Pages

Showing posts with label Bukuku. Show all posts
Showing posts with label Bukuku. Show all posts

Thursday, September 13, 2012

PUISI-- Bagaimana Bila Aku Rindu?


Ada yang rindu...
Ia membisikkannya melalui sarana imaji
Melayangkan segenap prihatin akan jawaban yang terdiam,
membeku

Kesekian kali menanyakan
Ia rindu, katanya

Begitukah adanya tatapan mata yang menipu?
Tersenyum,
lantang menyirat ketiadaan
Sementara asa yang nyata adalah harapan

Beginikah yang menjadikan keengganan serupa permintaan
akan jawaban berbalut rindu?

Seperti ombak yang menghempas karang
Rindu tebal yang ganas
Tak habis tercurahkan sampai runtuhnya perkasamu

Seperti pena yang berdebu
Dan kertas yang menguning

Untuk yang merindu di ujung waktu...
Hanya ini pengobat rindumu padaku
Nikmatilah,
selama jemariku masih anggun merangkai kata untukmu
Tersenyumlah,
selama menikmati tiap huruf atas namamu...


Sebab yang menjawab rindumu pada tulisanku
bukan hanya Mu pada Ku
Karna rindu itu
juga Ku kepada Mu...
--Annisa Fitriani

#baca selengkapnya di cerpen "Bagaimana Bila Aku Rindu?" ;
Buku Kumcer Pintu Hati dan Pintu Langit :)

Wednesday, September 12, 2012

CERPEN-- Secangkir Kopi Terakhir (2)

Secangkir Kopi Terakhir
Annisa Fitriani

“Kenapa kau sangat suka kopi?”

“Aku menyukai kopi, seperti aku menyukai kupu-kupu,” aku berkata, setelah mengawang panjang. “Warna kopi selalu mengingatkanku pada warna kupu-kupu, bahkan warna langit malam. Dan warna itu pula yang selalu mengingatkanku kepadamu.”

“Kenapa?”

“Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan bintang malam. Aku selalu membayangkan ribuan bintang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

“Tapi aku tak pernah merindukanmu,” katamu sambil tersenyum.

“Bohong..”

“Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Aku memandang nanar. Seolah tak yakin apa yang ku dengar salah atau benar. Bohong bagiku adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ku lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehku..

“Tidak. Aku tidak bohong.”

“Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Aku tak menjawab, bergegas menghabiskan french fries ku. Rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila aku merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah mengalihkan topik bicara dapat menyembunyikan kebohonganku. Tapi aku tak bohong kalau aku bilang mencintainya. Aku hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesakku. Karena aku tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan kebersamaan, dia pasti akan bertanya:
“Apakah kau akan menikahiku?”

Aku menyukai Raisa. Tapi, sungguh, aku tak pernah yakin apakah aku menyukai pernikahan. Kemudian aku akan berteka-teki, ”Apa persamaan kopi dengan kupu-kupu?”

Dia menggeleng.

“Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kupu-kupu, aku akan menyimpanmu dalam toples kecil. Kau akan terlihat anggun dan menawan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta secangkir kopi, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.”

Seperti aku tak pernah meminta perpisahan yang getir..

Hening lama.

“Aku mencintaimu,” ia memecah sunyi, “tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu..”

***

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat aku tau, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ku cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan diriku—pada saat itulah aku menyadari aku tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu yang mengembara dari kesepian yang satu ke kesepian yang lain. Kupu-kupu yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah aku berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kupu-kupu yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kupu-kupu itu slalu-dan-masih ingin hinggap di pundaknya. Sementara suaminya tertidur pulas di sampingnya.

***

“Aku mencintaimu,” ia memecah sunyi, “tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu..”

“Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan baik daripada aku menikah denganmu.”

Aku melengos ke arah lain, mulai membenci pembicaraan ini.

“Dia laki-laki yang baik, dari keluarga baik-baik. Dia melamar dengan cara baik-baik pula. Bahkan –kau tau?— dari dia juga, aku menyadari bahwa cara yang kita jalani selama ini salah. Kita merasa benar dengan semua pertemuan ini, dengan semua khayal dan candaan selama ini. Tanpa kita sadar bahwa Yang Menciptakan tak pernah merestui cara ini.”

Aku semakin jengah, masih tak mau menolehkan kepala untuk memandangnya.

