Pages

Showing posts with label ceritaku. Show all posts
Showing posts with label ceritaku. Show all posts

Friday, July 25, 2014

Hidup adalah Kesempatan Membuat Pilihan

bismillahirrahmaanirrahim...
alhamdulillah,, akhirnya menyentuh blog ini lagi... :)

Tulisan kali ini ingin saya dedikasikan untuk semua orang yang sedang berjuang dengan takdirnya masing-masing..

Takdir, sesuai pelajaran yang saya dapat dari SD, terbagi menjadi dua, yaitu takdir mubram dan takdir mu’allaq. Takdir mubram adalah takdir yang nggak bisa diubah, sifatnya absolut, contohnya pergerakan matahari dan bulan, bernafasnya manusia dengan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, dan sebagainya. Sedangkan takdir mu’allaq adalah takdir yang bisa diubah, sifatnya relatif, contohnya kekayaan, kecerdasan, dan lain-lain.

Sayangnya, terkadang nggak semua yang kita inginkan bisa kita peroleh, karna bisa jadi nggak semua ujung dari ikhtiar seperti yang kita rencanakan di awal.. Seperti misalnya ketika kita merangkai hidup 1+1 kemudian angka 2 yang diharapkan terjadi namun tidak selamannya seperti itu, karena pada akhirnya takdir Allah lah yang akan terjadi..

Saya masih sangat ingat bagaimana takdir-takdir Allah dulu membentuk saya..
Seperti ketika dulu saya menginginkan untuk melanjutkan sekolah di SMA 3 Padmandaba, qodarullah ternyata orangtua lebih menghendaki saya di SMA 1 Teladan. dan ketika kehendak Allah ternyata sejalan dengan keinginan orangtua, maka terjadilah...

Akhirnya saya bersekolah di tempat yang ketika awal-awal tahun pertama ada kakak kelas yang menegur saya karena kaos kakinya kelupaan, atau karena jilbabnya kurang panjang, dan lain sebagainya.

Meskipun pada akhirnya saya sadar, ternyata Allah menaruh saya di tempat itu dengan berbagai macam kebaikan yang Ia siapkan... karena di tempat itulah akhirnya saya menemukan "diri saya yang lain", yang kemudian bisa berhijrah dari saya yang dulu.

Lagi, sebuah takdir Allah ternyata juga telah menunggu saya ketika lulus...
Dulu, saya nggak pernah membayangkan bahwa akan terdampar di sebuah universitas swasta. sama sekali nggak pernah..

Saya sudah merasa melakukan yang terbaik menurut saya, tapi ternyata menurut Allah itu belum..

Rasanya tentu saja campur aduk.. ketika menyadari semua yang saya perjuangkan di SMA untuk mendapatkan perguruan tinggi keinginan saya ternyata tidak dikabulkan oleh Allah..

Sudah berkali-kali saya mencoba mengikhlaskan dan menjalani apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah dengan lapang dada, tapi ternyata pelajaran ikhlas memang nggak semudah ketika hanya diucapkan.

Banyak sekali hal yang sangat berbeda ketika saya berpindah dari sekolah saya dulu ke tempat saya belajar sekarang. Mulai dari iklimnya, peraturan-peraturannya, teman-temannya, sampai adat budayanya. Dan salah satu yang paling membuat saya tersiksa adalah justru ketika saya sedang berkompetisi dengan membawa nama perguruan tinggi saya.

Dulu saya senang sekali ikut lomba. Dengan jas almamater kebanggaan, ditemani banyak teman-teman dari satu sekolah, rasanya seperti sudah siap menghadapi siapapun jurinya dan apapun kemungkinannya. Dulu saya semangat ikut lomba karena banyak teman-teman yang juga mengejar hal yang sama, bercita-cita yang sama. Bahkan dulu senang sekali kalau mendapat juara karena sekolah saya sangat mengapresiasi hal tersebut.

Berbeda sekali ketika saya di perkuliahan. Dimana sedikit sekali yang memang murni mencintai penelitian. Sedikit yang punya passion ke arah penelitian. Sedikit yang mau berjuang mengikuti lomba-lomba.

Saya masih ingat sekali ketika saya semester 2 dan saya berkesempatan menjadi finalis PIMNAS. Waktu itu terasa sekali bedanya. Yang biasanya bangga karena ada teman banyak dan membawa nama almamater kebanggaan, sekarang terganti dengan mirisnya perasaan karena hanya minoritas di antara sekian banyak. Ketika dulu bisa dengan bangga membuat yel-yel sendiri, sekarang harus menekan hati sendiri karena hanya bisa menjadi penonton para mayoritas, sedangkan saya sekarang di pihak minoritas.

Tempat dimana untuk berdakwah saja harus berhadapan dengan para petinggi kampus, harus sembunyi-sembunyi, hingga akhirnya harus merelakan satu dua mad'u yang lepas karena tidak bisa terpegang dengan baik di dakwah kampus ini..

Belum lagi ketika berada di antara saudara-saudara saya yang menganut paham universitas negeri, kadang saya benar-benar merasa ingin menghilang ketika sudah membicarakan tentang almamater universitas..

Apakah kemudian saya menjadi tidak ikhlas?
Dulu saya akan mengatakan iya, saya tidak ikhlas. Sangat tidak ikhlas.
Tapi itu dulu.
Sebelum akhirnya sebuah pendewasaan menyadarkan saya ketika sudah mencoba menata hati di tahun kedua. Iya, saya butuh 2 tahun untuk bisa menata hati...

Selama beberapa waktu akhirnya saya mencoba berbicara dengan diri saya sendiri, hati ke hati..
Apa yang sebenarnya saya inginkan? Apa yang orangtua harapkan? Apa yang Allah kehendaki? Apa yang ummat butuhkan?

Dan saya tersadar, ketidak ikhlasan saya tidak akan berbuah hal yang manis...

Saya bisa saja meneruskan ketidak ikhlasan saya tersebut, tapi lalu apa yang bisa berubah? Toh Allah tetap menghendaki saya di sana... Dan ketika saya terus menerus mereject kehendak Allah, apa kemudian saya bisa mewujudkan harapan orangtua saya dengan maksimal? Jika untuk diri sendiri saja saya masih belum bisa menata hati, apa yang bisa saya berikan untuk ummat?

Akhirnya saya sadar... hidup hanyalah kesempatan membuat pilihan... segalanya digulirkan dan digilirkan. Apapun yang kita pilih nantinya, ujungnya adalah tanggung jawab. Dan memikul tanggung jawab, apapun itu, pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.. 

Masih terngiang di telinga saya kalimat “Man purpose, ALLAH dispose”..
Bahwa hidup adalah rangkaian ikhtiar demi ikhtiar,, dan ujung dari ikhtiar ini bukan manusia yang menyelesaikan... Manusia berikhtiar, Allah yang akan menyelesaikan.

Ketika semua dinilai dari sebuah niat, niat yang mulia maupun tidak mulia, maka akan selalu ada dua kemungkinan yang terjadi diujung ikhtiar : apakah hasil yang akan terjadi itu sesuai dengan rencana kita atau sebaliknya, inilah ruang kuasa Allah.

Iya, ada ruang yang mesti saya sadari, ruang di mana setiap ikhitiar tak dapat saya ketahui ujungnya, ruang yang benar-benar sangat gelap bagi saya.

Ruang itu adalah kehendak Allah…

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki
dan menetapkan apa yang Dia kehendaki”(QS. Ar–Rad : 39)

Dan betul bahwa saya hanya hamba. Apa yang terjadi pada seorang hamba tak luput dari kehendak Allah.

Yang perlu saya pahami di dalam setiap kehendak Allah yang bernama takdir adalah bukan hanya Allah sedang menunjukan betapa maha berkehendaknya Dia, tapi juga betapa Allah mengetahui segala galanya, bahkan yang menurut saya gelap dan misteri, Allah mengetahui itu, yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi semua dalam genggaman Allah..

Untuk itulah Allah memilihkan takdir terbaik karena Dia bukan hanya berkendak tapi Maha Tau,
sedang saya? :)

Saya adalah milik Allah.. dan saya percaya bahwa setiap pemilik akan memelihara apa yang dimilikinya dengan kasih sayang, apapun itu, jadi apapun yang terjadi saat ini karena Allah menyayangi saya..

Mungkin saat ini saya melihat takdir seperti luka yang perih menyayat hati, namun taukah saya bahwa esok ini akan menjadi sesuatu yang saya syukuri, sesuatu yang akan mendekatkan diri saya kepada Allah? Lalu masihkah saya marah atas takdir kali ini ketika saya tahu bahwa ini terjadi karena kasih sayangNya?

