Pages

Wednesday, September 12, 2012

CERPEN-- Secangkir Kopi Terakhir (2)

Secangkir Kopi Terakhir
Annisa Fitriani

“Kenapa kau sangat suka kopi?”

“Aku menyukai kopi, seperti aku menyukai kupu-kupu,” aku berkata, setelah mengawang panjang. “Warna kopi selalu mengingatkanku pada warna kupu-kupu, bahkan warna langit malam. Dan warna itu pula yang selalu mengingatkanku kepadamu.”

“Kenapa?”

“Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan bintang malam. Aku selalu membayangkan ribuan bintang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

“Tapi aku tak pernah merindukanmu,” katamu sambil tersenyum.

“Bohong..”

“Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Aku memandang nanar. Seolah tak yakin apa yang ku dengar salah atau benar. Bohong bagiku adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ku lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehku..

“Tidak. Aku tidak bohong.”

“Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Aku tak menjawab, bergegas menghabiskan french fries ku. Rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila aku merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah mengalihkan topik bicara dapat menyembunyikan kebohonganku. Tapi aku tak bohong kalau aku bilang mencintainya. Aku hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesakku. Karena aku tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan kebersamaan, dia pasti akan bertanya:
“Apakah kau akan menikahiku?”

Aku menyukai Raisa. Tapi, sungguh, aku tak pernah yakin apakah aku menyukai pernikahan. Kemudian aku akan berteka-teki, ”Apa persamaan kopi dengan kupu-kupu?”

Dia menggeleng.

“Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kupu-kupu, aku akan menyimpanmu dalam toples kecil. Kau akan terlihat anggun dan menawan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta secangkir kopi, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.”

Seperti aku tak pernah meminta perpisahan yang getir..

Hening lama.

“Aku mencintaimu,” ia memecah sunyi, “tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu..”

***

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat aku tau, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ku cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan diriku—pada saat itulah aku menyadari aku tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu yang mengembara dari kesepian yang satu ke kesepian yang lain. Kupu-kupu yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah aku berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kupu-kupu yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kupu-kupu itu slalu-dan-masih ingin hinggap di pundaknya. Sementara suaminya tertidur pulas di sampingnya.

***

“Aku mencintaimu,” ia memecah sunyi, “tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu..”

“Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan baik daripada aku menikah denganmu.”

Aku melengos ke arah lain, mulai membenci pembicaraan ini.

“Dia laki-laki yang baik, dari keluarga baik-baik. Dia melamar dengan cara baik-baik pula. Bahkan –kau tau?— dari dia juga, aku menyadari bahwa cara yang kita jalani selama ini salah. Kita merasa benar dengan semua pertemuan ini, dengan semua khayal dan candaan selama ini. Tanpa kita sadar bahwa Yang Menciptakan tak pernah merestui cara ini.”

Aku semakin jengah, masih tak mau menolehkan kepala untuk memandangnya.

“Kau juga, menikahlah.. Temukanlah seorang wanita baik-baik, dan menikahlah dengannya. Lamar dia dengan cara baik-baik, jaga kesucian dan kehormatannya baik-baik, aku yakin pasti kau tak akan lagi memandang pernikahan sebagai sesuatu yang buruk. Ingatlah usiamu yang semakin bertambah.. Jika sampai tahun depan kau belum juga menikah, aku yang akan mencarikan calonnya untukmu.

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat kami terakhir bertemu.

“Jangan hubungi aku lagi, Raisa. Pergilah.”

***

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, aku ada di kafe kenangan ini. Kafe yang berharum khas. Kafe yang mengantarkanku pada sebuah percakapan ringan yang menyenangkan. Kafe yang selalu membuatku meneguk kenangan dan kupu-kupu dalam kopi.

Ini cangkir kopi ketiga, desahku, seakan itu kenangan terakhir yang bakal kureguk. Hidup, barangkali, memang seperti secangkir kopi dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika aku sebenarnya tau masih bisa ada cangkir keempat dan kelima?

Ini cangkir kopi keenam!
Dan aku masih menunggu.

====to be continue====
Baca selengkapnya di Buku Kumcer "Pintu Hati dan Pintu Langit" (dalam proses editing)
:)

No comments:

Post a Comment

Punya pendapat lain? Ada tanggapan? Atau kritikan?
Yuk, budayakan komen! ;) Mari berbagi pendapat.. :)

Tinggal ketik, post comment! Nggak perlu verifikasi ;D

Google+ Followers

Google+ Badge