Pages

Showing posts with label Tentang Cinta. Show all posts
Showing posts with label Tentang Cinta. Show all posts

Thursday, February 6, 2014

Bagaimana bila aku rindu pada mereka?

Mengutip salah satu puisi dalam buku kedua saya yang judulnya "Pintu Hati Pintu Langit"..
".....
Ada yang rindu...
Ia membisikkannya melalui sarana imaji
Melayangkan segenap prihatin akan jawaban yang terdiam,
membeku

Kesekian kali menanyakan
Ia rindu, katanya

Begitukah adanya tatapan mata yang menipu?
Tersenyum,
lantang menyirat ketiadaan
Sementara asa yang nyata adalah harapan

Beginikah yang menjadikan keengganan serupa permintaan
akan jawaban berbalut rindu?

Seperti ombak yang menghempas karang
Rindu tebal yang ganas
Tak habis tercurahkan sampai runtuhnya perkasamu

Seperti pena yang berdebu
Dan kertas yang menguning
......"
-Annisa Fitriani

Dan sekarang, lagi-lagi saya rindu...
Yang pertama jelas ke suami ya... hehehe... lama banget nggak liat beliau, terpisah jarak dan waktu. Masih setia menanti kabar kapan kepulangan beliau.

Yang berikutnya,, saya tujukan kepada mereka...

Mereka, sahabat-sahabat yang dulu dalam lingkaran yang sama...
Meskipun telah terpisah tempat menimba ilmu,, 
meski terkendala jadwal yang sering sekali bertubrukan,
tapi selalu saja berkumpul dengan mereka terasa seperti *kembali ke rumah*...

Mereka, rekan-rekan yang dulu bersama-sama membangun jalan cinta ini, jalan cinta dakwah..
Dengan sedikit sekali orang yang mau ikut andil bersama mereka,
dengan tak berhenti bekerja walau hasilnya belum terlihat di dunia,
toh yang diutamakan memang hanya istana di syurga Allah..

Mereka, yang waktu dan raga rela saya korbankan untuk bisa berpeluh dan berlelah-lelah bersamanya..
Tak peduli siang terik ataupun malam larut,
tak masalah entah hari kuliah ataupun hari libur,
seakan raga ini tak ada habisnya untuk digunakan beribadah bersama mereka..

Mereka, yang meski kadang terpisah jarak dan waktu, tapi selalu terasa rekat di hati..
Mereka, keluarga dakwah sekolahku....

Ingat sekali, dulu, ketika kaki ini sedang sedikit tertatih di jalanNya,
air mata jatuh sesenggukan,
seorang mbak berkata,

"ya.... memang seperti ini.... memang kita tidak seperti mereka, yang bersinar dengan hingar bingar kemewahan kampus... yang berdiri di depan dan memimpin pasukan elit di gerakannya.. yang bisa berjalan dengan kepala yang tertegak dan membusungnya dada, karna setiap langkah kakinya menjadi percontohan untuk diikuti.. yang slalu mendapatkan tepuk tangan serta pujian untuk berbagai aksi dan kesibukan yang dilakukan...
tapi mereka tak seperti kita... yang bisa terselamatkan dengan sifat qonaah karna tak perlu berebut hingar bingar kekuasaan... yang terjaga dari kesombongan hati karna setiap yang kita lakukan akan selalu terorientasi kepada Allah, karna kita tak punya kepentingan dunia yang merusak jalan kerja kita.. yang memang akan selalu ada di balik layar, namun akan menjadi orang yang tersenyum paling indah ketika bibit-bibit yang diperjuangkan mulai terlihat pesonanya..."

Dan saya dulu hanya bisa menangis... kalimat beliau praktis menjadi pengingat dan penguat ketika diri ini jatuh ke titik yang lebih bawah.

Saya sangat mencintai mereka,, apakah mereka juga?
Saya sangat rindu dengan mereka,,, begitu jugakah dengan mereka?

Seandainya boleh memilih, dan saya memang sudah pernah memilih,
tak pernah ada sedikitpun bayangan jika saya harus berpisah dengan mereka..

Bahkan dulu pernah berkata kepada murobbi bahwa saya lebih baik tetap disana daripada lahan dakwah manapun yang selainnya.

Tapi yang namanya takdir Allah, bukankah Ia yang memilihkan, dan bukannya kita?

Sekali lagi,,, ketika sudah seperti ini,,,, apa yang harus saya lakukan bila saya ingin kembali?
bagaimana....bila... saya... rindu....?

Ah, jangankan saya, Rasulullah saja rindu kok.....
“Mereka adalah umatku kelak, yang mana mereka belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tetapi mereka sangat merindukanku dengan tulus, ikhlas dan penuh rasa hormat kepadaku...

mereka adalah orang-orang yang melanjutkan perjuanganku dan tidak jarang pula mereka meneteskan air mata karena menahan rindu yang sangat kepadaku, 
aku rindu kepada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka…”

Kalian, para calon penghuni syurga,
dimanapun berada dan sedang apapun sekarang,
semoga slalu berada dalam lindungan dan cahaya dari Allah.... :"

Karna Tuhan tak pernah tidur, apalagi mendengkur!
semua ini jelas-jelas telah Tuhan ukur
mungkin dengan begini kita kan tahu bersyukur
mungkin dengan ini kita takkan pernah takabur

Karna satu persatu, seiring berjalannya waktu,
kita akan tahu sebenarnya yang Tuhan Mau
Tuhan ingin kita jadi manusia yang tangguh
Tuhan ingin agar kita tak mudah tuk mengeluh,
-Karena Tuhan Tau Kita Mampu-

Walladziina yu’tuuna maa aataw wa quluubuhum
wajilatun annahum
ilaa rabbihim raaji'uun.

ukhibbukum fillah.. lillah..

Tuesday, October 1, 2013

Akan selalu "Satu Shaf di Belakangmu", Sayang..

Mengutip sebuah tulisan karya Namarappuccino,,
"Aku tahu, kadang-kadang hidup itu tidak adil--menurut kita, meski sebenarnya Tuhan selalu bersikap adil pada manusia yang diciptakan-Nya. Tetapi pada saat kamu merasa hal itu sedang terjadi, dimana kamu merasa sedang jatuh dan dunia memusuhimu, aku di sini, di satu shaf di belakangmu ketika kamu sudah pulang nanti.

Kamu bilang, aku 'rumah'mu. Bukan bangunan atau gedung, tetapi aku. Jadi, sejauh apa pun kamu pergi, kepadakulah kamu akan selalu kembali. Karena itulah, aku selalu di sini tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dulu, sekarang, ataupun nanti. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang. Jadi, setiap hari, aku bersedia menunggu, menyiapkan teh panas sementara kamu mengambil air wudlu. Lalu aku akan bersiap untuk berdiri satu shaf di belakangmu.

Dan ketika kamu lelah, aku juga selalu di sini. Menyediakan bahuku. Menemanimu bercerita untuk mengurai semua kisah satu demi satu, lalu mencari jalan untuk mengatasinya berdua. Karena untuk melihat senyummu, aku masih dengan senang hati berada satu shaf di belakangmu. 