Dan alhamdullillah... setelah saya benar-benar mengikhlaskan hati, justru banyak sekali hal baik yang terjadi.. hal-hal yang dulu saya anggap sebagai kesulitan, sekarang bisa saya pandang sebagai peluang. Seperti peluang kebaikan untuk mengajak yang lain ikut lomba, peluang dakwah untuk kemudian bisa menaklukkan para petinggi, peluang memaksimalkan potensi diri agar ketika lomba tidak kalah dengan universitas lain, peluang menyemangati diri sendiri untuk cepat lulus, peluang mencari uang dengan mengajar untuk menutupi biaya-biaya kuliah yang belum tercover, dan peluang-peluang lain yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika Allah tidak menakdirkan saya disini..

Hidup memang hitam putih,, berliku dan kadang harus memasuki lorong gelap sendiri, namun semua karena kasih sayang Allah..

Ketika kemudian takdir Allah tak dapat dipahami, maka kembalikanlah kepadaNya, sebab memang ada ruang gelap yang dengan ilmu kita akan sulit kita pahami, namun tak sulit untuk direnungi..

Ya, di ruang inilah sekarang saya menyandarkan segala pengharapan saya.. Di ruang inilah energi tawakal saya letakan, dan kepasrahan saya labuhkan.. Hingga akhirnya saya akan mengerti bahwa takdir Allah adalah sebentuk cintaNya kepada saya…

Yang perlu kita lakukan hanyalah memenuhi hidup dengan berbaik sangka kepada Allah, dan tidak membiarkan ruang sekecil apapun dalam diri ini untuk berburuk sangka padaNya..

Karna dengan berbaik sangka kepada Allah maka musibah akan terubah menjadi anugrah, kesedihan menjadi kegembiraan. Dan ujian, kehilangan, luka yang terjadi akan berubah dalam sesaat menjadi kekuatan hidup yang kian membuat kita lebih bijaksana dan tenang..

Semoga kita semua benar-benar bisa mengambil makna dari setiap kejadian, dan meletakkan ikhlas di ujung takdir Allah..
Allahumma aamiin..


*untuk ikhwah seperjuangan yang sedang menghadapi takdir Allah saat ini, semoga kita tetap dikuatkan untuk berdiri di jalanNya... karena menang dan kalah itu bukan hanya yang terlihat di manusia, tetapi apa yang dipandang oleh Allah...

ketika keinginan kita tidak sesuai dengan takdir Allah, percaya,
Allah sedang mempersiapkan skenario terindah untuk kita di masa depan... :')

Saturday, November 2, 2013

Out Sick

bismillaah....
Alhamdulillaah,,, setelah seminggu ini dikurung opname di rumah sakit, hari ini saya bisa menghirup udara segar juga.... :D

Sesuai judul yah,, saya mau cerita tentang perjalanan sakit saya kemarin ini..
Semua bermula dari diare saya yang sudah lebih dari tiga minggu lalu... Tiap mau berangkat ngampus kok diare, terus sorenya diare lagi, padahal makanan juga nggak aneh-aneh banget (buktinya suami saya nggak diare berarti kan makanan di rumah aman lah ya..)

Saya tanya-tanya ke para mbak-mbak senior asdos, kira-kira saya itu kenapa, tapi ya cuma pada nyaranin buat nambahin makan sayur, air putih, dan lain-lain (yang sayangnya sudah saya lakukan di rumah). Akhirnya saya mencoba untuk menganggap itu sakit lalu, udah lah paling besok kapan juga sembuh sendiri..

Hari demi hari berlalu, diare saya bukannya tambah sembuh malahan tambah njadi... Tiap mau berangkat ke kampus diarenya harus tiga kali dulu, jadi sering banget bikin telat ngampusnya... belum lagi kalau sore. Saya semakin tambahin lagi itu minum air putihnya, yakult, dan segala macem, pokoknya apapun deh yang kira-kira bisa membantu perut saya menahan gejolak diare.

Satu minggu sebelum opname, diare saya sangat sangat bertambah parah... Tiap seperempat hari saya diare 6-7 kali, which means saya diare per satu setengah jam. Nggak cuma siang hari, malam hari pun juga tetep diare, jadi kalau malam saya rela-relain tidurnya di sofa dekat kamar mandi, soalnya jam 12 malam pun saya juga diare......

Tapi karena agenda saya padat, ya saya sih acuh aja tetep ngampus, kuliah-ketemu dosen pembimbing-rapat-dan lain sebagainya, padahal itu perut dipakai makan aja nggak bisa lho.. Soalnya setiap makan satu sendok pasti udah diare lagi, dipakai minum berapa gelas udah keluar lagi jadi diare. Jadi saya di kampus berasa seperti mayat yang bisa jalan gitu, pucat-lemes-sempoyongan, wkwk.. Dan berhubung suami saya sedang sibuk-sibuknya, jadi saya juga sengaja nggak cerita-cerita tentang ini, saya cuma bilangnya ya diare biasa aja gitu....

Sampai puncaknya,,, akhirnya beberapa hari saya demam, dan drop sekitar kamis malam sebelum opname. Badan saya menggigil hebat malam itu, panas banget sampai saya sendiri nggak tahan sama panas badan saya. Akhirnya suami saya tau juga, dan ikut ngebantuin ngompres (sebelumnya saya ngompres sendiri wkwk)

Karena nggak kuat, akhirnya besok paginya saya putuskan buat bolos ijin dari kuliah dan ke sebuah klinik dokter umum bersama suami saya. Periksa - tes lab darah dan feses - lalu dikasih obat. Waktu itu saya cuma dikasih obat anti-diare, obat anti maagh (kata dokternya saya ada radang lambung gitu), obat panas, sama imunosupresan.

Saya ngerasa lega ya, soalnya dokternya itu njanjiin paling berapa hari udah sembuh.
Eh lha kok tapi,,,, sampai hari ahad diare saya masih aja lanjut dan juga gejala-gejala yang lain. Akhirnya saya cerita juga ke ibunda saya, dan langsung disuruh ke purworejo. Okelah, yuk mari, kan cuma periksa aja kan (pikir saya waktu itu)

Sampai di RSUD Purworejo ternyata saya bukan mau diperiksa, tapi langsung dimasukin ke IGD sama ibunda saya. Langsung diinfus, disuntik, diambil darah, dan sebagainya. Saya kalem, ah cuma gini aja, paling cuma bentar..

Tapi kok habis itu saya dibawa ke bangsal pakai kursi roda.....
Saya tanya ke ibunda, "Lho, kok ke bangsal? Emang mondok?"
Ibunda saya enteng njawab, "Ya iya nho, masa nggak mondok."
"Lhoooo... berapa hari?"
"Mungkin bisa seminggu."
Jedeerr..... trus kuliah saya gimanaa..... huhuhu hiks hiks hiks T__T
Patah hati deh, speechless bayangin gimana nasib absensi saya, pasrah abis....

Di sana ternyata saya terdiagnosis Demam Berdarah (DB) dan juga Typus..
Dan saya harus melalui rangkaian pengobatan yang hampir membuat saya menyerah...
Dengan infus dan berbagai obat yang diinjeksi ke dalam infus, ada yang reaksinya normal, ada yang bisa bikin saya kejang-kejang sampai nangis menjerit-jerit, ada juga yang bikin mual muntah. Belum lagi obat-obat yang harus diminum secara oral, padahal itu saya juga masih diare hebat. Subhanallaah,, kalau bukan karena kekuatan dari Allaah mungkin saya juga sudah nggak kuat ya ngejalaninnya...

Dan akhirnya,,,, dengan semua kuasa Allah,, setelah seminggu dipenjara opname di rumah sakit, tadi berasa seperti keluar dari gua dan untuk pertama kalinya menghirup udara segar, hehehe..

Nggak nggak lagi deh mau dapet penyakit kayak gini lagi,,, bikin kapok banget ternyata... Jadi banyak agenda terbengkalai, kuliah ketinggalan, undangan pernikahan yang terlewatkan, dan yang paling penting nggak mau lagi ngerepotin suami dan keluarga kayak seminggu kemarin... nggak tega..

Semogaa Allaah menggugurkan dosa-dosa melalui penyakit kemarin,, dan semogaa Allaah mengganti peluh-peluh orang yang sudah banyak membantu dan menemani saya di rumah sakit semingguan kemarin,, dan juga semogaa doa teman-teman diganti berlipat-lipat dengan yang jauh lebih baik.... aamiin...

