Pages

Monday, December 6, 2010

dunia ketigaku ..

Pagi nan indah..
demi matahari dan cahayanya di pagi hari
dan langit serta pembinaannya
dan bumi serta penghamparannya
dan jiwa serta penyempurnaannya ..

Pagi yang istimewa,
dengan kebersamaan bersama teman-teman FLP berbagai angkatan sedari kemarin, pagi ini sungguh terasa luar biasa..
Pagi itu (061210) bagiku memang terasa istimewa,
dan juga terasa damai,
tak menyadari bahwa akan ada kejadian yang ternyata terus mengusik fikir dan hatiku hingga sekarang.

Pagi itu, selesai mendaki perbukitan bersama teman-teman, kami kembali ke wisma, bersiap untuk rangkaian acara selanjutnya..

Mentari mulai merangkak naik, semua sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, saat tiba-tiba salah seorang mbak mendekatiku, mengajakku berbicara..
Dan berhubung aku berada di posisi panitia -sie acara- jadi aku merasa tak perlu buru-buru mandi, kupersilahkan peserta untuk menggunakan kamar mandi terlebih dahulu, dan aku memilih untuk menemani mbak A berbincang..

Awalnya kami mengobrol ringan, bercanda ngalor ngidul tak karuan, sampai membicarakan acara FLP yang alhamdulillah berjalan tanpa halangan. Hingga akhirnya mbak A melontarkan sebuah pertanyaan padaku -atau pernyataan?-

"Dek sasa,, mau nggak mbak kenalkan dengan seorang teman?"

..Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain..
"Eh? Ya nggak apa-apa mbak.. Memangnya siapa teman mbak itu?"

"Hanya seorang sahabat.. Dia sekarang di kedokteran UGM, sudah koas, setahun lagi lulus.. Nah, dek sasa juga mau ke kedokteran UGM kan? Siapa tau nanti dia bisa menjaga.."

"Menjaga? Pergaulan kah? InsyaAllah mbak.. Akhwat ya?"

"Bukan dek, ikhwan"

"Lha?"

"Siapa tau jodoh dek.."

Jeder. Pagi mulai menjadi suram.
"Waduh. Maksudnya apa itu mbak? Adakah suatu keperluan sehingga aku berkewajiban untuk mengenalnya?"

..to be continue. belum sempet nulis. dan bingung gimana mau mengungkapkannya dengan kata -,-a

Friday, December 3, 2010

pelajaran mahal dari Ayah yang berharga.. :)

Senin, 29 November 2010
08.30
SMS dari Bunda masuk "Mbak Anis siap2 ya, Ayah jadinya dioprasi besok pagi, nanti sore kita berangkat ke Jakarta. Mbak Anis nanti jam 12 ke Purworejo dulu ya"

Kaget. Ayah memang udah sampai di RS Harapan Kita sejak minggu lalu, untuk cek kondisi tubuh danlainlain, tapi kemarin malam aku dapat berita dari Bunda kalau operasinya dimundurin harinya. Dan SMS ini termasuk mendadak, karena aku bahkan belum packing dan segala macam.

Tidak mau terlambat, aku segera ke loby, meminta surat izin, dan langsung pulang begitu bel istirahat pertama berbunyi. Beruntung teman-teman sekelasku udah tau tentang kondisi Ayahku, jadi begitu kubilang "aku izin mau ke Jakarta" mereka langsung mengerti dan turut mendoakan kesembuhan Ayah (cozy).

09.30
Sampai di rumah aku bergegas packing, membawa 4 pasang baju dan tak lupa buku-buku pelajaran (supaya keliatan rajin ^_^). Saat sedang packing itulah handphone-ku menderingkan nada SMS berkali-kali. Begitu kubuka, subhanallah, ada berpuluh pesan masuk dari teman-teman FLP. Pesan itu memang singkat, tapi sungguh penuh makna dan cinta kasih. Pesan-pesan itu berisi beragam doa, dirangkai dengan kata-kata buatan mereka sendiri, tak lupa disertai doa-doa yang diambil dari Al-Qur'an.. benar-benar indah.. membuatku semakin sayang terhadap keluargaku ini.. :')

Singkat cerita, aku, bunda, dan om Yudi akhirnya sampai juga di Jakarta.
Selasa, 30 November 2010
02.45
Kami langsung menuju RS Harapan Kita, sekedar say Assalamualaykum kepada Ayah, dan sedikit cerita ngalor-ngidul tentang persiapan operasi.
Dan kulihat mata itu. Mata berair Ayah, yang sebenarnya tidak menginginkan operasi ini dilakukan.