Aku akan selalu satu shaf di belakangmu, dalam sholat berdua, atau dalam menjalani hidup berdua. Tidak hanya ketika berbahagia, tetapi juga ketika kamu sedang pada taraf jatuh sehingga tidak punya siapa-siapa. Karena aku tahu, kamu selalu melakukan hal terbaik yang kamu bisa untuk menjaga bahagiaku. Yang kamu minta hanyalah, aku tetap selalu berada di satu shaf di belakangmu. Bukan untuk selalu menjadi buntutmu, tapi untuk berdoa bersama dan berterima kasih bersama atas semua bahagia."

Berkali-kali membaca tulisan di atas, dan berusaha benar-benar meresapi makna perkalimatnya..

Ya, aku akan selalu satu shaf di belakangmu, Sayang...
dalam sholat berdua, atau dalam menjalani hidup berdua..

Rasanya seperti flashback kembali, membayangkan perjalanan pernikahan kita yang sudah berjalan lebih dari 9 bulan ini..

Bagaimana sabarnya engkau menghadapi semua proses pembelajaranku, sebagai istri maupun ibu rumah tangga, dimana masih sangat banyak kekurangannya di sana sini..
Di mana aku saja tak tau harus menyediakan kopi atau teh kepadamu, tak tau apa saja makanan kesukaanmu  maupun yang tak kau suka, dan banyak yang lain..
Tetapi kau dengan sabarnya membimbingku, memberitahukanku banyak hal tentang dirimu, memaafkan segala kekikukan yang kubuat di rumah...

Ah, kau tak pernah meninggalkanku sebagai imam, Sayang,,
lalu bagaimana aku akan dapat meninggalkanmu sebagai makmum...?

Aku juga akan selalu ada di sini, di sampingmu...
Menyediakan bahuku..
Menemanimu bercerita untuk mengurai semua kisah satu demi satu..

Rasanya air mata ini benar-benar tak bisa ditahan untuk menetes sekarang...

Teringat berbagai aktivitas kita yang masih menyandang status mahasiswa,,
aku dengan program sarjanaku, dan kau dengan program mastermu, dan juga dengan pekerjaanmu..

Berkali-kali kita pulang dengan membawa banyak kelelahan dari kampus,
dengan berbagai lika-liku dan permasalahannya,,,
di tengah keberusahaanku untuk menyembunyikan segala lelahku, aku melihatmu, Sayang,,
kenapa kau juga tidak menunjukkan lelahmu..?

Padahal aku tau sekali betapa melelahkannya aktivitasmu itu,
betapa penatnya kepalamu mengejar berbagai hal,,
tapi kau selalu pulang dengan wajah yang tersenyum, seolah yang kau lalui itu semuanya menyenangkan..

"Bagiku, ketika bertemu denganmu, semua kelelahan dan kepenatan itu hilang entah kemana..."

Katamu, ketika itu
Ah, ternyata kau memang sengaja menyembunyikan itu semua dariku, Sayang...

"Aku rumah mu, Sayang..."
lirihku, menahan hati yang kembali teriris

"Aku akan selalu di sini tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dulu, sekarang, ataupun nanti.. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang..
Ketika kamu lelah, aku juga selalu di sini.
Menyediakan bahuku. Menemanimu bercerita untuk mengurai semua kisah satu demi satu,
lalu mencari jalan untuk mengatasinya berdua..

Karena untuk melihat senyummu, aku masih dengan senang hati berada satu shaf di belakangmu.."

Seandainya saja,, kita dipertemukan ketika telah selesai semua dunia perkuliahan,, tentu aku akan bisa lebih banyak mengurusmu di rumah, Sayang... Bukan malah terkuras banyak aktivitas di luar sana...

"Justru dengan menikah di waktu kuliah seperti ini, kita bisa belajar bersama-sama tentang toleransi... Tentang bagaimana membagi peran di rumah, dan tetap bisa berprestasi serta berda'wah di luar sana.. Bukankah itu tujuan awal pernikahan kita?" katamu lagi, sambil tersenyum

Ah, kau memang selalu bisa membuat airmataku terjatuh, Sayang,,
bukan karena sedih, justru karena aku bahagia,, sangat bahagia,
mempunyai seorang lelaki yang sungguh selalu bisa mengingatkanku akan syurga...

Karena aku tahu, kamu selalu melakukan hal terbaik yang kamu bisa untuk menjaga bahagiaku..
Yang kamu minta hanyalah, aku tetap selalu berada di satu shaf di belakangmu.
Bukan untuk selalu menjadi buntutmu, tapi untuk berdoa bersama
dan berterima kasih bersama atas semua bahagia..


Dan aku juga akan selalu berusaha yang terbaik untuk menjaga bahagiamu, Sayang, bahagia kita... :')

Friday, September 20, 2013

Surprise Again

subhanallah.... alhamdulillah...

Ketika sedang ribet menyelesaikan power point untuk berangkat ke Semarang nanti sore (dan rela membolos kuliah pagi ini), mendadak mendapat sms dari seseorang..... dan menjadi kejutan bahagia yang ke sekian di bulan ini

Dosen DPA saya menawarkan sebuah research milik beliau, yang juga dibimbing langsung oleh beliau. 

Surprise? Bangeeett... Kan jadi sedayung dua pulau, bisa untuk skripsi saya juga :D (yang dari kemarin belum juga tersentuh lagi, hehe)

Jadi ingat lagi sama postingan saya kemarin di awal bulan, kejutan dari Allah itu memang slalu nggak bisa diperkirakan dan disangka-sangka ya.... subhanallah... :')

Jadi semangat lagi deh bikin power pointnya,, hap hap semangattt!!! ^_^b

Untuk yang menanyakan, kenapa sih saya dan suami semangat banget untuk sekolah tinggi-tinggi, kenapa nggak mementingkan kerja dulu -- karenaa kami ingin anak-anak kami besok bangga punya orangtua seperti kami, dan menjadikan kami rolemode bagi mereka..

Kami ingin anak-anak kami besok melihat abinya sebagai seseorang yang sukses dari bidang akademik, dan juga melihat uminya yang walaupun hanya jadi ibu rumah tangga tapi juga punya background akademik yang kuat, jadi supaya anak-anak kami besok punya motivasi yang sangaaaat besar di akademik dan bisa jadi jundi-jundi Allah yang luar biasa di muka bumi... aamiinn.... :"D

*Cepat Lulus*
*Terus Berprestasi*
*Sekolah setinggi-tingginya*
*and become a GREAT mother*

Dedek sedang apa di atas sana?
Doakan calon abi dan umi mu ini yaa,,, semoga kita bisa segera dipertemukan... :""")

Wednesday, September 18, 2013

Skenario yang Terbaik

*
Engkau tahu, duhai tetes air hujan,
kering sudah air mata, tidur tak nyenyak, makan tak enak, tersenyum penuh sandiwara, 
tapi biarlah Tuhan menyaksikan semuanya. 


Engkau tahu, duhai gemerisik angin,
kalau boleh, ingin kutitipkan banyak hal padamu, sampaikan padanya sepotong kata,
 tapi itu tak bisa kulakukan, biarlah Tuhan melihat semuanya.
 