Ana ukhibbukum fillah.... :")




*btw, ternyata dukungan fisik maupun non fisik itu sangat berpengaruh yaa ke tingkat penyembuhan orang yang lagi sakit.... terimakasih untuk teman-teman yang udah meluangkan waktu untuk sekedar mengsms dan memberikan dukungan maupun semangat selama saya sakit kemarin,,, it was very helpful. :""D ukhibbukunna fillah, dear.... :"""

Tuesday, October 1, 2013

Akan selalu "Satu Shaf di Belakangmu", Sayang..

Mengutip sebuah tulisan karya Namarappuccino,,
"Aku tahu, kadang-kadang hidup itu tidak adil--menurut kita, meski sebenarnya Tuhan selalu bersikap adil pada manusia yang diciptakan-Nya. Tetapi pada saat kamu merasa hal itu sedang terjadi, dimana kamu merasa sedang jatuh dan dunia memusuhimu, aku di sini, di satu shaf di belakangmu ketika kamu sudah pulang nanti.

Kamu bilang, aku 'rumah'mu. Bukan bangunan atau gedung, tetapi aku. Jadi, sejauh apa pun kamu pergi, kepadakulah kamu akan selalu kembali. Karena itulah, aku selalu di sini tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dulu, sekarang, ataupun nanti. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang. Jadi, setiap hari, aku bersedia menunggu, menyiapkan teh panas sementara kamu mengambil air wudlu. Lalu aku akan bersiap untuk berdiri satu shaf di belakangmu.

Dan ketika kamu lelah, aku juga selalu di sini. Menyediakan bahuku. Menemanimu bercerita untuk mengurai semua kisah satu demi satu, lalu mencari jalan untuk mengatasinya berdua. Karena untuk melihat senyummu, aku masih dengan senang hati berada satu shaf di belakangmu. 

Aku akan selalu satu shaf di belakangmu, dalam sholat berdua, atau dalam menjalani hidup berdua. Tidak hanya ketika berbahagia, tetapi juga ketika kamu sedang pada taraf jatuh sehingga tidak punya siapa-siapa. Karena aku tahu, kamu selalu melakukan hal terbaik yang kamu bisa untuk menjaga bahagiaku. Yang kamu minta hanyalah, aku tetap selalu berada di satu shaf di belakangmu. Bukan untuk selalu menjadi buntutmu, tapi untuk berdoa bersama dan berterima kasih bersama atas semua bahagia."

Berkali-kali membaca tulisan di atas, dan berusaha benar-benar meresapi makna perkalimatnya..

Ya, aku akan selalu satu shaf di belakangmu, Sayang...
dalam sholat berdua, atau dalam menjalani hidup berdua..

Rasanya seperti flashback kembali, membayangkan perjalanan pernikahan kita yang sudah berjalan lebih dari 9 bulan ini..

Bagaimana sabarnya engkau menghadapi semua proses pembelajaranku, sebagai istri maupun ibu rumah tangga, dimana masih sangat banyak kekurangannya di sana sini..
Di mana aku saja tak tau harus menyediakan kopi atau teh kepadamu, tak tau apa saja makanan kesukaanmu  maupun yang tak kau suka, dan banyak yang lain..
Tetapi kau dengan sabarnya membimbingku, memberitahukanku banyak hal tentang dirimu, memaafkan segala kekikukan yang kubuat di rumah...

Ah, kau tak pernah meninggalkanku sebagai imam, Sayang,,
lalu bagaimana aku akan dapat meninggalkanmu sebagai makmum...?

Aku juga akan selalu ada di sini, di sampingmu...
Menyediakan bahuku..
Menemanimu bercerita untuk mengurai semua kisah satu demi satu..

Rasanya air mata ini benar-benar tak bisa ditahan untuk menetes sekarang...

Teringat berbagai aktivitas kita yang masih menyandang status mahasiswa,,
aku dengan program sarjanaku, dan kau dengan program mastermu, dan juga dengan pekerjaanmu..

Berkali-kali kita pulang dengan membawa banyak kelelahan dari kampus,
dengan berbagai lika-liku dan permasalahannya,,,
di tengah keberusahaanku untuk menyembunyikan segala lelahku, aku melihatmu, Sayang,,
kenapa kau juga tidak menunjukkan lelahmu..?

Padahal aku tau sekali betapa melelahkannya aktivitasmu itu,
betapa penatnya kepalamu mengejar berbagai hal,,
tapi kau selalu pulang dengan wajah yang tersenyum, seolah yang kau lalui itu semuanya menyenangkan..

"Bagiku, ketika bertemu denganmu, semua kelelahan dan kepenatan itu hilang entah kemana..."

Katamu, ketika itu
Ah, ternyata kau memang sengaja menyembunyikan itu semua dariku, Sayang...

"Aku rumah mu, Sayang..."
lirihku, menahan hati yang kembali teriris

"Aku akan selalu di sini tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dulu, sekarang, ataupun nanti.. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang..
Ketika kamu lelah, aku juga selalu di sini.
Menyediakan bahuku. Menemanimu bercerita untuk mengurai semua kisah satu demi satu,
lalu mencari jalan untuk mengatasinya berdua..

Karena untuk melihat senyummu, aku masih dengan senang hati berada satu shaf di belakangmu.."

Seandainya saja,, kita dipertemukan ketika telah selesai semua dunia perkuliahan,, tentu aku akan bisa lebih banyak mengurusmu di rumah, Sayang... Bukan malah terkuras banyak aktivitas di luar sana...

"Justru dengan menikah di waktu kuliah seperti ini, kita bisa belajar bersama-sama tentang toleransi... Tentang bagaimana membagi peran di rumah, dan tetap bisa berprestasi serta berda'wah di luar sana.. Bukankah itu tujuan awal pernikahan kita?" katamu lagi, sambil tersenyum

Ah, kau memang selalu bisa membuat airmataku terjatuh, Sayang,,
bukan karena sedih, justru karena aku bahagia,, sangat bahagia,
mempunyai seorang lelaki yang sungguh selalu bisa mengingatkanku akan syurga...

Karena aku tahu, kamu selalu melakukan hal terbaik yang kamu bisa untuk menjaga bahagiaku..
Yang kamu minta hanyalah, aku tetap selalu berada di satu shaf di belakangmu.
Bukan untuk selalu menjadi buntutmu, tapi untuk berdoa bersama
dan berterima kasih bersama atas semua bahagia..


Dan aku juga akan selalu berusaha yang terbaik untuk menjaga bahagiamu, Sayang, bahagia kita... :')

Thursday, September 26, 2013

Koreksian

Lokasi : Lab IT
S : Someone; A : Asdos lain; KA : Kepala Asdos

A1 : Kok telat sih, Sa?
S :   Iya, maaf Mbak, tadi bikin bekal dulu.
A2 : Sana ngajar di depan, mereka hampir selesai pretest tuh
S :   Kok aku lagi...... Aku mau ngerjain koreksian sama editan nih
A1 : Anak baru itu tugasnya ya ngajar, jangan protes
S : .................................... okey. (sudah biasa terbully)

S   : Mbak, Mas, udah pada sholat belum? Habis ini ada jadwal mahasiswa yang inhal (remidi) lho
A2 : Ya lalu?
S   : Ya kan ngajar.....
A5 : Kamu dong Sa yang ngajar. Udah siap kan kamu. Kami lagi ngoreksi nih
S   : ...........................................
(selesai ngajar yang inhal)
KA  : Tadi ngajar tambahan kan? Tandatangan di sini ya (nyodorin absen tambahan)
S    : Waaah tambahan gaji nih, Pak?
KA : Iya dong
alhamdulillaah.. :""

KA : Lagi ngapain, Sa?
S  : Ngulang koreksian minggu lalu, Pak. Kehapus semua datanya yang di ELS....
A1 : Lho kok bisa sih, Sa. Emang nggak disimpen?
S   : Ya disimpen lah. Lha gatau ini kok tiba-tiba di rapot nilainya anak-anak ilang semua
A3 : Udah ngoreksi ujiannya mereka belum?
S   : Beluuum
A2 : Gimana sih, Sa. Yang lain aja udah selesai ngoreksi lho.
S   : Ya kan dari kemarin aku ngajar teruss...
A5 : Suruh siapa ngajar terus. Buruan diselesaiin sana, nanti gajimu nggak keluar lho.
S   : .............................................. -______- 

Sesungguhnya mengoreksi itu lebih cepat lebih baik. Sebelum file koreksiannya nambah bejibun lagi.
Dan sesungguhnya setelah terbully selalu ada matahari yang siap bersinar.
Sekian.