Aku sangat mengerti bahwa operasi itu berat Yah,, apalagi dengan kasus penyakit seperti Ayah ini,, ini bahkan pertaruhan hidup dan mati.. Tapi bukankah tugas manusia adalah untuk berusaha semaksimal mungkin? Aku yakin Ayah kuat, aku yakin Allah bersama kita.. kuucapkan itu lembut sembari memegang tangan Ayah. :')

07.00
Aku dan Bunda datang lagi ke RS Harapan Kita, ke kamar Ayah, berusaha menyemangati Ayah di detik-detik menuju operasinya ini. Rencana operasi akan berlangsung dari jam 08.00, dan kata dokter, jika tidak terjadi masalah, maka operasi akan selesai dalam waktu 5-6 jam.
Kulihat Ayah melakukan shalat dhuha bahkan lebih dari 4 rakaat pada saat diminta dokter untuk bersiap-siap.
Lindungilah kami Ya Rabb.. Jagalah Ayah..

13.00
Ayah belum keluar dari ruang operasi. Aku dan bunda masih mencoba khusnudzon,
mungkin satu jam lagi..

14.00
Bapak-bapak yang masuk ruang operasi setelah Ayah bahkan telah keluar dari ruang operasi dan keluarganya diminta ke ruang ICU, sementara Ayah sama sekali belum ada kabarnya..

17.00
Aku dan bunda mulai deg-degan. Banyak SMS dari kerabat yang menanyakan kondisi Ayah pasca operasi, yang bahkan kamipun belum mengetahui kabar Ayah yang sebenarnya. Bunda memaksa masuk ke ruang ICU, mengecek semua kamar untuk mencari Ayah, tapi percuma, Ayah belum masuk ruang ICU.. Bukankah Ayah belum selesai operasi? pikirku khusnudzon.

Aku menemani Bunda menunggu di depan ruang ICU karna Bunda nggak mau diajak duduk kembali di ruang tunggu. Penjaga ruang ICU saat itu mendatangi kami dan berkata "Manusia itu tugasnya berusaha,, tapi apapun hasilnya kita serahkan padaNya, karna Dialah yang memiliki takdir.."

Aku stres mendengarnya.
Kalaupun ada yang harus-dan-pantas disalahkan jika terjadi apa-apa pada operasi Ayah, aku lah orangnya. Aku lah yang telah memaksa Ayah untuk melakukan operasi. Ya Rabb..

17.30 -menjelang maghrib
Berita bahagia itu akhirnya datang. Setelah lebih dari 9 jam Ayah berada di ruang operasi, akhirnya operasinya selesai :D

Bunda langsung mencari dokter bedahnya demi meminta penjelasan tentang waktu operasi yang begitu lama.

Ternyata, kata dokter, jantung Ayah bukan hanya tersumbat, tetapi ada bagian jantung yang telah mati. Sehingga apabila pasien lain biasanya hanya butuh penyambungan 1-2 pembuluh darah, jantung Ayah ternyata harus disambung dengan 5 pembuluh darah yang baru. Beruntung kondisi tak terduga itu dapat diatasi dengan baik oleh dokternya. *dokter emang kereeen :DD
Dokter juga berkata, insyaAllah Ayah akan sadar dalam waktu 6-8jam,
dan selama pendarahan di jantung tidak berlebihan, insyaAllah tidak perlu dilakukan operasi ulang..
Aku dan Bunda akhirnya bisa bernafas lega.
Setelah shalat magrib, makan, shalat isya', danlainlain, kami kembali ke ruang tunggu, siapa tau Ayah membutuhkan obat tambahan atau apa.

21.00
4 jam setelah operasi, kami dipanggil ke ruang ICU, ke tempat Ayah,
aku sudah takut akan terjadi apa, jangan-jangan terjadi pendarahan atau apa seperti kata dokter tadi :((

dan disanalah aku melihat sesuatu yang menyentuh hati.