Engkau tahu, duhai tokek di kejauhan,
setiap kali kau berseru ‘tokekk’, aku ingin sekali menghitung, satu untuk iya, satu untuk tidak, lantas berharap kau berbunyi sekali lagi agar jawabannya ‘iya’, dan berharap kau berhenti jika memang sudah ‘iya’, 
tapi itu tak bisa kulakukan, biarlah Tuhan mendengar semuanya. 


Engkau tahu, duhai retakan dinding,
sungguh aku tak tahu lagi berapa dalam retaknya hati ini, besok lusa, mudah saja memperbaiki retakanmu dinding, tinggal ambil semen dan pasir,
 tapi hatiku, entah bagaimana merekatkannya kembali, 
tapi biarlah Tuhan menyaksikan semuanya. 


Wahai orang-orang yang merindu, maka malam ini, akan kusampaikan sebuah kabar gembira dari sebuah nasehat bijak. 
Kalian tahu, buku-buku cinta yang indah, film-film roman yang mengharukan, puisi-puisi perasaan yang mengharu biru, itu semua ditulis oleh penulisnya,,
Maka, biarlah, biarlah kisah perasaan kalian yang spesial, ditulis langsung oleh Tuhan.
..Percayakan pada yang terbaik..
*Tere Liye


Allah memang sebaik-baik pembuat skenario... sebaik-baik pemberi kisah... loving you as always, my dearest husband... :"")

Sunday, May 26, 2013

kalimat cinta dari murobbi


Aku mungkin terlalu terbiasa dengan cintamu yang cahaya, hingga harus kututup mata untuk meyakini semua benar..

Sore itu hujan ketika kami melingkar hangat di rumah murobbi tercinta..
“Apakah sasa sudah siap? Perasaan anti bagaimana?”
Diam, hanya bisa diam.
“Sa? Apa anti siap dengan seseorang yang berbeda manhaj dengan anti?”
“Aku nggak tau mbak..” akhirnya kubuka suara. “Aku nggak tau, benar-benar nggak tau. Yang jelas aku tau, aku masih ingin di sini..”
Si mbak terdiam, memandangku penuh makna. “Sa,, anti masih mampu di da’wah sa.. tenaga anti masih dibutuhkan di sini.. sepertinya permasalahan ini sebaiknya dipending dulu..”

Waktu itu tahun 2011, ketika tawaran datang dari seseorang bermanhaj salaf. Seseorang yang bahkan sudah berbicara pada orangtua saya. Sayangnya saya memang belum terpikir ke arah sana, sama sekali, dan akhirnya saya pun mengambil keputusan untuk mengikuti saran murobbi saya. Ya, saya masih ingin di sini, saya belum ingin menerima siapapun.. dan alhamdulillah, keputusan itu merupakan keputusan terbaik pada saat itu..

======

Waktu-waktu selanjutnya kemudian saya habiskan untuk fokus di da’wah,, bersama lingkaran hangat saya tersebut.. Sampai suatu ketika, tawaran itu datang kembali, dari seseorang yang berbeda, namun kali ini dari manhaj yang sama..

“Sa.. bagaimana pendapat anti?”
Lagi-lagi saya hanya bisa menjawab lirih, “Aku nggak tau mbak..”
“Orangnya memang insya Allah baik, Sa.. Dan alhamdulillah satu manhaj.. Tapi,, apa sasa sudah siap mengambil keputusan?”
Saya menggeleng waktu itu, “enggak mba,, belum... aku belum bisa,, aku belum mampu..”
Terdiam lama hingga akhirnya si mbak merengkuh kepala saya dengan penuh kasih, “ya sudah,, jangan dulu.. memang sepertinya beliau baik, tapi ada pendapat orang yang berkata lain.. Sasa di sini dulu aja ya..”
Masih di penghujung tahun yang sama, saya kembali mengambil keputusan itu.. keputusan untuk belum menerima siapapun.. dan saya bersyukur sekali, dalam masa-masa itu saya selalu dalam pengawasan murobbi tercinta saya,, karna ternyata keputusan itu tak pernah salah...

=====

Sampai pada akhirnya,, ternyata saya dipertemukan oleh seseorang yang diam-diam mencuri perhatian saya.. ya, seseorang yang belum lama saya kenal, tapi sudah berani menunjukkan kesungguhannya dengan mendatangi langsung orangtua saya..
Kembali, saya berbicara dua hati dengan murobbi tersayang..
“Sasa... bagaimana? Mbak kemarin udah baca proposal beliau...”
Bagaimana? Yang saya tau, sore itu terasa syahdu sekali, kami duduk bersampingan di lantai bawah kantor DP*.. kesyahduan itu ditambah keheningan dari saya, karna saya benar-benar tidak tau harus merespon apa.
“Mbak udah nyari info tentang beliau ke murobbi di atas mbak,, dan insya Allah beliau juga kader, Sa... Orangtua beliau juga da’i,, bahkan ibu beliau merupakan kader inti.. Insya Allah tujuan pernikahan ini merupakan salah satu kemaslahatan umat, Sa..”
Saya masih diam,, memandang bendera yang berkibar-kibar di seberang mata saya.. Apa saya benar-benar harus menyiapkan diri untuk menerima? Atau saya bisa mengambil keputusan seperti waktu-waktu terdahulu? Yaa muqollibal quluub...
“Sasa... udah istikharoh..?”
Saya menggeleng pelan, masih menatap hening pemandangan di kejauhan.
“Sasa istikharoh dulu ya,, insya Allah semoga diberi Allah jawaban yang terbaik..”

Ya,, dan kemudian butuh beberapa waktu bagi saya untuk memikirkan hal ini masak-masak.. menimbang segalanya.. menyusun pondasi-pondasi jawaban...
Dan di dalam proses itu,, entah sudah berapa kali kami (saya dan murobbi) berbicara dua hati.. yang tetap saja masih belum bisa membuat saya yakin jalan mana yang harus dipilih.. Persoalan ini benar-benar rumit menurut saya.. jika orang lain yang sudah saling cinta dan ingin menikah biasanya mendapat berbagai halangan entah dari pihak apapun, tapi cerita saya lain. Di cerita ini justru pihak lain lah yang telah bersikukuh meneguhkan, entah murobbi atau bahkan orangtua, tapi saya sendiri malah cenderung belum bisa memutuskan..