*Dan sesungguhnya ngajar itu jangan dilihat dari gajinyaa


Bytheway, nanti atau besok saya ingin share tentang kuliah inspiratif saya tadi siang, masih tentang topik yang sama : gangguan jiwa. See ya! :)

Wednesday, September 25, 2013

Hukum Safar untuk Perempuan

bismillaahirrahmaanirrahiim...
-di bawah ini hanyalah pendapat dan kisah pribadi, mohon dimaafkan jika ada yang tidak berkenan

Sebenarnya tadi cuma ingin posting sedikit foto IMSF... dan ingin segera tidur karna besok harus menguji adek-adek mahasiswa dari pagi sampai sore.. (mereka besok ujian responsi......)

Tapi saya kembali lagi membuka blog karena mendadak merasa harus membuat tulisan tentang ini. Dari kemarin ada yang menanyakan tentang hal ini terus-menerus.

Ada yang masih heran ya tentang keputusan saya pergi-pergi? Apalagi ke luar negeri?
Iya, saya tau kok tentang hukum safarnya wanita yang harus disertai mahrom dan sebagainya....

Sebagai gantinya, saya dan suami juga sudah pernah ke kajian Ustadz Didik Purwodarsono (di KRPH Masjid Mardhiyyah) yang kebetulan membahas tentang Hukum-Hukum Safar.

Karena koneksi internet sedang tidak bersahabat, saya tidak bisa mencarikan artikel-artikel yang bersangkutan.. Tapi saya akan mencoba meringkas kajian Ustadz Didik tersebut berdasarkan catatan di buku saya..

Waktu itu beliau membacakan sebuah hadist mengenai kewajiban wanita yang harus ditemani mahromnya ketika Safar.
Lalu beliau berkata,
"Kesalahan orang-orang sekarang adalah, ngajinya kurang. Nggak tuntas. Jadi selalu saja menelan mentah-mentah sebuah dalil, tanpa tau ilmu dan juga intisari kenapa dalil tersebut berlaku.

Sekarang kita ambil sebuah contoh. Di jaman dulu, ketika keadaan masih jahiliyyah, ketika tanah masih gersang, dan ketika semuanya hanya berupa gurun dan gurun, orang-orang (tidak hanya wanita) sangat rawan untuk melakukan perjalanan jauh. Ada berbagai banyak hal yang bisa terjadi di jalan, mulai dari dehidrasi, munculnya perompak atau pembunuh, dan lain sebagainya. Perjalanan yang bagi laki-laki saja berbahaya, apalagi bagi wanita.

Maka muncul lah kewajiban bersafar ditemani mahrom itu bagi wanita.

Sekarang seandainya saya menganut dalil tersebut, itu berarti sama saja anak saya juga nggak akan pernah ada yang kuliah di luar kota (anak perempuan saya sekarang kuliah di IPB, Bogor).

Seandainya saya menganut dalil tersebut, berarti saya bukan hanya harus mengantar anak saya sampai ke Bogor. Tapi saya juga harus menunggui dia di kosnya di sana, lalu menemani dia ketika ke kampus, juga membersamai dia jika rapat atau berorganisasi, dan lain-lain.

Namanya "wanita ditemani mahrom" itu ya seperti permisalan saya di atas ini.
Tapi kenyataannya kan tidak demikian?

Jadi saya memilih untuk mengambil intisari dari dalil-dalil tentang safar tersebut, karena saya orang berpendidikan.

Hemat saya, asalkan si akhwat tersebut aman ketika safar (baik di perjalanannya, atau di tempat tujuannya, atau di lingkungannya), itu sudah saya halal kan untuk bersafar.

Lain halnya kalau anak saya pergi safar ke negara Israel yang jelas-jelas negara musuh Islam dan nyawa serta harkat martabatnya terancam, tentu saja akan saya larang."

dan lain sebagainya.. untuk yang mau minta rekaman kajiannya juga bisa minta ke saya langsung,, atau download di webnya KRPH...

Kami sih maunya ya satu negara, lha tapi keinginan kami ternyata bukan keinginannya Allah, lalu gimana dong? T.T

Yang saya herankan, dan membuat saya sedih adalah, orang-orang yang seperti tidak setuju dengan safar saya ini, padahal suami saya saja sangat sangat mendukung.... Bahkan untuk lomba-lomba akademik dan segala hal berbau akademik juga suami saya sangaat mendukung saya. Begitu juga dengan orangtuan kandung maupun mertua saya..

Yang saya herankan lagi, kenapa justru Tunisia yang dikecam? Yang jelas-jelas negara Islam?
Dulu ketika saya pergi ke Rusia tahun 2011, kalian kemana? Kenapa tidak ada yang berkomentar?
Padahal jelas-jelas Rusia itu negara yang sangat komunis dan minoritas Islam.
Ketika saya ke Singapura tahun 2010, kok juga baik-baik saja? Tidak ada yang berkomentar?

Hmmm... :(
Yah, kita kan memang tidak bisa mencegah berbagai macam tanggapan kritik maupun respon kan? :(
Yang penting bagi saya adalah suami saya ridho, suami saya tidak merasa terdzolimi dengan berbagai kegiatan akademik saya (minimal saya masih bisa menemani suami sarapan sebelum berangkat mengajar, dan juga sempatmenyiapkan bekal makan siang untuk makan suami saya di kampus, dan juga saya selalu menjaga jam malam saya)

Saya merasa bersyukuur sekali punya suami yang punya banyak hafalan Qur'an dan Hadist, yang bisa menjadi imam dan murobbi yang luar biasa di rumah, dan juga bisa menelaah hal-hal tersebut sesuai syariat dan juga keilmuan..
Ukhibukum fillah, sayang... :")

Ohya sedikit tambahan lagi dari suami saya,, beliau pernah mendapat sebuah cerita dari Umminya...
ada seorang akhwat yang juga saklek dengan hukum tentang wanita safar harus bermahrom. Saking sakleknya, beliau ini nggak pernah mau keluar rumah untuk pergi belanja ke pasar, karena nggak ada mahrom. Begitu juga dengan aktivitas-aktivitas lainnya di luar. Akhirnya akhwat ini meminta kepada kakak atau adiknya menggantikan dirinya untuk pergi belanja atau yang lain.

Ummi lalu berkomentar, "Kalau begitu sama aja dong, dia nggak mau melakukan hal itu tapi dia malah menyuruh saudarinya yang lain yang melakukan hal itu untuk dia."

Enough said dari saya dan suami,,
kami rasa teman-teman punya lebiih banyaak referensi dan juga pendapat-pendapat tentang hal ini, dan juga lebih pintar untuk memilah-milah mana yang sesuai dengan hati dan kondisi teman-teman.. :)

Kami hanya ingin berbagi sedikit pendapat kami dalam masalah ini, dan semua yang tertulis di atas adalah murni dari kami, sekali lagi mohon maaf jika ada yang merasa kurang berkenan..

Kami pamit tidur yaa,,, wassalaamu'alaykum warrahmatullahi wabarokatuh. :)


Friday, September 20, 2013

Surprise Again

subhanallah.... alhamdulillah...

Ketika sedang ribet menyelesaikan power point untuk berangkat ke Semarang nanti sore (dan rela membolos kuliah pagi ini), mendadak mendapat sms dari seseorang..... dan menjadi kejutan bahagia yang ke sekian di bulan ini

Dosen DPA saya menawarkan sebuah research milik beliau, yang juga dibimbing langsung oleh beliau. 

Surprise? Bangeeett... Kan jadi sedayung dua pulau, bisa untuk skripsi saya juga :D (yang dari kemarin belum juga tersentuh lagi, hehe)

Jadi ingat lagi sama postingan saya kemarin di awal bulan, kejutan dari Allah itu memang slalu nggak bisa diperkirakan dan disangka-sangka ya.... subhanallah... :')

Jadi semangat lagi deh bikin power pointnya,, hap hap semangattt!!! ^_^b

Untuk yang menanyakan, kenapa sih saya dan suami semangat banget untuk sekolah tinggi-tinggi, kenapa nggak mementingkan kerja dulu -- karenaa kami ingin anak-anak kami besok bangga punya orangtua seperti kami, dan menjadikan kami rolemode bagi mereka..

Kami ingin anak-anak kami besok melihat abinya sebagai seseorang yang sukses dari bidang akademik, dan juga melihat uminya yang walaupun hanya jadi ibu rumah tangga tapi juga punya background akademik yang kuat, jadi supaya anak-anak kami besok punya motivasi yang sangaaaat besar di akademik dan bisa jadi jundi-jundi Allah yang luar biasa di muka bumi... aamiinn.... :"D

*Cepat Lulus*
*Terus Berprestasi*
*Sekolah setinggi-tingginya*
*and become a GREAT mother*

Dedek sedang apa di atas sana?
Doakan calon abi dan umi mu ini yaa,,, semoga kita bisa segera dipertemukan... :""")

Tuesday, September 17, 2013

My Another Journey...

bismillaahirrahmaanirrahiim...

