Pages

Saturday, October 5, 2013

Gangguan Jiwa ada dimana mana

bismillaahirrahmaanirrahiim...

Ingin sedikit berbagi cerita-yang-tertunda tentang kuliah saya di blok kejiwaan ini.. :)

Jadi ceritanya, beberapa hari lalu saya komuda (koas muda) di RSJ Magelang (tepatnya di RSJ Dr. Soerojo Magelang). Ritualnya seperti biasa lah ya,, kumpul pagi -yang ngaret-, lalu perjalanan panjang, sampai sana ngobservasi pasien (atau mengobrak-abrik rekam medik =.=), diskusi dengan dokter, dan sebagainya sebagainya.

Nahh,, ketika di RSJ itu lah, saya baru tau kalau rata-rata (sebagian banyak) penderita muda yang masuk ke sana (dengan gangguan jiwa) itu dengan latar belakang masalah yang ada hubungannya dengan putus cinta a.k.a patah hati. Dan penderita lain ya dari kebanyakan permasalahan : sosial ekonomi dan sebangsanya.

Angka yang amazing banget yaa menurut saya....
Dalam hati langsung berteriak, "kok bisaa...??"

Akhirnya berniat untuk mengobrak-abrik data rekam medik pasien..
Kebetulan saya kebagian jatah di bangsal pria, bareng sama keempat teman saya yang lain..

Beberapa lama obrak-abrik rekam medik, ternyata pasien di bangsal itu kebanyakan diagnosisnya skizofrenia semua.. Yasudahlah nggak apa-apa.
*Untuk yang nggak tau, skizofrenia itu adalah diagnosis psikiatri yang menggambarkan gangguan mental yang ditandai oleh kelainan dalam persepsi atau ungkapan realitas... atau dalam bahasa gampangnya adalah kewarasannya udah nggak bisa bekerja lagi. Pernah lihat orang-orang di jalanan yang disebut *wong edan* dengan tampilan baju kotor lusuh dan gembel kan? Nah itu bahasa medisnya adalah penderita Skizofrenia.....

Waktu itu saya mendapat pasien bapak-bapak usia pertengahan (30 tahunan) yang datang karena dia ngamuk-ngamuk di rumahnya, semua barang dibanting, dan juga ada tindakan kekerasan yang lain.. Si bapak ini juga berhalusinasi kalau dia didatengin sama ibuknya yang sudah meninggal, dan diajakin buat nyusul mbahnya itu ke dunia sana... (syereem banget deh pokoknya)

Di data rekam medik terbaru (beberapa hari sebelum saya komuda), si bapak ini didiagnosis skizofrenia paranoid (F 20.0) karena dominasi halusinasinya itu.. Akhirnya saya buka-buka rekam mediknya yang tersimpan di lemari khusus (untuk pasien-pasien yang udah lama). Nggak nyangka,, ternyata si bapak ini sudah jadi penderita skizofrenia sejak tahun 2007 (lama banget yaa...) Lebih nggak nyangka lagi, ternyata si bapak ini dulunya orang yang rajin banget beribadah, bahkan rajin untuk dzikir maupun wirid pagi dan siang..

Berhubung saat itu si bapak baru aja kolaps (kambuh) dan tidak memungkinkan untuk diperiksa oleh anak-bawang seperti saya, ya saya buka-buka lagi deh itu rekam mediknya..

Di awal-awal dia datang diperiksakan ke RSJ, diagnosis awalnya masih Skizofrenia Tak Terinci (F 20.3). Dia datang karena banyak muncul halusinasi-halusinasi nggak jelas gitu. Setelah dianamnesis waktu itu, terungkap kalau beliau itu habis kena tipu di Malaysia.. Jadi ceritanya beliau bekerja di sana, punya temen/partner gitu, dan beliau ditipu berapa belas juta... Temennya kabur dengan mbawa uangnya sebanyak itu.

Waktu itu, beliau bilangnya, ya masih rajin itu dzikir dan wiridnya,, tapi kok ritualnya mulai aneh-aneh... Ya yang ke kuburan lah, dan sebagainya.. Pokoknya banyak halusinasinya... makanya beliau dibawa ke RSJ..