Saat itu adalah untuk pertama kalinya Ayah membuka mata sejak keluar dari operasi,
dan di tempat tidur itu, dengan dibalut banyak sekali selang dan alat kedokteran,
Ayah melakukan shalat magrib dan isya', begitu khusyu dan khidmat,
seakan tak ada masalah yang sedang dihadapinya saat itu.. :')

Kami melihat kejadian itu dengan hati terenyuh,
betapa besarnya cintamu padaNya Yah.. kejadian itu benar-benar membuatku cemburu..

Selesai shalat, Ayah memanggil suster, seakan tak menyadari kehadiranku dan Bunda,
dengan lirih Ayah berkata "Suster, besok tolong bangunkan saya jam 3, saya ingin shalat tahajud.."

Ah,, begitu mulianya engkau Yah.. Aku menangis, Bunda tersenyum pelan dan mengajakku keluar dari ruang ICU, takut akan mengganggu waktu istirahat Ayah yang saat itu mulai memejamkan matanya.. Aku menurut, melihat Ayah sudah sadar saja bahagianya bukan main :)

Rabu, 1 Desember 2010
08.00
Kami datang kembali ke ruang ICU, berniat untuk menemani Ayah sarapan,
tapi lagi-lagi kami dikejutkan oleh sesuatu.
Di saat pasien-pasca-operasi yang lain sedang disuapkan makanan oleh para perawat atau keluarga mereka, Ayah justru sedang sarapan sendirian, menggunakan tangannya sendiri, padahal selang yang terpasang di tubuh Ayah bahkan lebih banyak daripada pasien yang lain.


Antara senang (Ayah sudah sadar sepenuhnya) dan bingung (kenapa kok Ayah udah bisa makan sendiri? -___-a)

Aku bergegas mendekati Ayah (sementara Bunda pergi berkonsultasi dengan dokter) dan menawarkan diri untuk membantu dengan cara mengambilalih sendok yang sedang dipegang Ayah, tapi Ayah menukas "Allah menyukai seseorang yang melakukan sesuatu yang meskipun sedikit, tapi dilakukan secara terus menerus. Jangan dipikir Ayah dioperasi terus mbuat Ayah jadi nggak bisa apa-apa. Itu salah besar. Bahkan cara seperti inilah yang bisa membuat Ayah cepat sembuh, semua dilakukan sendiri, sekecil apapun itu."

Aku cuma bisa diam. Bahkan disaat-saat seperti inipun Ayah masih saja mengingat hafalan Qur'an dan hadistnya untuk mengajariku, dan saat ini aku nggak tau harus menanggapi perkataan Ayah dengan hadist yang mana -__-

Akhirnya aku meletakkan kembali sendoknya -yang langsung diambil oleh Ayah- dan menawarkan bantuan dalam bentuk lain, yaitu mengambilkan minuman dan menyeka ceceran makanan Ayah dengan tisu. Beruntung kali ini Ayah tidak menolak :D

Di tengah sarapannya, saat aku sedang membersihkan sisa makanan yang berceceran, Ayah memintaku untuk mendekat. Ingin membisikiku sesuatu nampaknya.

"Mbak Anis jadi seperti Mas Lutfhan ya.. Mas Lutfhan itu pekerja keras, nggak pernah mengeluh, bahkan di saat-saati terburuknya pun dia nggak pernah menunjukkannya didepan adik-adiknya.. Jadilah seperti Mas Lutfhan.. demi dek Lia dan dek Arif.."

Tak kuasa kucium juga dahi Ayahku penuh kasih. Sungguh, aku cinta padamu Yah..
Ayah benar-benar tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, sedikitpun tidak pernah, bahkan disaat seperti inipun yang diingatnya tetaplah anak-anaknya. Ana uhibuka fillah, Ayah.. :')

Meskipun tak mungkin bagiku untuk menjadi sesempurna Mas Lutfhan -kakak sepupuku, lulusan terbaik Tehnik Elektro ITB dengan segudang prestasi- tapi aku akan mencoba Yah, demi Ayah, demi Bunda, dan demi adik-adikku.
Terimakasih Yah telah mengingatkanku ke tujuan semula hidupku.. :)