Untuk bulan ini hanya berharap satu hal, semoga Allaah selalu dan selau menjaga langkah kaki ini untuk tegar di jalan-Nya...

Beberapa waktu lalu saya pernah membuka bulan ini dengan tulisan di sini, dan saat itu saya memang hanya mengharapkan hal itu, lancarnya skripsi saya..

Meskipun masih ada banyaak sekali target-target saya di tahun ketiga ini, tapi saya berpikirnya hanya itu yang ingin saya lakukan di bulan September ini.

Tapi ternyata Allaah berkehendak lain..

Hanya berselang beberapa hari setelah tulisan itu saya buat, datang sebuah berita gembira :
saya lolos program student exchange nya mahasiswa kedokteran.

Meskipun bercampur aduk antara perasaan senang sedih dan bingung, tapi pada akhirnya saya dan suami memutuskan untuk menanggapi berita itu dengan bahagia.

Dan belum hilang perasaan bahagia itu, selang sehari datang lagi kabar membahagiakan berikutnya :
saya lolos dan keterima menjadi asisten dosen (asdos) di laboratorium IT kampus saya..

Rasanya sangat luar biasa. Berawal dari sebuah keisengan semata, dan juga tanpa harapan yang muluk-muluk (karena yang ikut seleksi juga semuanya pinter-pinter, dan banyak), ternyata saya berhasil menjadi satu dari tiga mahasiswa yang diterima dari angkatan saya..

Sejak itu dimulai lah aktivitas non stop sehari semalam.. Apalagi setelah ternyata judul skripsi saya disetujui oleh dosen pembimbing saya, dan saya dipersilahkan mulai mengerjakan proposalnya.

Yang sebelumnya sudah padat kuliah, sekarang aktivitas di kampus saya dobeli dengan bolak-balik ke lab untuk ngajar adik-adik mahasiswa. Ngajar dari pagi sampai sore,, yang berhasil membuat kaki saya jadi mati rasa pada malam harinya. Belum lagi mengerjakan silabus materi untuk mereka, membuat soal-soal, mengoreksi tugas-tugas mereka, dan juga mengedit materi dosen yang akan dicetak sebagai buletin.. dan juga berusaha mulai segera menyelesaikan proposal skripsi saya.

Walaupun saya lebih ingin fokus ke skripsi saya (saya nggak enak sudah ngeloby dosen duluan padahal sebenarnya belum jatahnya untuk bikin skripsi, jadi saya harus menjaga komitmen saya dengan beliau) tapi justru minggu-minggu ini waktu saya lebih banyak terkuras ke kuliah dan ke agenda saya ngasdos.. dan juga organisasi (ah, ya, sekarang sedang heboh-hebohnya open recruitment dan juga makrab)

Baru saja mau mulai untuk merapikan manajemen waktu, mendadak kemarin mendapat sms dari panitia IMSF kalau karya esai ilmiah saya lolos sebagai sepuluh besar dan saya diundang untuk presentasi di IMSF Undip jum'at pekan ini..

Subhanallahh..... saya saja sampai lupa kapan dan kenapa saya dulu mengirim karya saya itu, kenapa kok ya lolos...

Kesannya kufur nikmat banget ya,, astaghfirullah... Tapi serius, saya sedang ingin sedikit istirahat..

Kalau bukan karena mewakili Rohis Kampus saya dalam IMSF, yang kebetulan diselenggarakan oleh FULDFK (Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran), mungkin saya nggak akan mau berangkat.. Keberangkatannya saja hanya tinggal dua hari lagi, dan dua hari itupun saya full ngasdos dan juga mengedit materi... saya belum prepare sama sekali untuk presentasi... :(

Bismillaahirrahmaanirrahiim..
Semoga Allaah selalu menjaga langkah kaki kita dalam kebaikan,,
semoga Allaah selalu menjaga niat dan semangat kita di dalam jalan-Nya..
dan semoga setelah ini jangan ada berita membahagiakan yang lain dulu, paling tidak dalam kurun waktu dua minggu ini.. saya ingin sedikit istirahat...

Kalaupun ada berita lain lagi, semoga memang itu yang terbaik untuk saya, dan saya mampu menghadapi berita tersebut,
dan semogaa Allaah menguatkan bahu dan kaki ini untuk terus menopang semuanya...

aamiin... :')

Tuesday, September 10, 2013

Perihal Wanita Menikah yang Berkarir (PART 2)

bismillaahirrahmaanirrahiim...

Ingin melanjutkan postingan saya di sini beberapa waktu lalu yang ternyata sangat ramai dikunjungi orang-orang (trafficnya langsung mencuat ke ranking 1 popular posts)..

Kemarin, waktu postingan saya itu sedang ramai-ramainya dengan komen, suami saya bilang,
"dek, kayaknya ada yang beda penafsiran deh tentang tulisanmu itu...."

Saya sih nggak ngeh mana yang bikin salah penafsiran.. Sampai tadi teman-teman saya ada yang menegur, "Sasaa, kamu lolos exchange ya? Bukannya katamu perempuan yang udah nikah itu jadi ibu rumah tangga aja? Kok kamu malah pergi-pergi?"

Dan bukan hanya satu dua orang aja yang menanyakan.. Walaupun lebih banyak yang memberi selamat daripada mempertanyakan hal tersebut. Dan pertanyaan itu lah yang membuat saya tiba-tiba sadar dimana kesalahan persepsi yang dulu disebut-sebut sama suami saya itu.

Jadi begini ya,, terkait dengan judul tulisan saya "Wanita Menikah yang Berkarir-Sunnah pun Tidak"...
Point pertama saya adalah :

Wanita Menikah itu TIDAK SUNNAH untuk Berkarir

Berkarir di sini saya batasi dalam konteks mencari nafkah lho ya..
Bisa dilihat dari sebuah ayat di Al Qur'an:
“Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang telah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka melahirkan.” (Ath-Thalaq: 6)

Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak seperti yang diperintahkan dalam ayat diatas. Dan kewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak berlaku meski suami miskin dan atau istri dalam keadaan kaya/berkecukupan.

Ayat lain menyebutkan :
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah ‎ berikan kepadanya. ‎Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (Ath-Thalaq:7)

Nafkah yang harus dipenuhi suami kepada istri, antara lain tempat tinggal, makan dan minum, pakaian, dan biaya kesehatan ketika sakit. Hal tersebut adalah nafkah yang utama disamping nafkah lainnya yang mengikuti sesuai dengan kebutuhan.

Which means, suami berkewajiban memberikan tempat tinggal untuk ditempati bersama demi mewujudkan ketenangan dan cinta kasih diantara keduanya. Tempat tinggal tidak disyaratkan harus hak milik suami, karena dapat juga sewa atau berupa pinjaman. Mengenai makanan dan minuman, suami juga berkewajiban memberikan nafkah sesuai dengan kebiasaan yang berlaku, seperti misalnya suami menyediakan berbagai peralatan dapur serta memberikan uang belanja agar istri dapat memasak. Suami pun wajib memberikan pakaian kepada istri dengan yang baik. Dan mengenai pakaian bagi istri, Islam telah mengatur bagaimana pakaian yang sesuai syariat, di mana suami lah yang berkewajiban untuk menjaminnya.

Jadi saya rasa jelas sekali ya di sini, bahwa kesemua permasalahan materi tersebut dibebankan Allah kepada suami, bukannya kepada istri. Dan di sanalah letak ke-wajib-annya. Sedangkan istri? Apa tugasnya? Tugas istri itu mudah : hanya taat dan hormat kepada suami. Titik nggak pakai koma.

Saya akan menukilkan sebuah kisah terkait hal ini..

Seorang perempuan datang memohon nasehat pada Nabi Muhammad SAW.
Nabi menanyakan apakah dia memiliki suami, dan perempuan itu mengiyakan. 
Kemudian Nabi menanyakan apakah dia melayani suaminya. Perempuan itu menjawab dia melakukan apa yang bisa dia lakukan.
Kemudian Nabi berkata pada perempuan tersebut: “Engkau sama dekatnya dengan Surga dan sama jauhnya dari Neraka sebagaimana dekatnya engkau dalam melayani suamimu”, 
dan dalam riwayat lain dikatakan : “suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Atau ada juga hadist seperti di bawah ini :
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Jika aku boleh memerintahkan seseorang untuk menyembah yang lain, aku akan memerintahkan istri untuk menyembah suaminya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hanya dari dua hadist itu saja sudah dapat dipastikan ya bagaimana pembagian tugas wajib bagi antara istri dan suami. Suami itu wajib menafkahi, dan istri wajib taat pada suami.

