Pages

Monday, January 23, 2012

Dokter bukan sekedar teori!

Kisah ini ditulis karna hari ini saya telah melakukan sebuah kealpaan bodoh dan saya sangat sangat menyesal sudah membiarkannya terjadi .__.

Jadi, semua berawal ketika negara api menyerang..
haha bercanda -,-"

Ulangi, jadi, semua berawal ketika kami (tim cemara, red) telah selesai melaksanakan tugas negara di sebuah sudut di parangtritis. Benar-benar tugas negara yang luar biasa (walaupun ada beberapa kendala pada awalnya, tapi tentu saja bisa diatasi dengan baik oleh kami #nggaya).

Nah, selesai melaksanakan tugas negara tersebut, kami melajukan rombongan motor menuju bantul sebagai pendaratan terakhir. Daaan disinilah awal mula kejadian dalam kisah ini.

Sudah hampir duapertiga perjalanan waktu itu, ketika tiba-tiba kami melihat ada insiden tak terduga di depan jalan. Kecelakaan parah. Dan korban-korban tergeletak tak berdaya tanpa ada satupun orang-orang disekitarnya berusaha menyelamatkan.

Refleks, kami semua langsung menepikan motor, dan saya (benar-benar tanpa pikir panjang) langsung meninggalkan motor begitu saja di pinggir jalan dan berlari mendekati korban-korban. Ada korban yang terlempar sampai di tempat sampah, dan ada juga korban yang masih tergeletak di jalan dengan darah mengalir dari kepalanya.

Safety first, response, and shout for help (peraturan utama penyelamatan).

Saya langsung berteriak meminta bantuan ke orang-orang sekitar untuk membantu memindahkan korban. Nggak ada tanggapan. Saya jengkel, lalu berusaha memindahkan korban itu sendirian (dan tentu saja nggak berhasil --'). Akhirnya dengan emosi yang agak naik, saya berteriak ke Mas Thoriq untuk ikut mencari bantuan, hingga terkumpullah beberapa orang penduduk sekitar (teman-teman saya yang lain mengamankan motor korban dan sebagainya). Dan ternyata, mengkoordinasikan penyelamatan bersama orang-orang yang bukan medis memang sedikit repot. Berkali-kali pengangkatan korban harus diulangi hanya karna tidak ada sinergi dalam movementnya, tapi its better than work on it alone lah ya.

Korban pertama teramankan. Lalu saya meminta seorang teman saya untuk mengamankan korban yang di tempat sampah sementara saya mencoba melakukan sesuatu untuk korban pertama. Saya melepaskan segala benda yang mungkin bisa menghambat aliran darah si korban, mulai dari sepatu, sabuk, dan lain lain. Saat korban pertama masih melenguh, saya berfikir mungkin itu karena jilbabnya yang ngepas banget sama kepalanya dan membuat leher tertekan. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk melepaskan jilbab si ibu itu demi melancarkan pernafasan. Jilbab lepas. Darah masih mengalir deras dari kepala. Dan JREEENG, saya mendadak blank apa yang harus saya lakukan.

Saya justru terdiam melihat kepala si ibu.

Mbak Yurat memanggil saya berkali-kali, "dek sasa, dek sasa, ini korbannya harus diapain lagi?"

Dan blank. still blank. forget what should i do for that victim. *menampar diri sendiri

"Telpon ambulan mbak, telpon rumah sakit, TELPON APAPUN YANG BISA NYELAMATIN IBU INI!" akhirnya saya mengambil keputusan untuk menyuruh mbak Wulan maupun mbak Yurat menelpon. Dan mereka kebingungan, "nomernya berapa dek??"

Masih kebingungan dengan nomer telpon ambulan, ibu itu tiba-tiba melenguh lagi, lebih keras dari yang sebelumnya. Oh great. Saya panik. Nggak akan mungkin sempat telpon-telponan sama ambulan atau rumah sakit.

"Mobil! tolong cari mobil! SEKARANG CARI MOBIL!! Ibu ini harus segera dibawa ke rumah sakit! Mereka harus ke rumah sakit!!" saya berteriak ke penduduk, memaksa mereka mau membantu penyelamatan.

Saat sebuah mobil bak terbuka berhenti di seberang jalan saya kembali berteriak ke orang-orang untuk ikut memindahkan korban ke mobil. Alhamdulillah pengangkutannya terasa sedikit ringan karna orang-orang yang menopang sudah bertambah dari jumlah yang sebelumnya.

Singkat cerita, korban-korban sudah terangkut semua ke mobil tadi, dan sayangnya kami tidak bisa menemani ke rumah sakit karena harus segera kembali ke peradaban.

Setelah mobil tersebut pergi, kami mulai membereskan sisa-sisa kecelakaan yang tersisa. Seorang penduduk mengatakan bahwa korban-korban tadi adalah korban tabrak lari sebuah truk, maka nggak heran kalau serpihan-serpihan motor mereka pun telak berceceran dimana-mana. Dan saat melihat mas Thoriq yang membersihkan tangannya (yang berlumuran darah korban) dengan air minum, saya tertegun. AIR. saya membawa air putih di tas saya. Dan saya LUPA untuk membersihkan kepala ibu tadi dengan air itu. GREAT.

Saya membuka tas saya, dan kembali menjerit sedih saat menatap benda di dekat air minum saya. SAYA JUGA MEMBAWA SLAYER DAN KAIN KECIL. Kenapa tadi nggak saya gunakan untuk menghentikan pendarahan??

Stres akut. Rasanya nyesel senyesel-nyeselnya.
Rasanya pingin marah -yang akhirnya saya lampiaskan dengan menampar pipi saya sendiri berkali-kali

Benar-benar sebuah pelajaran mahal. Pelajaran langsung tentang respon cepat ketika di lapangan. Sebuah pelajaran bahwa menjadi dokter itu BUKAN tentang teori! Tapi tentang kejernihan sikap dan tindakan ketika berhadapan langsung dengan kasus. Dan pelajaran bagaimana agar bisa semaksimal mungkin melakukan penyelamatan pertama saat ada kecelakaan.

Dan saya telah mengabaikan aturan itu. Penyelamatan saya masih sangat jauh dari maksimal. Kurang sekali malah.

Hufff. Semoga korban-korbannya itu selamat semua T__T Dan semoga lain kali saya bisa melakukan yang lebih baik dari tadi. aamiin

*next mission : latihan latihan latihan!! practices make perfect! \m/

No comments:

Post a Comment

Punya pendapat lain? Ada tanggapan? Atau kritikan?
Yuk, budayakan komen! ;) Mari berbagi pendapat.. :)

Tinggal ketik, post comment! Nggak perlu verifikasi ;D

Google+ Followers

Google+ Badge