“Apa yang mengganjal di Sasa? Kenapa sepertinya justru nggak senang?” tanya beliau di sore yang kesekian.
“Aku... nggak tau mbak... Aku kayaknya belum bisa meninggalkan semua yang ada di sini.. aku masih ingin di sini mbak,, di da’wah ini... Aku kemarin juga udah bilang ke beliau,, kalau aku lebih ingin berada di sini,, dibanding apapun...”
“Sasa... menikah itu bukan berarti kemudian hilang dari amanah..
Justru dengan menikah seharusnya lebih banyak lagi amanah yang bisa diemban.. Dengan menikah, justru Sasa mendapat tambahan amanah baru.. entah itu sebagai istri, ataupun sebagai menantu, dan bahkan sasa mendapat amanah sebagai anggota masyarakat dengan status menikah itu... amanah ada dimana-mana Sa,, da’wah ada di mana-mana... kalau sasa mau, Sasa juga masih boleh ada di sini.. kami sangat menerima Sasa kok... walaupun kemudian, memang tanggung jawab Sasa kemudian pindah ke suami,, bagaimanapun juga da’wah ini tidak boleh mengalahkan bakti Sasa ke suami..”
“Hhh... nggak tau mbak...”
Si mbak memegang tangan saya pelan, “apa yang sebenarnya mengganggu Sasa? Apa yang mengganjal?”
Saya waktu itu cuma bisa tertunduk, berusaha mengumpulkan segala keberanian untuk mengatakan ganjalan terbesar selama ini. “Aku... nggak mau ngelangkahin Mbak... Mbak kan belum menikah.. harusnya mbak dulu, baru aku...”
“Ya Allah, Sasa.... nggak boleh bilang seperti itu, Sa..” si mbak menepuk punggung tangan saya berkali-kali. “Sasa percaya kan kalau jodoh itu sudah ada yang mengatur? Sasa percaya kan kalau jodoh masing-masing orang itu tidak pernah terlambat? Nggak ada kata ngelangkahin Sa,,, nggak boleh bicara seperti itu.. Mbak nggak apa-apa kok kalau Sasa yang menikah duluan,, nggak jadi masalah Sa.. Yang jadi masalah justru kalau amanah Sasa tidak terkondisikan setelah Sasa menikah..
Bismillah,, sasa dimantepin aja ya Sa.. insya Allah ini yang terbaik bagi Sasa maupun bagi umat... Barokallah...”

=====

Dan akhirnya,, saya benar-benar memilih jalan itu... ya, saya memilih jalan menerima seseorang itu... seseorang yang kemudian kini menjadi suami saya, dan saya sangat bahagia telah memilih jalan itu.. Saya bahagia ketika akhirnya melangkahkan kaki ke jenjang itu, hingga sekarang, dengan mengikutsertakan segala keping-keping kalimat cinta dari murobbi saya.. Seperti kata suami saya yang begitu cinta dengan tarbiyah, saya juga.. saya cinta dengan tarbiyah ini, dan juga dengan murobbi saya.. Karna di jalan da’wah inilah kami menikah... :’) 
#dan saya juga cinta dengan suami saya ;) hehe




catatan hati seorang istri

Telah kutinggalkan cemburu disudut kamar gelap
telah kuhanyutkan duka pada sungai kecil yang mengalir dari mataku 
telah kukabarkan lewat angin gerimis tentang segala catatan hati,,,
....yang terhampar di tiap jengkal sajadah dalam tahajud dan sujud panjangku...




Saat cinta berpaling,.. dan hati menjelma menjadi serpihan-serpihan kecil... saat prahara terjadi... saat ujian demi ujianNya terasa terlalu besar untuk ditanggung sendiri, kemanakah seorang istri harus mencari kekuatan agar hati dapat terus tetap bertasbih?... -Asma Nadia

****kemanakah? bukankah hanya kepada Allah semata kita seharusnya mengadu? :)

Wednesday, April 24, 2013

Marriage isn't a Cinderella Love Story


Marriage isn’t a Cinderella Love Story

Kenapa saya tiba-tiba menulis tulisan ini di tengah himpitan jadwal ujian yang sedang berlangsung? Bukan, bukan karna saya baru saja menonton film Cinderella. Jawabannya mudah : saya sedang melarikan diri dari stress pasca ujian Osce tadi siang =,=

Kalau secara konten, sebenarnya saya sudah ingin membuat tulisan tentang ini sejak bulan lalu. Kenapa? Simpel, karena sejak saya menikah 3 bulan yang lalu, semua orang yang bertemu saya rata-rata menanyakan hal yang sama, “menikah itu rasanya gimana sih?”, “menikah itu enak nggak?” atau bahkan ada juga yang mengemukakannya dalam bentuk judgement, “sasa sekarang wajahnya bahagia terus ya, pasti pernikahannya nggak ada masalah deh.”

Kira-kira seperti itu yang sering menjadi pertanyaan besar bagi siapapun yang belum berada di tengah-tengah pernikahan itu sendiri. Entah itu statement atau pertanyaan, atau bisa jadi keduanya. Meski tetap saja, ketertarikan banyak orang terhadap pasangan yang menikah muda tak bisa ditampik.

Beberapa kali, rekan orangtua saya juga sering menanyakan pertanyaan yang sama pada saya, yang kurang lebih menuntut jawaban mengenai motivasi kami menikah muda, padahal keduanya masih sama-sama menuntut jenjang kuliah. Menurut saya, motivasi memang sangat menentukan persepsi susah atau tidaknya sesuatu, atau paling tidak timing dan responnya.

Jadi, sebelum menjawab pertanyaan tadi, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenali kembali motivasi kita. Jangan sampai, saat kalian memilih untuk lanjut ke jenjang pernikahan, motivasi yang kalian punya adalah hal-hal yang rapuh, lemah, yang tidak cukup kuat untuk meyakinkan diri kalian pada titik-titik nadir.

Contoh sederhana, menikah karena suka-sama-suka, menikah karena sudah melampaui usia lanjut, atau bahkan ada yang terpaksa menikah karena suatu kasus tertentu (oalah, kalau menikah cuma sekedar menikah, mana ada ‘arsy Allah sampai bergetar ketika janji suci terucap? menikah adalah panggilan hati, menjadi seorang istri -ataupun suami- layaknya seorang pemegang amanah besar yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya; it’s not about the status anymore), atau mungkin juga karna keinginan-keinginan lain yang kalau saya tanya, “Kamu yakin alasan itu bisa membuat kamu bangkit dari titik terendahmu jika kelak kalian ada goncangan dalam pernikahan?”, kalian akan menggeleng kuat dan menyatakan tidak.

Mengapa? Karena sesungguhnya, dalam hal apapun, peperangan paling berat terjadi dalam diri kita sendiri. Salah satu bentuk jihad yang utama (jihad itu artinya perjuangan lho, struggle) adalah jihad melawan hawa nafsu.

Terlebih tentang menikah di usia muda, yang mana masih menuntut ilmu di jenjang kuliah. Jauh sebelum rumah menjadi berantakan atau hasil masakan yang kurang sesuai harapan, kalian sudah dikalahkan oleh keinginan untuk menyerah dalam berusaha. Jauh sebelum kalian bertengkar karna permasalahan yang sama, kalian sudah akan dikalahkan oleh penolakan untuk belajar dari kesalahan sebelumnya.

Jadi, jawaban untuk pertanyaan ‘menikah itu sulit nggak sih’ juga kuat dipengaruhi oleh niatnya, motivasinya.

Jika ditilik dari segi proses pembelajarannya, memang, menikah di usia muda memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Banyak hal yang harus dipelajari, dipahami, diresapi, dalam usia yang masih begitu dini. Tentang bagaimana mengatur waktu antara jadwal kuliah yang subhanallah dengan memenuhi kewajiban sebagai ibu rumah tangga. Bagaimana memenuhi amanah sebagai masyarakat sosial di lingkungan sekitar, sementara masih banyak tanggungan dari buku-buku yang tebal dan menyesakkan besarnya tapi sama sekali tak bisa kau tolak untuk dibaca, materi-materi yang rumit dan komprehensif, serta tugas-tugas perkuliahan yang luar biasa menyita waktu. Belum lagi tentang bagaimana membagi diri dari satu amanah dengan amanah lain yang berada di luar perkuliahan maupun lingkungan kemasyarakatan.