Lalu bagaimana dengan wanita yang berdagang atau mengajar atau yang lain?
Kembali lagi ke bahasan utama saya tadi, sudah sangatt saya tegaskan bahwa yang saya garis bawahi dalam kalimat berkarir itu adalah mencari nafkah, dimana artinya sang istrinya yang "dipaksa" atau "memaksakan diri" untuk menjadi tulang punggung keluarga, dan bekerja keras demi memenuhi kebutuhan di rumah.

Meskipun ketika masuk ke konteks "istri wajib taat pada suami" dan kemudian suaminya yang justru meminta istri untuk ikut bekerja mencari nafkah, ya itu urusan mereka kan. Yang jelas, kalau kata suami saya, sangat nggak pantas bagi suami itu untuk meminta istri juga ikut bekerja demi memenuhi kebutuhan rumah tangga. Karena suami lah yang diwajibkan Allah untuk urusan itu.

Dan mungkin banyak yang harus diluruskan dari persepsi ini. Di sini saya ingin kembali menegaskan : tidak ikut mencari nafkah bukan berarti si wanita itu harus selalu ada di rumah.

Iya saya tau wanita itu punya banyak potensi. Iya saya tau banyak sekali lapangan pekerjaan sosial yang sangat membutuhkan SDM wanita. Dan tulisan saya kemarin benar-benar tidak bermaksud untuk melarang itu. Bahkan suami saya pun juga mengijinkan saya untuk berwirausaha, suami saya mengijinkan saya untuk bersekolah setinggi-tingginya, dan beliau juga mengijinkan saya untuk keluar rumah demi aktivitas-aktivitas da'wah. 

Yang kami tekankan adalah : semua aktivitas itu bukan dalam rangka kewajiban mencari nafkah. Itu semua murni untuk aktivitas sosial, untuk da'wah, juga untuk memperkaya diri terhadap ilmu pengetahuan.

Untuk teman-teman yang mungkin kemarin datang ketika saya mengisi talkshow tentang menikah muda, saya di sana menjelaskan bahwa sejak awal saya dan suami memang sudah sepakat untuk studi dengan setinggi-tingginya, meskipun kami tidak mengesampingkan peran dalam rumah tangga.

Saya tetap melanjutkan program sarjana saya, walaupun pulang ke rumah ya tetap harus bersih-bersih rumah, menyiapkan makanan, dan lain sebagainya.
Suami saya juga lanjut terus program magisternya, meskipun jadi sering pulang larut karna setelah kuliah harus ngantor, dan sebagainya.

Kami sih berharapnya setelah ini nggak ada lagi yang salah persepsi dengan tulisan saya yang dulu itu. Dan semoga juga nggak ada yang justru jadi menganggap kami itu tidak setuju dengan istri yang beraktivitas sosial ataupun melanjutkan studinya, karna toh kami sangat sangat mendukung aktivitas pasangan suami-istri yang tidak pernah berhenti mengembangkan kualitas diri. Understand? :)

Dan tentang keputusan saya untuk ikut program student exchange.....
Jadi begini, itu panjang banget ceritanya ~__~

Di jurusan saya, yang mana menggunakan sistem blok, ada sebuah blok berjudul "blok elektif" yang memberi kebebasan pada mahasiswanya untuk mengisi blok itu dengan apapun.
Ada tiga pilihan dari jurusan saya :
1. ikut program exchange
2. melakukan penelitian (di luar skripsi) mengenai herbal (atau apa gitu, lupa)
3. membuat film edukasi

Saya pertamanya nggak tertarik untuk ikut exchange ya, rasanya masih berat pergi dari indonesia (ceileh) jadi saya waktu ikut mikirnya ya mau melakukan penelitian aja.

Sampai kemudian suami saya bilang,
"Dek, mas keterima program magisternya yang double degree, jadi tahun depan berangkat ke Taiwan."

Huwaa,,, saya ditinggal doong.... T__T

Langsung patah hati lah ya, sampai nggak nafsu makan segala (bo'ong banget, wkwk)
Akhirnya ketika ada pengumuman lagi tentang pendaftaran program exchange-nya itu, saya ndaftar deh... Dan salah satu negara yang saya pilih ya Taiwan itu, biar besok nggak usah mikirin tempat tinggal, kan bisa nebeng di tempatnya suami. hihi

Akhirnya ikut serangkaian seleksi.... mulai dari seleksi berkas, lalu tes listening, lalu wawancara...
Sampai akhirnya pada tanggal yang ditentukan, belum ada pengumuman apa-apa. Haha.

Udah hopeless rasanya, yah emang nasib kalau nggak lolos juga nggak masalah....

Lalu mendadak kemarin sore (setelah lewat beberapa minggu dari tanggal yang dijanjikan) ternyata baru ada itu pengumumannya.... Dan dari sekian banyak yang mendaftar dan ikut seleksi, saya termasuk satu diantara 25 mahasiswa yang lolos untuk program exchange itu...

Seneng? Iya lah, banget...
Sayangnya, ketika saya liat, berkas saya masuk di negara mana, ternyata di Tunisia.
Iya, Tu-ni-si-a.

Ya ampun, itu mananya Taiwan??
Saya ngucek-ngucek mata saya berkali-kali.
Akhirnya buka google map..

Dari yang sebelumnya begini :

Indonesia -- Taiwan

Sekarang justru akan jadi begini :

Tunisia -- Taiwan


Haduuh,, jaut amat ya...... ~___~
Itu mah bukannya tambah deket, malahan tambah jauuh pake banget banget... =__=

Kalau melihat saya hari ini sih, mungkin kelihatannya saya itu baik-baik aja..
Coba lihatnya tadi malam... waktu saya nangis-nangis nggak jelas..... ckckck....

Entah apa skenario Allah pada saya dan suami saya, mungkin Allah sengaja memilihkan Tunisia karna itu merupakan negara Islam (yang entah kenapa justru bahasa utama di sana adalah bahasa Perancis -__-), atau mungkin Allah memang sengaja menjauhkan kami supaya besok kangen-kangenannya lebih terasa (apa deh)....

Yang jelas pena telah kering dan lembaran telah dilipat...
Kami hanya meyakini, bahwa segala sesuatu itu ada dan akan terjadi sesuai dengan ketentuan qadha dan qadar.. Keyakinan kami bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak akan pernah ada dan terjadi tanpa sepengetahuan, izin dan ketentuan Allah SWT.. Jadi ya kami di sini berusaha legowo, ya udah, niatnya kan untuk menuntut ilmu kan ya... Bismillaahirrahmaanirrahiim aja.... :""")


#Nah, tulisan penutup ini sekaligus menunjukkan, bahwa saya dan suami tidak pernah berpendapat bahwa wanita yang sudah menikah itu nggak berhak untuk keluar rumah atau beraktivitas sosial. Apalagi tentang menuntut ilmu.
Kalau kata suami saya sih, "yang penting jangan sampai yang *sunnah pun tidak* itu justru mengalahkan yang *wajib* bagi istri, yaitu taat dan patuh pada suami..." :)

##Step selanjutnya adalah semakin giat latihan english dan french (saya memaksa suami saya buat ikutan nemenin saya les bahasa perancis, wkwkk... ^^)

*oh iya, bytheway, karna ada yang menanyakan... enggak, saya enggak berangkat sendirian kok. saya berangkat bareng teman akhwat saya yang bernama Annisa Aninditta Lathifah. Ada mahramnya, jadi tenang aja.. :) Dan suami saya justru sangat mendukung keberangkatan saya ini ^_^

Akhir kata,,, semoga postingan kali ini sekaligus mengclearkan postingan saya sebelumnya ya ^___^ 
see ya! ;)

Friday, September 6, 2013

Hello September!

bismillaahirrahmaanirrahiim...



Masyaa Allah, ternyata bulan September sudah berjalan lima hari...

Apa yang sudah dilakukan?

Menyelesaikan tugas sebagai delegasi di Temilnas (masuk sepuluh besar) dan mempresentasikan karya.
Menyelesaikan amanah sebagai pemandu di OSDI (Orientasi Studi Dasar Islam) 2013.
(Hampir) Menyelesaikan amanah sebagai PJ Pemandu di MATAF (ospek kampus saya).
Menyelesaikan beberapa karya untuk kemudian dikirimkan ke lomba-lomba yang ber deadline Agustus.

ini cocard saya.. tiga cocard, lima hari, dua kota..
Untuk beberapa hari yang luar biasa hectic ini, saya benar-benar mengucapkan terimakasiih yang sebesar-besarnya untuk suami saya yang sangat sangat mensupport dan mendukung kegiatan saya dengan pengertian dan tenaganya.... I love you so much, dear... Kalau ditanya, dalam skala satu sampai sepuluh, seberapa besar rasa cinta saya, saya akan menjawab : more than a thousand! :"D

Apa yang ingin dilakukan?

