untuk keluar rumah demi aktivitas-aktivitas da'wah. 

Yang kami tekankan adalah : semua aktivitas itu bukan dalam rangka kewajiban mencari nafkah. Itu semua murni untuk aktivitas sosial, untuk da'wah, juga untuk memperkaya diri terhadap ilmu pengetahuan.

Untuk teman-teman yang mungkin kemarin datang ketika saya mengisi talkshow tentang menikah muda, saya di sana menjelaskan bahwa sejak awal saya dan suami memang sudah sepakat untuk studi dengan setinggi-tingginya, meskipun kami tidak mengesampingkan peran dalam rumah tangga.

Saya tetap melanjutkan program sarjana saya, walaupun pulang ke rumah ya tetap harus bersih-bersih rumah, menyiapkan makanan, dan lain sebagainya.
Suami saya juga lanjut terus program magisternya, meskipun jadi sering pulang larut karna setelah kuliah harus ngantor, dan sebagainya.

Kami sih berharapnya setelah ini nggak ada lagi yang salah persepsi dengan tulisan saya yang dulu itu. Dan semoga juga nggak ada yang justru jadi menganggap kami itu tidak setuju dengan istri yang beraktivitas sosial ataupun melanjutkan studinya, karna toh kami sangat sangat mendukung aktivitas pasangan suami-istri yang tidak pernah berhenti mengembangkan kualitas diri. Understand? :)

Dan tentang keputusan saya untuk ikut program student exchange.....
Jadi begini, itu panjang banget ceritanya ~__~

Di jurusan saya, yang mana menggunakan sistem blok, ada sebuah blok berjudul "blok elektif" yang memberi kebebasan pada mahasiswanya untuk mengisi blok itu dengan apapun.
Ada tiga pilihan dari jurusan saya :
1. ikut program exchange
2. melakukan penelitian (di luar skripsi) mengenai herbal (atau apa gitu, lupa)
3. membuat film edukasi

Saya pertamanya nggak tertarik untuk ikut exchange ya, rasanya masih berat pergi dari indonesia (ceileh) jadi saya waktu ikut mikirnya ya mau melakukan penelitian aja.

Sampai kemudian suami saya bilang,
"Dek, mas keterima program magisternya yang double degree, jadi tahun depan berangkat ke Taiwan."

Huwaa,,, saya ditinggal doong.... T__T

Langsung patah hati lah ya, sampai nggak nafsu makan segala (bo'ong banget, wkwk)
Akhirnya ketika ada pengumuman lagi tentang pendaftaran program exchange-nya itu, saya ndaftar deh... Dan salah satu negara yang saya pilih ya Taiwan itu, biar besok nggak usah mikirin tempat tinggal, kan bisa nebeng di tempatnya suami. hihi

Akhirnya ikut serangkaian seleksi.... mulai dari seleksi berkas, lalu tes listening, lalu wawancara...
Sampai akhirnya pada tanggal yang ditentukan, belum ada pengumuman apa-apa. Haha.

Udah hopeless rasanya, yah emang nasib kalau nggak lolos juga nggak masalah....

Lalu mendadak kemarin sore (setelah lewat beberapa minggu dari tanggal yang dijanjikan) ternyata baru ada itu pengumumannya.... Dan dari sekian banyak yang mendaftar dan ikut seleksi, saya termasuk satu diantara 25 mahasiswa yang lolos untuk program exchange itu...

Seneng? Iya lah, banget...
Sayangnya, ketika saya liat, berkas saya masuk di negara mana, ternyata di Tunisia.
Iya, Tu-ni-si-a.

Ya ampun, itu mananya Taiwan??
Saya ngucek-ngucek mata saya berkali-kali.
Akhirnya buka google map..