Yang jelas, meskipun sudah beberapa kali dirawat inap di sana, gejalanya itu sering kambuh lagi. Sempat sedikit sembuh dan menjadi Skizofrenia Residual (F 20.5) di awal tahun 2008, tapi langsung kambuh lagi 6 bulan kemudian.. Begituu terus berulang (kambuh-pulih-kambuh-pulih) hingga beliau sempat dinyatakan sembuh di Juli 2012.. Sayangnya, satu tahun kemudian beliau kambuh lagi dan bahkan jadi lebih parah, diagnosisnya berubah menjadi Skizofrenia Katatonik (F 20.2) dan sampai sekarang masih dirawat di RSJ..

Subhanallahh,,, saya nggak kebayang kalau saya yang jadi beliau.. Betapa luarbiasanya perjuangan untuk menghadapi penyakit itu sendiri.. Apalagi menilik kenyataan bahwa beliau nggak punya istri, dan keluarganya yang juga nggak mendukung, dan juga dengan status sosial ekonomi yang dibawah rata-rata.

Kita lanjut dengan kasus lain ya...
Kebetulan, ketika diskusi dengan dokter di bangsal itu, beliau memanggilkan salah satu pasien di bangsal itu yang bisa diajak bicara..
Akhirnya kita tanya jawab dengan bapak itu, walaupun awalnya ya sedikit takut juga, hehe

Alhamdulillahnya si penderita sedang stabil, jadi beliau kooperatif banget selama sesi tanya-jawab itu.. Beliau bahkan bisa bercerita tentang cerainya beliau dengan istrinya ketika beliau masuk ke RSJ, cerita tentang bagaimana masyarakat memperlakukan beliau, bagaimana anak-anak kecil mengejek-ejek beliau, bagaimana pak kepala dukuh membawa beliau ke RSJ, dan sebagainya, dan beliau ketika itu menceritakan itu semua bisa dengan santai seolah beliau sudah fine dengan kenyataan bahwa beliau itu penderita Skizofrenia.

Ketika saya tanya, sudah berapa lama di tempat itu (RSJ) pun beliau menjawabnya, "hahaha saya sih sudah sering banget mbak masuk ke sini.. Bolak balik masuk malah... Soalnya sering membanting-banting barang, dan juga pernah mukulin kepala saya ke kepala ibu saya.. pernah juga menendang anak-anak kecil di desa saya.."

Sewaktu dokter nyambung dan tanya, "menyesal nggak melakukan itu?"
Jawabnya, "ya saya menyesal dong, pak dokter.. kadang jadi sedih sendiri kalau ingat sama hal itu.. tapi ya gimana lagi, habisnya di sana (di lingkungan rumahnya) banyak yang sering ngejek-ngejek saya sih, ya jadi saya balas deh mereka."

Ya Allah.... ngeri banget ya...
Selama kuliah yang saya ikuti, saya memang taunya ya penderita jiwa (baik itu Skizofren, Depresi, Manik, dan sebagainya) itu harus dikontrol dengan obat jenisnya masing-masing.. Saya rasa RSJ pasti nggak akan lupa ngasih haloperidol ke pasiennya untuk rawat jalan,, tapi kan faktor eksternal (seperti lingkungan sosial begitu) siapa yang tau?

Kalau menilik angka banyaknya pasien yang kambuh padahal udah dinyatakan sembuh di RSJ (udah dinyatakan bisa dilepas ke lingkungan sosial kembali) dan udah dikasih obat kontrol, sepertinya yang memegang kunci itu ya justru lingkungan sosialnya itu sendiri... Apalagi kalau lingkungan sosialnya justru terstigma kalau si penderita adalah "alumni rumah sakit jiwa" dan memperlakukan si penderita dengan berbeda, pasti kambuh lagi lah itu depresinya si penderita, atau bahkan justru tambah parah.. Padahal kalau terkontrol baik, pasien Skizofrenia itu kan sama aja kayak penderita penyakit DM ataupun Hipertensi, nggak akan membahayakan kok..... (seperti bapak yang sedang tanya-jawab dengan saya itu)

Lanjut lagi ya....
Ketika komuda kemarin (ketika saya kabur dari bapak-bapak gangguan jiwa yang manggil-manggil nama saya terus -__-), kebetulan saya ketemu sama rombongan bangsal wanita yang baru selesai rehabilitasi dan mau kembali ke bangsalnya... dan kebetulan saya diseret sama seorang pasien mbak-mbak dan diminta untuk menemani dia ke bangsalnya (sepertinya saya punya daya magnetik ke penderita-penderita jiwa yaa....)