SE-KE-RIP-SI !!!
Iya, skripsi. Saya berbulan-bulan lalu sudah sering berdialog dengan dosen pembimbing akademik (DPA) saya, saya ingin segera mengerjakan skripsi saya. Tapi beliau selalu bilang, "kamu kan belum dapat kuliah blok tentang metopen (metode penelitian), masa udah ngerjain skripsi??"

Hellooo ibuk dosen saya yang tercinta........ Jaman gini gitu lhoh.... Masa' bikin skripsi aja harus menunggu kalo udah dapet kuliahnya..... o___0""

Saya rasa beruntung banget ya jurusan lain yang memakai sistem SKS (sistem kredit semester) yang bisa milih-milih kuliahnya dan bisa ada kesempatan untuk lulus lebih cepat. Sedangkan kedokteran? Dengan sistem blok, mana ada acara lulus cepat-cepatan atau kurang dari empat tahun, semua mata kuliah kan sudah diatur dari atas, jadi ya cuma bisa pasrah ngikutin jadwal yang sudah ditentukan.

Makanya seminggu ini (dengan segala ke-hectic-an saya di bandung dan jogja) saya sudah mulai nge-loby seorang dosen buat mengajukan kasaran skripsi saya. Ini sudah mau masuk semester ke 5 lhoh ya,,, masa harus nungguin akhir semester 6 buat mulai mengerjakan skripsi (karna kuliah tentang metopen baru ada di akhir semester 6)??

Saya itu pinginnya cepet skripsi, cepet selesaiin ujian-ujian yang ada, kemudian lulus! Trus bisa nemenin suami saya yang kuliah di luar.

Untuk lulus kedokteran sekarang aja kan minimal skripsinya udah terpublikasikan di jurnal nasional atau internasional, lhah kalau ngerjainnya ditunda-tunda trus kapan lulusnya dongg... T__T

Urusan ngomong ke DPA saya ya nanti aja deh dipikirinnya. Yang penting jalan dulu skripsinya. Semoga DPA tercinta saya itu mau segera berubah pikiran ya..

Jadi target utama saya bulan ini ya itu : SE-KE-RIP-SI.
Pekan depan baru mau mulai bimbingan awal nih, doakan yaa.... Semoga yang ikut mendoakan nanti juga bisa memperoleh kebaikan yang serupa, aamiin..


GO GO GO SEKERIPSII

Wednesday, August 28, 2013

Road to TEMILNAS 2013

Nggak nyangka, rasanya baru kemarin ini TEMILNAS 2012, eh kok tau-tau besok udah TEMILNAS lagi. Dan apesnya kebetulan kok ya terjebak untuk ikut lagi. hoho -.-

Apa itu TEMILNAS?
Singkatan dari Temu Ilmiah Nasional, merupakan pertemuan ilmiah tahunan mahasiswa kedokteran terbesar di Indonesia.

Latar belakangnya?
TEMILNAS merupakan salah satu proker rutin dari BAPIN-ISMKI (Badan Analisis dan Pengembangan Ilmiah Nasional — Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia), bertujuan untuk menyambung tali silaturahim antar lembaga keilmiahan FK se-Indonesia, serta meningkatkan kompetensi dan pengetahuan mahasiswa FK di seluruh Indonesia.

Kapan?
Mulai dari tanggal 30 Agustus pagi sampai tanggal 3 September 2013.

Dimana?
Pada tahun 2013 ini TEMILNAS ditenderkan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (UNPAD).

Siapa pesertanya?
Seluruh delegasi terdaftar dari Fakultas Kedokteran se INDONESIA.

Acaranya ngapain aja?
Ya sama seperti tahun-tahun sebelumnya : presentasi Proposal Multi-Center, Gagasan Tertulis, Esai, Poster Ilmiah, Poster Layanan Masyarakat, Video Layanan Masyarakat, Fotografi, Simposium, Talkshow, Workshop, dan lain-lain.

Udah sejauh mana persiapannya?
Belum jauh, masih di sini-sini aja... :D hehe.



Nantikan berita selanjutnya ya! :)

Monday, August 26, 2013

Wanita Menikah yang Berkarir -- Sunnah pun Tidak

bismillaahirrahmanirrahiim..

Sebenarnya postingan ini semi-curhat juga.. Berawal dari keseringan saya menjumpai berbagai pertanyaan dari teman-teman mengenai pernikahan; entah itu "gimana rasanya menikah?", "susah nggak nikah?", "dulu gimana kok bisa ketemu sama si mas?", dan kawan-kawan, ada satu pertanyaan yang sedikit menggelitik, "kalo menikah trus nanti gimana kuliahnya? trus nanti karirnya gimana dong?" Terlebih beberapa teman perempuan yang curhat ke saya tentang penundaan mereka menikah ya karena orangtua mereka menyuruh mereka berkarir dulu dan baru menikah kemudian.

"Buat apa sekolah susah-susah, mahal-mahal, kalo ujung-ujungnya justru malah cuma jadi ibu rumah tangga??" -ini termasuk pertanyaan paliing sering yang saya dapat.

Jujur, dari dulu saya juga nggak pernah berpikiran untuk menjadi ibu rumah tangga.. Saya lahir dan besar dalam keluarga dimana ibunda dan bapak saya semuanya bekerja.. Bapak ngantor dari jam 7-sampai siang, dan sorenya wirausahawan (bapak punya perusahaan kecil-kecilan pembangunan perumahan gitu). Sedangkan ibunda saya justru lebih padat lagi, dari jam 7.00 sampai siang jaga poli di rumah sakit daerah, lalu sore sampai malam jaga praktek di rumah sakitnya sendiri.. Pulangnya biasanya jam 22.00 ke atas,, dan itupun jam dua pagi masih sering bangun dan ke rumah sakit lagi untuk operasi..

Saya dan adik-adik saya jaraang sekali bertemu orangtua, tapi ketika ada beberapa jam waktu bersama di rumah, pasti akan termanfaatkan dengan maksimal..

Karena kondisi orangtua yang sama-sama bekerja itu lah, kami sekeluarga sudah biasa membagi tugas merata ke semua anggota keluarga.. Kalau ibu belum pulang, ya kadang bapak yang masak. Nanti siapa yang masak, siapa yang cuci, siapa yang ngunci-ngunci rumah, dan lain lain.

Nah, ketika menikah, saya menemukan potret keluarga yang lain. Keluarga suami saya itu mom-center. Yang bekerja ya cuma abah, sedangkan yang lebih sering di rumah ya ummi..  Berhubung ummi itu full ibu rumah tangga, dan aktivas beliau juga hanya di sosial (jadi ketua GRAPYAK, ngisi pengajian di mana-mana, kegiatan-kegiatan Salimah, dan kawan-kawan) jadi ya memang semua pekerjaan yang di rumah dilakukan ummi..

Di sini bedanya.. Saya waktu awal-awal menikah itu jadi semacam culture shock. Biasanya di rumah saya, semua orang bertanggung jawab sama dirinya sendiri. Apalagi beberapa tahun ini kan saya cuma tinggal sendirian di jogja. Kalau makan ya piringnya dicuci sendiri, kalau pingin makanan lain ya masak sendiri, dan sebagainya. Nah, padahal di keluarga suami itu sistemnya mom-center, ya semua pekerjaan rumah wajib dilakukannya sama si istri. Yang pihak laki-laki itu ya makanan dimasakkan, disiapkan, dicucikan, dan sebagainya. Contoh sederhananya, kalau saya nggak makan ya suami juga nggak mau makan. Repot kan.. ^^"

Nah,, akhirnya kita baru diskusi.. Gimana baiknya untuk ke depannya..

Kalau secara cita-cita, suami dan keluarga suami saya itu sangat mendukung cita-cita saya untuk menjadi dokter spesialis kandungan seperti ibunda saya (berhubung saya kan diwarisi rumah sakitnya itu).. Tapi apa saya akan sesibuk ibunda saya, itu kan pertanyaannya.

Beruntungnya, beberapa waktu lalu, saya dan suami berkesempatan datang di KRPH (Kajian Rutih Pagi Hari @Masjid Mardhiyyah) yang saat itu dibersamai oleh Ustadz Didik Purwodarsono. Tau lah ya, kalau ustadz didik itu kan pasti tentang parenting, hhe. Kebetulan waktu itu juga menyinggung tentang peran suami-istri di dalam keluarga.