Maksud saya begini, apa yang harus dijalani dalam proses pernikahan di usia muda memang menantang, tapi menyerah atau tidaknya kita, kembali pada diri kita masing-masing.

Apakah hal yang menantang itu akan menjadi sesuatu yang kita pandang sebagai sesuatu yang sulit, atau sesuatu yang menyenangkan?

Maksudnya menyenangkan?
Saat kita punya tujuan yang jelas, maka hati, akal, dan jasad kita akan saling bersepakat untuk saling menguatkan menuju tujuan itu. Kita akan mempunyai kombinasi perasaan yang luar biasa : senang, semangat, teguh. Lagipula, senang di sini bukan berarti tidak ada tangisan disana, tapi senang yang menetap; senang yang bermula dari benih lalu tumbuh menjadi pohon yang besar. Bukan senang yang periodik. Mungkin, pada masa-masa saat kami ada masalah dalam rumah tangga, saya akan sering menangis; saat amanah-amanah yang ada menuntut saya berbuat lebih banyak, saya juga akan menangis, tetapi setelah itu, saya bahagia. Bersyukur karena Allah masih memberikan begitu banyaak kesempatan yang harus saya tempuh untuk mencapai mimpi saya, untuk meraih surga, dan kebahagiaan itu akan menjadi penghubung bagi kebahagiaan-kebahagiaan saya selanjutnya. InsyaaLLoh.

Berat, iya. Tapi pertanyaan intinya bukan itu. Pertanyaannya adalah, apakah kita memiliki determinasi dan istiqomah untuk berdo’a, berjuang, dan bertawakkal agar rasa berat itu menjadi ringan?
Agar Allah mempermudah segala kesulitan.
Agar Allah membimbing segala langkah kita.
Agar Allah mendukung segala perjuangan kita.
Agar ridho dan syurga-Nya menjadi hadiah terbaik dari-Nya.

Jadi, pertanyaan ‘menikah itu sulit nggak sih’ adalah pertanyaan yang multidimensional, dan meskipun beberapa orang berpendapat bahwa pertanyaan itu bisa dijawab dengan ‘ya’ atau ‘tidak’, ketahuilah, jawabannya tak pernah berhenti sampai di sana.

Karena, memilih untuk menikah di usia muda artinya memilih bagaimana kamu akan menjalani peran dalam kehidupanmu selanjutnya.

Di dalam pernikahan, kalian belajar bukan untuk diri kalian sendiri. Kalian menangis, sakit, sedih, tertawa, berjuang, bukan untuk diri kalian sendiri. Murni, untuk Allah, dan untuk orang-orang yang diamanahkan menjadi pasangan kalian. Juga untuk jundi-jundi Allah yang besok Ia titipkan kepada kalian.

Yang akan menjudge kalian, bukan para teman, bukan orang tua kalian, tapi Tuhan kalian. Sosok yang akan kalian hadapi saat hari penghitungan kelak.

Memilih menjadi mahasiswa kedokteran, dan menikah di usia muda, adalah salah satu pilihan terbesar yang pernah saya ambil. Makna penuh tentang tanggung jawab menjadi semakin akrab dalam kehidupan saya.
Ya, ini tanggung jawab saya.
Subhanallah.

Jadi, sebelum membulatkan hati untuk memasuki dimensi pernikahan ini, luruskan dan teguhkan kembali niat kalian. Bismillaah. Yakinkan diri kalian,
Menjadi istri –ataupun suami- adalah bentuk ketaatanku pada Allah.

Setelah itu, mari bergabung bersama, kita ikhtiarkan untuk bersama-sama menggapai jannah-Nya yang kita nanti-nantikan. InsyaaLLoh, jalan ini akan menjadi jalan yang paling kita syukuri sejak saat ini dan seterusnya. J

Tuesday, April 23, 2013

kamu yang berulangtahun ;)

Hey kamu yang disana, iya, kamu ;)
Ketika selesai membaca tulisan ini, kau akan tau kenapa aku menuliskannya untukmu, my dearest sister :)

Tak terasa sudah belasan tahun aku memilikimu sebagai adik,, dan sekarang usiamu sudah akan berganti menjadi 17 saja :’)

Kau tau? Lebih dari 16 tahun sebelumnya, aku pernah mendoakan untuk kehadiranmu. Ya,aku menginginkan seorang teman untuk bermain di rumah, begitu pikirku ketika kecil. Menjadi cucu tertua memang sedikit membosankan bukan? Di rumahpun belum ada saudara yang seusia ketika itu, padahal kami tinggal lengkap dengankeluarga besar.

Maka aku berdoa kepada Allah, aku mendoakan untuk kehadiranmu.
Dan Allah Yang Maha Baik ternyata mengabulkan doaku itu..
Terbukti usia kita yang hanya terpaut sedikit tahun.

Tujuh belas tahun lalu, ketika kau keluar dari rahim ibu kita yang terkasih, adabanyak doa di sana, bersamamu. Doa-doa dari orang tersayang, tak hentinyamendoakan agar berkah Allah menaungimu. Sedangkan aku? Ah, aku bahagia sekali waktu itu. Akhirnya aku punya seorang teman bermain di rumah.

Aku menjagamu dan ibu setiap hari, bahkan ketika keluarga yang lain bergantian pulang dan istirahat, aku tidak. Aku tidak meninggalkan kamarmu dan ibu. Aku tidur dikasur samping ibu, sedikit-sedikit menengok ke arahmu, takut kamu menangis ataubutuh apa. Berbekal gamewatch untuk mengusir rasa bosan yang sesekali melanda, aku bertekad untuk menjaga kalian waktu itu.

Masih sangat teringat ketika suatu hari padhe Was’an menjengukmu dan ibu. Aku dengan antusiasnya memperkenalkanmu, anggota baru keluarga kami. Tapi kejadian selanjutnya membuatku sebal. Pakdhe justru menggodaku dan bilang kalau akan membawamu pulang, menjadi anak beliau. Aku melotot. Nggak boleh, itu nggak boleh terjadi. Kamu kan temanku bermain, kalau kamu dibawa pakdhe, lalu besok aku main sama siapa?

Aku ingat sekali, sepanjang hari itu aku nggak berhenti melepaskan pandanganku dari arah pakdhe yang terus menggendongmu. Aku terus membuntuti pakdhe kemanapun pakdhe bergerak. Dan ketika pakdhe benar-benar membawamu ke luar kamar, kemudian menuju pintu depan, aku langsung mengejarnya. Pakdhe nggak boleh ngambil kamu, kamu kan temanku.

Hmm...sebuah kisah yang pasti bukan hanya aku saja yang masih ingat, tapi juga keluarga kita yang lain.. Betapa ngototnya aku ketika itu –dan juga sampai sekarang—karna nggak mau kamu diambil pakdhe, atau siapapun..

Nggak terasa kau kini sudah tumbuh besar ya? :) Ingin rasanya menyampaikan banyak hal padamu, tapi aku sadar jika diri ini sangat terbatas dalam berkata-kata.. Maka inilah yang ingin kukatakan padamu..