Dari yang sebelumnya begini :

Indonesia -- Taiwan

Sekarang justru akan jadi begini :

Tunisia -- Taiwan


Haduuh,, jaut amat ya...... ~___~
Itu mah bukannya tambah deket, malahan tambah jauuh pake banget banget... =__=

Kalau melihat saya hari ini sih, mungkin kelihatannya saya itu baik-baik aja..
Coba lihatnya tadi malam... waktu saya nangis-nangis nggak jelas..... ckckck....

Entah apa skenario Allah pada saya dan suami saya, mungkin Allah sengaja memilihkan Tunisia karna itu merupakan negara Islam (yang entah kenapa justru bahasa utama di sana adalah bahasa Perancis -__-), atau mungkin Allah memang sengaja menjauhkan kami supaya besok kangen-kangenannya lebih terasa (apa deh)....

Yang jelas pena telah kering dan lembaran telah dilipat...
Kami hanya meyakini, bahwa segala sesuatu itu ada dan akan terjadi sesuai dengan ketentuan qadha dan qadar.. Keyakinan kami bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak akan pernah ada dan terjadi tanpa sepengetahuan, izin dan ketentuan Allah SWT.. Jadi ya kami di sini berusaha legowo, ya udah, niatnya kan untuk menuntut ilmu kan ya... Bismillaahirrahmaanirrahiim aja.... :""")


#Nah, tulisan penutup ini sekaligus menunjukkan, bahwa saya dan suami tidak pernah berpendapat bahwa wanita yang sudah menikah itu nggak berhak untuk keluar rumah atau beraktivitas sosial. Apalagi tentang menuntut ilmu.
Kalau kata suami saya sih, "yang penting jangan sampai yang *sunnah pun tidak* itu justru mengalahkan yang *wajib* bagi istri, yaitu taat dan patuh pada suami..." :)

##Step selanjutnya adalah semakin giat latihan english dan french (saya memaksa suami saya buat ikutan nemenin saya les bahasa perancis, wkwkk... ^^)

*oh iya, bytheway, karna ada yang menanyakan... enggak, saya enggak berangkat sendirian kok. saya berangkat bareng teman akhwat saya yang bernama Annisa Aninditta Lathifah. Ada mahramnya, jadi tenang aja.. :) Dan suami saya justru sangat mendukung keberangkatan saya ini ^_^

Akhir kata,,, semoga postingan kali ini sekaligus mengclearkan postingan saya sebelumnya ya ^___^ 
see ya! ;)

8 comments:

  1. hahaha, shaa, aku jadi inget ceritamu kemarin yang tentang nggak dapet taiwan itu.... hahahaha... lucu bnget tauk :pp

    yaudah sih ya, sabar aje buk, moga2 diganti yg lebi baik yaah :B

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehee, aku tau nih yang ngomen siapa :p

      iyaa,, sabar dong, semangat dongg,,
      chayoo! ^__^b

      Delete
  2. wah jadinya tambah jauh sama suaminya ya..tapi bukanny kalo perempuan g boleh safar tanpa mahram kan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillaah ada temen mahramnya kok,, ada satu temen akhwat yang juga lolos program exchange ini... :D

      Delete
  3. mumpung aku ng yogya,
    syukuran..syukuran... #apa coba

    dadi lebaran besok, ga ada 'baby sitter' dong ya?
    alhamdulillah, pas lebaran ng Manggarai...

    ReplyDelete
    Replies
    1. lhoo, mbak han lagi di jogja?? kok aku nggak tau...? :O nginep dimana mbak? rumah mas hilman? :o

      hehee, iya mbak, kemungkinan lebaran taun depan pas nggak di indonesia,, tapi belum tau juga.. ^_^""

      Delete
  4. Tapi ka maaf setau aku mahrom itu harus laki2 nya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. tolong baca tulisan lanjutan saya di sini yhaa

      http://nizsasha.blogspot.com/2013/09/hukum-safar-untuk-perempuan.html

      Delete

Punya pendapat lain? Ada tanggapan? Atau kritikan?
Yuk, budayakan komen! ;) Mari berbagi pendapat.. :)

Tinggal ketik, post comment! Nggak perlu verifikasi ;D