Pages

Tuesday, July 19, 2011

Panggilan Akhwat VS Akhwat Panggilan

Panggilan Akhwat VS Akhwat Panggilan

Cermin I

A: eh, dia akhwat bukan sih?
B: emang kenapa?
A: nggak papa sie…cuma, koq gak pernah ikutan kajian dan ta’lim di masjid ya? Di acaranya SKI juga gak keliatan? Di kegiatan-kegiatannya LDK juga ga pernah nongol..
B: mungkin amanahnya di tempat lain. Kan, ada amanah ortu, belajar!
A: tapi, hijabnya koq longgar banget ya? Gak cuma ke ikhwan, ke temen-temen cowoknya juga..
B: biarpun begitu, dia tetap aja akhwat. Buktinya, dia pake jilbab lebar, baju longgar, manset, kaos kaki…
A: tapi dia bisa mencoreng citra baik jilbaber yang selama ini sudah dibangun akhwat-akhwat yang lain
B: udah deh, pokoknya dia tu akhwat. Titik!
A: ya iyyaalaah…masa ikhwan?!

Cermin II

Surabaya hari ini panas sekali. Nisa baru saja tiba di kontrakannya sehabis menyebarkan proposal kegiatan yang akan diselenggaran LDK-nya bulan depan. Fyyuuh…keliling-keliling Surabaya di tengah hari siang bolong begini bukan hal yang mudah. Istirahat dulu ah, batinnya. Belum sempat ia memejamkan mata, Sony Ericsson K608i-nya sudah menjerit-jerit minta diangkat. “Ukhti_Lila” tulisan di layar ponselnya.
“Assalamu’alaykum warahmatullah..” sapanya.
“Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh. Ukh, ana minta tolong ya..ane gak bisa ngisi mentoring di SMA hari ini. Mendadak dosen minta jam kuliah dimajukan, ane giliran presentasi nih…anti bisa kan gantiin ane ngisi mentoring, adek-adek dah nunggu dari tadi, plis ya ukh..afwan jiddan nih, dadakan”, suara orang di seberang sana dengan nada memelas.
“Ga papa, ane ngerti koq. insyaAlloh, ana segera ke sana. Anti fokus ma presentasi anti aja ya..”
“Jazakillah khaira ukhti. Titip adek-adek ya…Wassalamu’alaykum..”
“‘Wa’alaykumsalam warahmatullah..”
Ia kenakan kembali kaos kaki yang baru dilepasnya. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan ponselnya yang lagi-lagi berderit. Kali ini sebuah pesan diterima, akh_hafidz.
“Assalamu’alaykum wr.wb..af1, RALAT: Syuro koordinasi acara SKI jurusan dimajukan hari ini, ba’da ashar. Bagi semua panitia, dimohon kesediaannya untuk hadir. Syukron! Ketupel.”
“Kalo gitu, habis mentoring langsung ke masjid aja..”, ucapnya pada diri sendiri. Nisa pun segera bergegas keluar rumah, belum sempat ia membuka pintu, tiba-tiba ada suara memanggilnya..
“Mbak Nisa, jangan lupa ya ntar malem, ba’da maghrib, ada syuro kontrakan. Biasalah..evaluasi semua sie, agenda Depag macet nih, keuangan juga menipis, kayaknya bulan ini kita nambah jatah deh, tagihan listrik ma telpon bengkak”, adu Wiwin, adek kelas satu tingkat di bawahnya yang juga satu rumah dengannya. Maklum, Nisa juga seorang mas’ul di kontrakan.
“Ya, insyaAlloh dek, mbak akan segera pulang. Nanti kalo mba telat, dihandle dulu ya..tapi mbak usahakan on time. Okey? Mba berangkat dulu ya, mau mentoring sekalian syuro SKI. Assalamu’alaykum…”
‘Wa’alaykumsalam warahmatullah…hati-hati ya mbak…”

Hmm.. Dua cermin di atas mungkin pernah kita temui, atau bahkan cerminan diri kita sendiri. Cermin pertama mengajak kita untuk melihat sosok akhwat yang berpenampilan serba akhwat, dipanggil akhwat, tapi ‘kurang’ mencerminkan sikap dan karakter seorang akhwat (ngerti kan sosok ‘akhwat’ yang ane maksud di sini?). Nah kalo di cermin kedua, kita diajak berkaca pada akhwat yang aktivis. Ada wujud amaly (kerja nyata) di sana. Bagaimana seorang akhwat dapat mengatur waktunya, tawazun pada semua amanahnya, bersegera menyambut seruanNya, dan yang terpenting, bisa menjaga keistiqomahan dan keikhlasannya. Dua-duanya sama-sama akhwat, tapi berbeda tipe. (Ah, pembaca pasti lebih paham dan sudah cukup pandai menilai sendiri).

Ukhti, kita harus siap menjadi akhwat “panggilan”, istilah panggilan di sini tentunya bukan sembarang panggilan, tapi panggilan Alloh SWT, panggilan da’wah, panggilan jihad, dan semua panggilan menuju pintu kebaikan. Di balik jilbab lebar dan baju longgar, seorang akhwat punya tugas besar! Ada amanah Alloh ‘Azza wa Jalla yang juga wajib kita (kaum hawa) emban. Ya, dakwah! Buktikan kalo kita benar-benar seorang akhwat! Akhwat yang benar-benar akhwat! Akhwat yang da’iyah! Akhwat juga milik umat sekaligus pelayan bagi mereka.

Ukhti, jangan hanya cukup berlindung di balik jilbab lebarmu!
Jangan pernah puas dengan bersembunyi di belakang jubahmu!
Tunjukkan bahwa kau adalah akhwat sejati dambaan ummat! Sambut seruanNya dengan semangat dan tekad kuat. Bukankah tujuanmu adalah Negeri akhirat?!
Kau kah itu yang mendamba menjadi bidadari syurga? Maka berlelah-lelahlah sekarang, bersakit-sakitlah saat ini, karena kenikmatan yang abadi, insyaAlloh akan kita rasakan di jannahNya nanti…amin!

So, gimana ukhti? Siap jadi akhwat panggilan? Atau, Anti hanya bangga dengan panggilan akhwat?

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” (Al-Mu’minun: 61)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (Al-‘Imran: 133)

Keep fighting, ukh! Allohu Akbarr!!!!

Sumber:
dikirim oleh seorang ukhti ke email saya beberapa hari yang lalu…

1 comment:

Punya pendapat lain? Ada tanggapan? Atau kritikan?
Yuk, budayakan komen! ;) Mari berbagi pendapat.. :)

Tinggal ketik, post comment! Nggak perlu verifikasi ;D

Google+ Followers

Google+ Badge