Detik demi detik berlalu, begitupun dengan tahun. Kita sama-sama tau, sudah banyak yang kau lalui untuk sampai di hari ini, di detik ini.. Dan memang tak hanya ada suka di sana, tanpa luka ataupun duka. Kita sama-sama menyadari, bahwa kita belum sempurna dalam menghadapi beberapa kejadian, baik itu kejadian suka maupun yang luka, meski terlebih sering kejadian luka lah yang mengambil porsi lebih besar.

Taukah kau? Ketika kau menangis saat itu, ketika kau merasa air matamu tak kunjung habis juga, aku bisa merasakan itu. Ya, seperti aku bisa merasakan hati ini ikut sesak ketika kau tersakiti, atau saat  takdir memilihkan jalan yang berat kepadamu, aku bisa merasakannya. Karena hatiku terluka ketika itu. Hatiku ikut menuntut keadilan Allah untukmu. Bagaimana mungkin orang yang slalu kusebut namanya di sholat-sholat malamku justru Ia buat menangis tak henti seperti itu. Berkali-kali ujian itu datang padamu, dan berkali-kali pula aku menuntut kenapa tidak semua luka itu diberikan kepadaku saja, semuanya, tanpa sisa. Hingga kau tak akan lagi merasakan kesedihan, dan satu-satunya yang terukir di wajahmu adalah kebahagiaan.

Tapi kemudian kita sama-sama mengerti, bahwa setiap potongan kejadian ini akan mendewasakan kita. Inilah cara Allah, untukmu dan untukku. Maka kemudian kita hanya bisa meneruskan cerita. Kita cukup bertahan dulu, dan mempercayai jika sakitnya pasti akan berlalu. Benar, kita memang bisa melupakan saat-saat kita bersedih dan terluka, tapi aku tau sakitnya tetap akan terkenang; dada yang perih, perasaan yang tak pernah cukup diwakilkan pada kata-kata. Barangkali sudah kering air mata, dan kita tak perlu menangis lagi, tapi sensasi hangat yang menjalar di tebing pipi kita masih akan tetap terasa,, saat- saat dimana kita jadi manusia yang lupa cara bicara.

Aku tahu rasanya seperti apa. Tapi tenanglah, masih ada banyak doa yang bersamamu.. Kau hanya perlu yakin, selama kau terus berjalan, pasti akan ada suatu titik dimana hatimu akan mengatakan, "Ini. Di sini aku menemukan penuh kebahagiaan."  Maka, ketika itu kau bisa memutuskan untuk berhenti berjalan dan tinggal. Menikmati sejenak kebahagiaan itu.

Sebelum kau selesai membaca tulisan ini, kau harus mengingat satu hal.. "Selesaikan apa pun yang kamumulai". Hidup adalah hidup, selesaikan. Kalaupun kau dihantam dari segala sisi kehidupan, jangan berhenti. Selesaikan 'pertandingan'mu. Jadilah orang yang berjiwa besar. Terima kekalahan jika memang kau kalah, dan berbagilah kebahagiaan jika kau menang.

My dearest... Kau kini memang membacanya ketika usiamu menginjak angka 17. Tapi besok, entah beberapa bulan lagi, setahun, atau jauh setelah ini, jika kau merasa lemah, kaubisa membaca tulisan ini lagi, lalu bangun dan berjalan lagi.. Terus saja sampai 'pertandingan'mu berhenti. Apa pun, jangan sampai kau yang memutuskan untuk berhenti, karna kau punya banyak tangan yang akan mendorongmu berjalan. Biar Allah yang memutuskan kapan kau boleh berhenti..

Untuk itulah tulisan ini kubuat, untuk mengingatkanmu tentang orang-orang yang ada di belakangmu untuk mendukungmu dan mendoakanmu. Bahwa seperti ketika kau lahir di dunia ini, kamipun masih berbahagia membersamaimu dalam tujuh belas tahun ini, mendoakanmu agar selalu dalam kebaikan..

Tulisan ini, aku akhiri disini.., barokallahufiy umrikum my dearest... :)


Thursday, February 14, 2013

dia yang kurindu... :')

"Tunggu mas ya,, insya Allah besok kamis mas pulang,, jum'at pagi udah di jogja :)"

Alhamdulillah,,, tiga hari ini saya sedang bahagia.. ^_^ kenapa?
karena si mas mau pulang ke Jogjaa.. ^__^ #lompat2 kegirangan

Eouforia kepulangan si mas ini mungkin cukup berlebihan dan dramatis, sampai-sampai semua teman kampus saya tau tentang hal ini gegara dari kemarin senyum saya nggak ilang-ilang dari wajah, hihihi. Tapi saya nggak takut dibilang lebay kok, toh nyatanya saya memang kangeeennn bangett sama suami ganteng saya itu T^T

Ternyata saya memang terlalu menganggap remeh LDR... Kemarin-kemarin (beberapa hari setelah akad), sewaktu si mas meminta ijin buat balik ke Bandung tanggal 6 Februari, saya langsung mengijinkan.. Nggak kepikiran apa-apa pas itu.. Sewaktu si mas bilang kalau di Bandungnya bisa sampai 1 bulan, dan ke Jogja lagi baru sekitar Maret, saya tetep aja ngijinin si mas buat pergi..

Setelah beberapa waktu berlalu... Setelah beberapa hari mulai terbiasa hidup bersama suami sholeh ini dan mulai terbiasa melakukan segala aktivitas bersama beliau,,, ternyata saya mulai nggak rela kalau ditinggal pergi sama si mas...

Mendadak jadi kepikiran banyak hal..

Kalau si mas pergi nanti, lalu siapa yang nanti jadi temen balapan jalan cepat ketika mau sholat ke masjid,,? siapa yang nemenin sholat sunah di rumah,, siapa yang nemenin ngaji dan mbantuin ngoreksi bacaan,, siapa yang nemenin pergi ke kajian-kajian,, siapa yang nemenin nyelesaiin buku-buku tentang pernikahan.. Belum lagi, siapa yang nanti nemenin silaturahim ke orang-orang perihal kegiatan masjid,, siapa yang nemenin ke kampus,, yang nemenin jalan-jalan dan yang lain..... :"O

Huhuhu dan hari-hari menjelang kepergian si mas fix menjadi hari-hari yang sangat dramatis dan mellow dalam sejarah hidup saya.. T_T

Tapi saya berusaha menanggapinya tetap positif,, saya benar-benar menggunakan sisa-sisa waktu itu to have some quality time bersama suami saya..

Walaupun tetap saja, ketika hari H menjelang, ketika kami bangun tidur untuk menunggu waktu shubuh, air mata saya tidak dapat ditahan lagi... Tanpa sadar air mata saya terus menetes... Si mas yang menyadari air mata saya langsung memeluk saya dan berkata, "Tenang aja,, nggak akan lama,, cuma satu bulan..."

Dan saya tambah menangis... mendadak menyesali keputusan saya yang sudah mengijinkan beliau pergi satu bulan... huhuhu.. T,T

Saya masih ingat sekali, hari itu saya nggak pernah berhenti deg-degan... Saya bahkan menjadi kacau sewaktu memasak untuk sarapan, sampai akhirnya si mas memutuskan untuk ikut masuk dapur, yang sayangnya justru membuat dapur tambah kacau... hehehee... tapi hal itu kini menjadi kenangan manis sendiri buat saya... :')

Waktu diantar ke kampus untuk praktikum pun, saya juga nggak melepas tangan beliau sejenak pun, saya hanya takut nanti saya lupa bagaimana rasanya..