Di sana beberapa poin yang saya camkan betul sampai sekarang, salah duanya adalah :
1. Seorang istri yang bekerja itu, sunnah pun TIDAK
2. Seorang anak berhak mendapatkan 3 ibu : ibu kandung, ibu susu, ibu guru

Saat poin pertama tadi dijelaskan, saya tercekat. Iya ya, sunnah aja enggak lho. Di sana ada kemuliaan Allah untuk wanita, katanya. Wanita itu, untuk meraih surga cuma tinggal patuh sama suami, sholat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, dan menjaga kehormatan. Gitu aja. Dan dia akan bebas masuk surga dari pintu manapun. Subhanallah banget kan..

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda :
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ
Apabila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kehormatan dirinya, dan taat kepada suaminya,Maka ia akan masuk syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki..[HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 1931]
Kata ustadz, kecuali dalam kondisi dimana istri yang bekerja itu untuk membantu perekonomian keluarga, dimana kalo si istri nggak bekerja maka akan mengganggu stabilitas keluarga..

Tapi, kata ustadz itu juga, kita perlu sadar sama lingkungan masyarakat dimana wanita juga dibutuhkan di dalam profesionalitas terutama untuk yang berhadapan dengan masalah akhwat..

Saya jadi ingat, duluu banget saya juga pernah tanya ke ibunda saya,
"Ibu nggak capek po seharian bekerja? Di luar banyak banget pasiennya, padahal di rumah juga masih harus macem-macem. Kenapa nggak bapak aja yang kerja?"

Jawaban ibu saya,
"Ibu nggak merasa sedang kerja kok. Bagi ibu ini hobi, karna ibu seneng banget kalo bisa menolong pasien. Lagipula, kalau bukan ibu, nanti para perempuan itu masa harus ke dokter kandungan yang laki-laki?"

Fyi aja, dokter kandungan itu pekerjaan yang berat lho, setiap kali ada konferensi bareng dokter-dokter kandungan, bisa dipastikan lebih dari tiga per empatnya adalah laki-laki. Bahkan di purworejo aja, dokter kandungan perempuannya ya cuma ibunda saya ini, yang lainnya laki-laki (kebayang kan ya banyaknya pasien yang datang ke ibunda saya)

Berdasarkan itulah, kemudian diambil keputusan, jadi dokter spesialis kandungan ya nggak apa-apa. Tapi tujuannya untuk aktivitas sosial, alias kita nggak mematok penghasilan dari sana. Sedangkan masalah penghasilan sepenuhnya dihandle sama suami saya, begituu. Setiap orang punya lahan da'wahnya masing-masing kan ya? Dan kami sepakat lahan da'wah saya ya melalui profesi saya itu, tanpa mengorbankan peran ibu rumah tangga sedikitpun.. :)

Btw, untuk poin selanjutnya, insyaaLLoh saya lanjut besok-besok, ini saya keburu ke kampus karna mendadak ada syuro' (padahal libur-libur) *_* btw lagi, saya ke kampus juga karna bosan di rumah nungguin suami pulang kerja, hehe. Masaknya nanti aja waktu udah mau ifthor ^_^

See ya! ;D

[UPDATE] ceritanya udah pulang dari syuro' ini, hehee, lanjut ya..

Kadang, setelah dijelaskan dengan penjelasan di atas itu, masih banyak yang kemudian berkomentar,
"Lalu buat apa sekolah tinggi-tinggi? Buat apa jauh-jauh? Buat apa mahal-mahal?? Kalo cuma jadi ibu rumah tangga aja, percuma dong!"


Hmm… apa benar, ilmu itu jadi nggak bermanfaat? Yuk kita bahas, sekalian sedikit banyak menyinggung poin nomor dua tadi.. ^^
Ini beberapa alasan versi saya, kenapa anak perempuan tetap harus sekolah, walaupun sejak awal sudah berniat untuk nggak kerja kantoran.. Sekali lagi, ini versi SAYA lho ya.. jadi dilarang protes ^.^
1. Ibu/istri rumah tangga yang berpendidikan akan dapat suami yang setara.
Sebuah artikel yang ditulis Susan Patton, seorang alumunus Princeton, sempat diprotes para feminis. Patton bilang kalau saat-saat di kampus Princeton-lah masa-masa emas wanita mencari jodoh, yang kalau bisa sesama mahasiswa Princeton, supaya secara intelektualitas setara. Karena setelah lulus dari Princeton, bakal susah mencari pria setara yang masih available (jomblo kalo istilah kita hehe). Para pria cenderung mencari wanita yang lebih muda & berpendidikan lebih rendah, jadi semakin tua & pintar wanita, semakin susah jodohnya. Ini kata Patton lho..
Artikel ini mungkin terdengar jahat, tapi suka nggak suka banyak kakak kelas perempuan saya yang akhirnya menikah dengan teman kampus, satu angkatan atau senior. Walaupun lebih banyaak lagi yang menikah dengan teman SMA, atau angkatan bawahnya atau atasnya di SMA (contohnya saya ini), tapi hal ini pun dikarenakan lingkungan dan culture yang sudah *sama* sejak di SMA (kultur SMA saya memang cenderung islami banget).
Nah, dengan kata lain, pada akhirnya dengan proses pendidikan inilah para calon ibu ini berhasil mendapatkan pria yang sama pintarnya, karena mereka sama-sama bersekolah, berpendidikan tinggi, dan berpergaulan luas :)
2. Ibu/istri rumah tangga yang berpendidikan akan mampu ‘mengimbangi’ suaminya.
Walaupun tidak bekerja di luar rumah, para ibu/istri ini akan rajin membaca berita, buku, meng-update diri dengan info terbaru, termasuk dengan bagian pekerjaan suaminya. Otak yang selalu terasah dengan kegiatan membaca dan menulis akan tetap tajam, karena sudah terlatih selama proses pendidikan beberapa tahun.
Dari sebuah artikel, seorang sarjana psikolog menulis di skripsinya kalau komunikasi adalah kunci kebahagiaan rumah tangga. Komunikasi di sini bukan hanya ngomongin tentang anak-anak aja lho ya, tapi juga isu-isu terkini seperti Pemilu 2014, krisis ekonomi Eropa, bentrokan di Mesir dan Suriah, harga saham, bencana alam, perusahaan bangkrut, pidato SBY, cerita film, kabar artis, kasus korupsi, pokoknya selain hal-hal domestik. Tentu, para istri yang berpendidikan akan jauh lebih mampu melakukannya dibandingkan dengan istri yang tidak berpendidikan kan? :)
3. Ibu/istri rumah tangga yang berpendidikan akan bersosialisasi dengan luwes dan percaya diri.
Seperti yang kita tau, sekolah nggak hanya menghasilkan technical skills aja, tapi juga interpersonal dan soft skills. Salah satu tugas para ibu/istri adalah menemani suami ke acara-acara kantor, yang otomatis membuat mereka harus bergaul dengan atasan atau bawahan suaminya. Mereka yang berpendidikan tentu akan percaya diri dan yakin dalam berbicara. Mereka punya banyak topik, termasuk bisa bilang, “oh.. saya juga alumnus kampus itu.. wah sempat diajar sama Pak Fulan?”. Ujung-ujungnya akan bikin suami bangga dan tambah sayang sama kita ^^
4. Ibu/istri rumah tangga yang berpendidikan adalah pendidik anak nomor satu.
Kalau yang ini sih nggak perlu diperdebatkan lagi yah.. Ilmu yang dipunyai sang ibu tentu bisa diaplikasikan di rumah tangga. Mulai dari masalah memasak, mengatur uang, berbelanja, mendesain rumah, sampai mendidik anak. Tentu si anak akan bangga kalau ibunya berijazah sarjana, bisa berkarir di luar rumah tapi memilih bersama si anak, daripada kalau ibunya nggak sekolah, jadi ibu rumah tangga karena nggak punya keahlian lain. Si anak pun punya perspektif yang setara untuk ayah-bundanya, sebagai role model yang sama hebatnya, sama pintarnya, sama baiknya. 
Masih banyak alasan lain kenapa anak perempuan harus sekolah. Kadang sedih ya kalau denger komentar yang merendahkan ibu rumah tangga yang berijazah. Padahal, mereka bisa membangun keluarga ya karena bersekolah. Kalau nggak sekolah, mungkin nggak ketemu suaminya, hehehe…
Pesan sponsor :: Jadi,, jangan halangi pendidikan anak perempuan hanya karena mereka ingin jadi ibu rumah tangga, seperti ibunya ya. Untuk para ibu/istri rumah tangga yang ingin sekolah lagi, kenapa tidak? ^^ Tetap semangat! :DD
PS : Kalau mau ada tambahan lagi dari para istri, silahkan lho ;)