Ya saya ikut aja kan ya, orang tangan saya udah digandeng kenceng banget sama si mbak itu tadi (untung ada satu perawat yang juga khusus menangani mbak-mbak itu)

Lalu saya iseng menggali riwayat si penderita dan segala macemnya....

Ternyata,, si penderita mbak-mbak yang nggandeng tangan saya itu, dulunya adalah aktivis mahasiswa.. Dia bahkan pernah kuliah di beberapa tempat, dan sempat menjadi reporter majalah apaa gitu. 

Saya langsung kepikirannya ini penderita Afektif Bipolar yang episode manik,, dilihat dari tingkah lakunya yang hiperaktif dan sebagainya. Tapi beberapa detik kemudian kepikiran, jangan-jangan si mbak ini depresif juga, soalnya dia cerita kalau belum punya pacar gitu, dan minta tolong dicarikan pacar seorang dokter. Beberapa menit kemudian, saya jadi mikir lagi, jangan-jangan mbaknya ini juga waham kebesaran, soalnya dia cerita kalau dia itu keturunan keraton manaa gitu.

Luar biasa masyaa Allah pokoknya,,, menyadarkan diri sendiri dengan ucapan seorang dosen, "namanya orang dengan gangguan jiwa itu, diagnosisnya nggak akan hanya ada satu jenis. Yang menonjol mungkin memang cuma satu jenis, tapi sekali gangguan jiwa ya pasti akan ngikut lah itu gangguan-gangguan jiwa tipe yang lain.."

Yang lebih luar biasa lagi, si mbak ini sebenernya insightnya sudah bagus..
Karena waktu itu dia bilang, "wah yang ngantar saya ke bangsal ada banyak orang, kalau yang lain kan cuma didampingi sama satu perawat."
saya bilang, "seneng dong mbak, temennnya banyak... :)"
si mbak langsung bilang, "ya nggak seneng dong, kan saya pasien gangguan jiwa"

Jederrr....... T.T

Apalagi ketika kita beneran sudah sampai di bangsalnya, ada temennya yang sudah sembuh dan pamitan mau keluar RSJ, si mbak ini mendekati temennya itu dan bilang, "doakan saya juga ya supaya bisa cepat keluar dari RSJ..."

Masyaa Allah..... terharu pake banget.... T__T
Saya nggak nyangka aja, di dalam RSJ ini begitu banyaaak orang-orang yang sebenarnya juga sama seperti kita-kita, hanya saja lingkungan yang memang nggak bisa selalu mengerti kondisi ini..

Dan menurut kuliah saya pagi ini (fresh from the oven), prevalensi orang dengan gangguan jiwa ini buanyaak banget lho.... Menurut penelitian WHO, dari sekitar 100 orang normal, 20-30% itu ternyata menderita gangguan jiwa.. Dan golongan gangguan jiwa menurut PPDGJ itu luas banget,,, bisa orang depresi, orang yang phobia dengan sesuatu, orang pasca trauma, orang dengan perubahan mood yang cepat, orang dengan kekhawatiran yang berlebih, dan lain lain. (jangan-jangan di antara saya atau teman-teman yang baca blog ini juga ada yang terindikasi gangguan jiwa nihh,, o_o hehehe)

Dan masih menurut kuliah luar biasa pagi ini, dokter Warih bilang kalau keluarga dan lingkungan sangat sangat berpengaruh serta turut andil dalam peran serta ke orang-orang di sekitarnya untuk menjadikan mereka ini berpotensi gangguan jiwa..

Contoh pasien beliau...
Ada seorang anak yang merupakan cucu pertama, lalu dimanja-manja sama orangtua dan nenek kakeknya, apa-apa selalu dinomorsatukan. Ketika si anak ini masuk dunia persekolahan, kok gurunya nggak menomorsatukan dia,, kok teman-temannya yang justru diminta untuk maju ke depan, bukan dia. Akhirnya dia jadi mengkambinghitamkan sang guru, dia bilang gurunya nggak suka sama dia. Lambat laun dia jadi mogok sekolah, alasannya sih sakit, padahal ya enggak. --> masuk ke diagnosis gangguan somatoform (F.45), yaitu adanya keluhan-keluhan mengenai fisik yang diutarakan, tapi sebenernya semua pemeriksaan fisik menyatakan hasil negatif.