Dan datanglah detik-detik itu...
Detik-detik sebelum keberangkatan si mas.. Kami masih menyempatkan untuk sholat isya' bersama, berjama'ah, berdua saja, tak mau diganggu orang lain..
Detik-detik itu merupakan detik sholat paling syahdu bagi saya, saya menangis dalam tiap rokaat, mengingat besok paginya saya sudah tak sholat bersama beliau lagi..

Sampai di stasiun,, di sana sudah ada umi mertua dan juga adik ipar saya,,
umi tampak begitu khawatir pada saya dan menawarkan untuk menginap saja di rumah beliau.. Tapi saya menggeleng, justru di rumah beliau lebih banyak lagi kenangan saya bersama si mas, dan saya belum kuat untuk menghadapinya sendiri...

Kami kemudian berbincang-bincang di loby menunggu kereta si mas datang, walaupun lebih banyak umi dan adik ipar yang bersuara, saya sudah nggak bisa lagi mengeluarkan suara waktu itu..

Keretapun datang,, si mas salaman dengan adiknya, kemudian umi, dan terakhir ke saya..
Saya menangis lagi waktu itu, dan langsung dipeluk si mas... yang justru makin menambah deras lagi air mata saya..

Akhirnya ketika si mas pamit, ketika tangis saya masih saja nggak berhenti, umi memeluk saya kencang sembari memberikan nasihat,, dan mencium kedua pipi saya.. Bahkan umi mengajak saya pergi ke Malang bersama abah mertua juga, agar saya nggak terlalu bersedih.. Yaa Allah,, terimakasih telah memberiku umi mertua terbaik di dunia... :""")

Setelah hari itupun, saya seperti orang kehilangan separuh jiwa, karna jiwa saya terbawa ke Bandung.. Sampai akhirnya suara si mas kemarin lusa membangkitkan lagi semangat saya,

"Tunggu mas ya,, insya Allah besok kamis mas pulang,, jum'at pagi udah di jogja :)"

Euforianya memang sangat terasa ya, apalagi ini udah H-1.. ^^v Di rumahpun saya juga jadi heboh sendiri hehe, dari kemarin berusaha menyelesaikan semua tugas kampus supaya waktu si mas di Jogja bisa full bareng sama si mas... ^o^
#doakan saya yaa ^.^

Yuk mari bersih-bersih lagi.. ^__~
pict source : komikmuslimah

how do I miss you so much, dear... :"")


Wednesday, February 13, 2013

Still a better love story than Twilight... ^_^**



Bismillahirrohmanirrohim..
Berniat melunasi hutang ke teman-teman yang menanyakan kisah pertemuan dengan si mas.. Alhamdulillah puzzle ceritanya udah jadi,, smoga bisa terlunaskan ya.. ^^

Puzzle pertama : sebuah perkenalan
Lokasi : Loby SMAN 1 Teladan
Waktu : akhir tahun 2009

Semua cerita berawal di penghujung tahun 2009.. Saat itu saya masih kelas 2 SMA awal,, dan lagi ribet mau ada lomba... Lomba penelitian tingkat kota kayaknya,, lupa. Hehe.. Nah, waktu itu saya udah janjian sama pembimbing buat ketemuan di Teladan.. Lamaa banget gitu kok pembimbing nggak dateng-dateng juga,, yasudah lah saya ke loby aja, niatnya pingin duduk-duduk sambil mainan hape gitu (mumpung sofa di loby kan empuk banget hehee ^^)..

Beberapa menit berlalu.. saya merasa ada orang masuk loby, saya nengok, orang asing.. Yang jelas bukan pembimbing saya. Oke, lanjut lagi mainan hape,, nggak perduli sama sekali sama orang asing yang pas itu duduk di seberang saya. Lagi asyik-asyiknya mainan, mendadak orang asing yang tadi bersuara..

                “Eh dek, dek, njenengan POH (pengurus rohisnya Teladan) ya?”
                (bingung)
                “Itu, jaketnya njenengan. Iya kan?”
                (nengok ke jaket sendiri) “Oh iya, bener, kenapa ya?”
                “Saya dulu juga di POH, saya Ketua1 nya. Sekarang gimana kabarnya  rohis Teladan?”
                (bingung lagi. ini orang-asing-nggak-dikenal kok ya bisa-bisanya sok kenal nanya-nanya gitu..)
                “Dek?”
                “Oh iya mas, kabarnya sekarang ...gini... ..gini.. bla.. bla..”
                “Oh.. gitu.. hmm.. Kalau waktu kepengurusan saya dulu ...bla.. bla bla..”
                (hening) lanjut mainan hape lagi.
“Oh ya, njenengan namanya siapa dek?”
“Ha? Saya?”
(ngangguk)
“Sasa. Annisa Fitriani. Lha njenengan emangnya siapa?”
“Saya Hizbullah Abdul Aziz Jabbar...”
“Maaf, Hiz...siapa?”
“Hizbullah dek.. Itu lho baca aja namanya yang ada di papan..” (nunjuk ke papan berjudul *Siswa Berprestasi Tingkat Internasional*)
Saya noleh ke papan, dan bengong. Disana tulisannya :
**2006. Hizbullah Abdul Aziz Jabbar. PERAK. UKRAINA**
Dalam hati membatin “ini orang-asing sombong banget..ckck..” tapi mencoba khuznudzon, jadi ya saya diemin aja.... ^-^a

Hening lama banget.... Untunglah pembimbing saya mendadak datang, fiuhhh.. o__o Langsung aja pamit sama orang-asing itu dan saya pun pergi... *dan memoripun terhapus..*

Puzzle kedua : berpapasan
Lokasi : di depan kantin Salman ITB
Waktu : pertengahan tahun 2010

                Selesai InaYS, alhamdulillah dimasukkan ke daftar calon untuk ICYS.. Tapi tetep harus ikut seleksi lagi, barengan sama temen-temen lain yang dapet medali tingkat nasional dari lomba yang lain.. (nggak cuma dari InaYS aja..) Nah, seleksinya ini yang ngadain kan dari Surya Institute, lokasinya di Bandung.. Jadilah kami (saya dan tim) sering bolak-balik Jogja-Bandung gegara urusan ini..

                Suatu pagi.. bingung mau sarapan dimana.. akhirnya pembimbing kami ngajakin makan di kantin Salman ITB.. okelah, yuk mari, kan ditraktir.. Udah beberapa kali masuk ITB, jadi udah nggak bingung lagi sama tempat-tempatnya.. Pas mau masuk kantin Salman, ada juga seseorang yang mau keluar dari kantin. Sekilas ngelihatin, kok kayak pernah lihat, tapi saya waktu itu acuh aja, kan mau makan..

Ehh... si orang itu ternyata malah balik ngelihatin saya, trus tangannya nunjuk-nunjuk saya, “Eh, dek, dek, kayaknya kita pernah ketemu kan ya? Yang di loby Teladan dulu itu.. Kita pernah kenalan..”

                Saya (bengong lah ya...) “Hah? Siapa ya?” (itu kejadian kapan coba,, setahun silam... o__0)
                Beliau malah ketawa, “hahaha yaudah dek lupain aja.”
                Okey.... case closed... saya tinggal aja ngeloyor masuk kantin dan bersiap makan... laper.. -,-
                *dan-lagi-lagi memory terhapus*...

Puzzle ketiga : sebuah wall
Waktu : pertengahan tahun 2011

                Pertengahan tahun 2011.. beberapa waktu setelah pulang ke Indonesia, tau-tau muncul wall aneh dari orang-asing yang nggak-tau-sejak-kapan-jadi-friend-FB..

Kira-kira bunyinya : “Salam kenal dek. Sepertinya kita pernah ketemu dua kali ya. Yang di loby Teladan itu sama yang di kantin Salman. Oh ya, yang di Rusia itu lomba apa dek namanya?”

                Respon saya? Lagi-lagi bengong... Ini orang kenapa niat banget ya.. Kayak nggak ada kerjaan lain gitu, masa iya cuma sliweran nggak sengaja ketemu gitu aja diinget terus. Apa saya ngelakuin salah ya sama beliau... u,u padahal saya nggak inget beliau sama sekali

                Yaudah, wallnya saya balas seperlunya aja.. toh orang-asing ini, nggak kenal juga.. ckck.. =.=
                *untuk-yang-ketiga-kalinya, memory tenggelam lagi ke dasar*..

Puzzle keempat : a proposal marriage
Waktu : awal tahun 2012

                Hmm... nggak tau gimana ceritanya, mungkin gegara jadi friend di FB itu.. mendadak di sekitar bulan februari orang-asing itu mengirimkan biodatanya ke saya dan menawarkan sebuah .... ehm, you-know-what ya... o_0 Respon saya? Saya lagi pusing pas itu, males mikir yang gituan... terlanjur ada trauma juga.

Akhirnya saya cuma bilang, “Kalau memang serius, monggo langsung ke orangtua saya saja. Biarkan mereka yang memutuskan.” Saya sih mikirnya beliau nggak akan berani,, lha ya wong baru ketemu berapa kali, itupun geje banget..

    Tapi ternyata beliau menyetujui......

                Beliau bilang, “iya, saya minta alamat orangtua njenengan ya, nanti saya kirim proposal biodata dan lainnya, karena saya di Bandung dan belum tau ke Jogja kapan.”

                Saya? Nggaktau deh, dibilangin lagi males mikir juga... o__o yaudah saya kasih aja alamatnya orangtua, sedikit introduction juga sih ke orangtua tentang keperluan si orang-asing-yang-geje-banget-itu. Tapi ya waktu itu sih saya santai-santai aja, toh orangtua saya daridulu nggak pernah menyetujui sama sekali tentang wacana pernikahan muda.. sama sekali..

                Bulan selanjutnya,, ada telpon dari ibunda tercintah... beliau mengabarkan, ehm ya intinya aja sih, bunda dan ayah meng-acc si orang-asing itu.. ya ampun ini orangtua saya kenapa.. +__+
                Oke... saya akhirnya mengabari si orang-asing itu.. kemudian dibalas, “alhamdulillah.. Oh ya, ini umi saya bilang katanya mau ngajak ketemu njenengan. Beliau minta nomernya njenengan.”

                Dan nggak lama setelah saya ngasih nomer hape, ada sms masuk.. “Assalamu’alaykum, mbak sasa ya? Ini umminya Hizbullah. Saya boleh ketemuan sama mbak sasa? Besok sore luang nggak?”

                ...... Kemudian hening.....

Saya nggak tau harus mbales gimana :o Cerita ke bunda, katanya nggak apa-apa ketemuan aja, kan silaturahim. Okelah....akhirnya saya iyakan.
                Besok sorenya, hujan-hujan, janjian ketemuan sama umi di maskam UGM..
                Selesai kenalan... obrolan dibuka dengan, “Beberapa waktu yang lalu anak saya cerita kalau ingin menikah, dan dia bilang ke saya kalau dia memilih mbak sasa. Tanggapan mbak sasa gimana?
”
                Wehh.... -__-“ Speechless, bengong lagi (untuk yang kesejuta kalinya). Dan sayangnya karena saya orangnya geje humoris, obrolan yang seharusnya serius itu malah berakhir dengan kegejean yang sangat parah... bahkan pas pulang kita malah ketawa-ketawa terus (lupa ngobrolin apa), yang jelas jauh banget sama topik yang seharusnya.. astaghfirullah... maafkan saya tante.. o_o

                Sepulangnya dari maskam, udah mencoba untuk lupa sama pertemuan geje itu.. Sampai si orang-asing itu tau-tau mengabari, “Assalamu’alaykum dek. Barusan umi saya telpon, beliau bilang kalau suka sama njenengan. Jadi insya Allah bulan depan umi akan sowan ke rumah orangtua njenengan, bersama abah dan juga saya.”

                Mbatin : “Eh? Ya ampun,,,, ini apa..... o__0”

                Emm, dan kelanjutan ceritanya seperti yang sekarang bisa dilihat.. hehe..
Setelah 2 kali melakukan silaturahim antar keluarga, dan juga istikharoh yang panjang,, akhirnya semua kisah kami tutup dengan puzzle kelima di awal tahun 2013...

Dan ucapan yang sampai sekarang masih saya inget banget,, ucapan tersoswit dari si mas setelah akad...

“Sebenernya, saya udah suka sama dek sasa sejak pertama kali ketemu di Loby Teladan itu.. Bahkan waktu itu saya memang sengaja ke loby karena melihat dek sasa. Sewaktu pertemuan itu juga, saya sudah membatin akan menjadikan dek sasa sebagai calon istri. Tapi karena setelah itu nggak pernah ketemu lagi, ya saya juga lupa.. Untung ya bisa dipertemukan lagi...”

Wew..... gombal banget... hehehe... ^^a

*PS : btw, papan nama di Loby Teladan yang lama udah digusur lho, udah uzur berumur mungkin ya.. ^^a
Sekarang papannya ganti jadi ini :

Tapi papannya ini banyak salahnya, banyak banget typo salah nama, negara, nama lomba… bahkan ada nama yang ilang... yaampun..

 **PS : ini udah selesai kisahnya... hutang saya lunas ya manteman.. ^-^

Pada akhirnya nanti, semua pasti akan berjodoh pada pasangannya masing-masing..
Tak perlu takut, tak perlu khawatir. Semua sudah diatur olehNya...
Karena apa yang tidak ditakdirkan untuk menimpamu, semudah apapun jalannya, tidak akan pernah menjadi milikmu...
Pun juga sebaliknya...
Apa yang ditakdirkan bagimu, sesulit apapun kelihatannya, sesukar apapun jalannya, semustahil apapun itu, pasti tetap akan terjadi padamu..
Dan yakinlah, Allah itu selalu dan pasti akan memberikan yang terbaik untuk hambaNya..
JJJ

#sebelumnya menuliskan kisah ini di notes fb dan kaget sendiri karna mendapat 237 likes, 15 share, 62 comments.. *_*)""