Ada lagi seorang mahasiswa laki-laki (yang baru saja selesai skripsi) yang beberapa bulan ini nggak mau keluar rumah.. Setelah dikasih farmakoterapi, dan akhirnya mau dikonseling, berceritalah dia tentang kekecewaannya ke orangtua.. Tentang dia sebenernya mau masuk jurusan psikologi tapi sama orangtuanya dipaksa untuk masuk ke teknik.. Tentang kegemarannya olahraga taekwondo tapi dilarang orangtuanya karena jadwalnya yang selalu malam hari.. Juga tentang keinginannya untuk memelihara hewan tapi nggak pernah diijinkan sama orangtua.. Akhirnya si mas ini sekarang nggak punya inisiatif sama sekali, bahkan di rumah ya cuma duduk di kursi dan nggak melakukan apa-apa. Saat dokter Warih menawarkan berbagai macam kegiatan ke dia, dia bilangnya nggak mau. Dia nggak mau kecewa lagi karena keinginannya itu ditolak lagi untuk yang kesekian kalinya oleh orangtuanya.

Dan banyak sekali penderita-penderita lain, yang sebenarnya ada di sekitar kita, tapi sering sekali nggak terdiagnosis atau terdeteksi.. Karena ciri khas gangguan jiwa itu ya baru kelihatan kalau sudah kronis atau parah banget, kalau masih awal-awal ya nggak akan kelihatan.. Bahkan, 40% orang yang datang ke puskesmas dengan keluhan fisik, itu sebenernya gangguannya ada di jiwanya lho.. Sayangnya dokter umum banyak yang nggak punya keterampilan psikiatri, jadi ya baru ketahuan kalau penderita-penderita itu adalah penderita jiwa ya kalau mereka itu udah meninggal karena bunuh diri.....

Miris banget ya.....
Yang lebih saya tekankan di sini ke temen-temen (berhubung nggak semuanya di profesi kesehatan) ya lebih ke kewaspadaannya aja ke teman-teman kalian yang lain atau ke lingkungan di sekitar kalian.. Dari cerita di atas bisa ditarik kesimpulan ya, walaupun ada stressor utama yang memicu si penderita untuk menjadi depresi, tapi faktor lingkungan sangatt berpengaruh ke prognosis penyakit jiwanya..

Kalau ada teman yang sedang sedih, ya tolong diajak ngobrol, ditemani,, jangan sampai dia menjadi gangguan depresi nantinya... Kalau ada teman yang kelihatan mulai menjauh ya tolong didekatin, jangan sampai dia bermanifes menjadi skizofrenia di lain waktu..

Bahkan, ada teman dari dokter Inu (dosen saya sore tadi) yang terkena skizofrenia, padahal awalnya temannya itu cuma bermasalah karena ditolak sama wanita.... dan padahal lagi, temannya itu dulunya adalah mahasiswa terjenius di angkatan beliau (iya, si teman tadi itu juga kuliah di kedokteran..)

Subhanallaah..... kalau seperti itu lalu kita mau menyalahkan siapa? menyalahkan dia?
Yang namanya orang itu ya stressornya kan masing-masing,, dan ketika ada stressor yang nggak kuat untuk dia tangani, ya dia butuh orang lain untuk membantu dia, untuk menjaga jiwa dan pikirannya supaya nggak melenceng di luar garis..

Lha kalau orang-orang di sekitarnya (yang dia harapkan) aja nggak peduli dengan dia, lalu salah siapa?
Teman dokter Inu ini juga awalnya masalahnya cuma sepele banget kan : cintanya ditolak. Udah itu aja.

Mungkin untuk teman-temannya (yang mengetahui sejarah kepintaran beliau di dunia perkampusan) masalah itu mereka anggap sepele : Ah, orang yang ujian anatomi nggak usah belajar tapi dapat nilai tertinggi begitu pasti nggak ada masalah dong dengan masalah cinta remeh seperti itu.

Permasalahannya sekarang bukan cuma ke permasalahan cinta-remeh ini. Tapi guncangan jiwa yang sedang dihadapi beliau. Mungkin, bagi beliau yang biasanya mendapatkan apa yang beliau inginkan, permalahan ini jadi sebuah stressor baru yang belum pernah beliau jumpai. Makanya, beliau butuh banget orang lain yang sekiranya bersedia menjelaskan ke beliau tentang itu, dan menemani beliau melewati masa-masa itu.

Kedengarannya simpel yaa,,, tapi beliau ternyata nggak mendapatkan itu tuh,.....
Dan efeknya? Beliau nggak lanjut lagi pendidikan dokternya, dan sekarang menggelandang seperti orang gila (karena beliau positif Skizofrenia Paranoid), berpakaian lusuh dan jalan-jalan nggak jelas arahnya. Siapa yang menyangka kalau beliau itu dulunya orang yang sangat jenius serta selalu membuat iri teman-teman seangkatannya (yang teman-temannya itu sekarang justru sudah mengambil spesialis semua)?

Untuk yang mau cerita lengkapnya bisa baca di blog dokter Inu: 

Pantas aja ya,, kewajiban habluminannaas itu ditaruh setelah habluminallaah....
Apalah arti habluminallaah kalau habluminannasnya jelek,, kalau dia masi suka mendzolimi orang sekitarnya, dan lain lain..

Subhanallah....
Semoga kita terhindar dari ikut andil berbuat dzolim ke orang di sekitar kita ya...
Semoga nggak ada yang jadi tersakiti mental ataupun jiwanya karena sikap atau ucapan kita..
Dan semoga kita semua juga selalu dijaga kesehatan mental dan jiwanya oleh Allah......
aamiiin.......

jangan pernah biarkan orang di sekitar kita merasa bahwa mereka itu sendirian.......
Hmmm, jadi tertarik buat ambil spesialisasinya ke kejiwaan nih.... apalagi bisa jadi bekal buat menghadapi anak-anak saya besok, kalau jadi psikiatri insyaaLLoh kan pasti tau lah ya gimana tips dan trik mengasuh dan mendidik anak supaya sehat jiwa mentalnya...... (thinking) #Semoga Allah memilihkan jalan yang terbaik...... :")

6 comments:

  1. MasyaAllaah.. Nice sharing, Sha..
    Kesimpulan yang bisa diambil; jangan meremehkan masa depan, karena kebaikan yang kita dapat sekarang belum tentu tetap berlaku di masa depan.

    Jazaakillahu khoyr, remindernya.
    Baidewei, kok dari ciri-ciri gangguan jiwa di atas ada dua ya yang masuk ke saya, jangan-jangan.... hahahah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillaah,, wa anti fajazaakillahu khayr,,,
      smoga postingan ini bermanfaat ya... ^^

      iya nih, saya juga ada sekitar dua atau lebih ciri gangguan jiwa kayak diatas itu, jangan-jangan............... o___o"

      Delete
  2. Ya ampun, ngeri banget ya Shaa.... -____-
    Bener2 harus hati-hati banget ya memperlakukan orang2 di sekitar kita, salah2 malah kita yang bikin dia jadi gila (atau kita sendiri yang gila?) huaa naudzubillaah deh -___-

    Lanjutkan ya Shaa, suka baca postingan2mu! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. emmm, ini siapa ya...? hehe..
      iya emang ngeri banget,, mulai sekarang harus lebih waspada lagi nih,, baik ke orang sekitar maupun ke diri sendiri...hm hmmm... :)

      insyaaLLoh,, stay tune ya... :D

      Delete
  3. klo berhubungan dengan anak, banyak nis yg pengen dipelajari..
    ilmu psikologis, ilmu kedokteran anak, ahli gizi, tumbuh kembang anak, tahfidznya, dkk, dkk..
    InsyaALLAH semua bermanfaat kok... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe iya mbaak,, PR seorang istri aja udah banyak banget ya,, apalagi PR seorang ibu,,, never ending learning pastinya.... ^___^

      Delete

Punya pendapat lain? Ada tanggapan? Atau kritikan?
Yuk, budayakan komen! ;) Mari berbagi pendapat.. :)

Tinggal ketik, post comment! Nggak perlu verifikasi ;D

Google+ Followers

Google+ Badge