“Kau juga, menikahlah.. Temukanlah seorang wanita baik-baik, dan menikahlah dengannya. Lamar dia dengan cara baik-baik, jaga kesucian dan kehormatannya baik-baik, aku yakin pasti kau tak akan lagi memandang pernikahan sebagai sesuatu yang buruk. Ingatlah usiamu yang semakin bertambah.. Jika sampai tahun depan kau belum juga menikah, aku yang akan mencarikan calonnya untukmu.

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat kami terakhir bertemu.

“Jangan hubungi aku lagi, Raisa. Pergilah.”

***

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, aku ada di kafe kenangan ini. Kafe yang berharum khas. Kafe yang mengantarkanku pada sebuah percakapan ringan yang menyenangkan. Kafe yang selalu membuatku meneguk kenangan dan kupu-kupu dalam kopi.

Ini cangkir kopi ketiga, desahku, seakan itu kenangan terakhir yang bakal kureguk. Hidup, barangkali, memang seperti secangkir kopi dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika aku sebenarnya tau masih bisa ada cangkir keempat dan kelima?

Ini cangkir kopi keenam!
Dan aku masih menunggu.

====to be continue====
Baca selengkapnya di Buku Kumcer "Pintu Hati dan Pintu Langit" (dalam proses editing)
:)

Monday, September 3, 2012

CERPEN-- Secangkir Kopi Terakhir (1)


Secangkir Kopi Terakhir
Annisa Fitriani

Di kafe itu, aku meneguk kenangan. Ini cangkir kopi ketiga, desahku, seakan itu kenangan terakhir yang bakal kureguk.

Hidup, barangkali, memang seperti secangkir kopi dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir.

Tapi, benarkah ini memang cangkir terakhir, jika aku sebenarnya tau masih bisa ada cangkir keempat dan kelima? Itulah yang menggelisahkanku, karena aku tau segalanya tak lagi sama. Tak akan pernah lagi sama, seperti ketika aku mengenalnya pertama kali dulu.

Ya, dulu, ketika kami masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Saat itu aku yakin, aku tak mungkin bisa bahagia tanpa dia..

“Aku akan selalu mencintaimu, kekasihku….” kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan penyanyi. I just called to say I love you..

Haha.. Aku tertawa dalam pilu. Mengapa bukan sendu lagu itu yang ku katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu?
  
Seharusnya saat itu aku tak membiarkan Raisa pergi. Seharusnya aku tak membiarkannya bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan, yang akhirnya tak pernah membuatnya kembali..

Waktu memang bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaanku. Itulah yang membuatku selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang sesungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenanganku.

Ya, selalu ke kafe ini aku kembali. Untuk cangkir kopi ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali cangkir kopi ini pun hanya akan menjadi cangkir kopi yang sia-sia..

***

“Besok kita ketemu ya, di kafe kita dulu...” Suara yang selalu memenuhi mimpiku mendadak terdengar lagi sore itu.

Aku tak percaya bahwa dia akhirnya meneleponku.

“Kok diam?” suara merdu itu menyapa lagi.

Aku termangu, “bagaimana dengan suamimu?”

“Bisa kita bertemu?” suara itu menanya lagi, tak menggubris pertanyaanku.

Aku berpikir sejenak sebelum menyanggupi, “Ya, bisa..”

“Tunggu aku,” ia terdengar berharap, beberapa detik sebelum pembicaraan telepon terputus. “Meski aku tak yakin kau masih mau menemuiku..”

Cklek. Tut.. Tut..

Sambungan terputus, meninggalkan aku yang kini tergugu menatap cermin.

Menemui? Apakah arti kata ini baginya? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa?  Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari potongan-potongan masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu. 

***

"Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma menjadi sepasang kupu-kupu.”

Kau tersenyum, kemudian menyandarkan badan ke bangku, “Tapi aku tak mau mati dulu..”

“Kalau begitu, biar aku yang mati lebih dulu. Dan aku akan menjadi kupu-kupu, yang setiap malam mendatangi rumahmu….”

“Hahaha,” kau tertawa renyah. “Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kupu-kupu?”

“Aku akan menghampirimu di halaman depan rumahmu, kemudian hinggap di pundakmu. Bukankah kau paling suka dengan langit malam?” Aku meneguk kopiku. “Kalau begitu aku yang akan menemanimu menghabiskan langit itu. Kurasa halamanmu merupakan tempat yang paling tepat, kita bisa melihat langit tanpa terhalang bangunan-bangunan tinggi. Dan berani bertaruh, tetanggamu pun pasti tak akan ada yang protes dengan kelakuan kita. Yah, selama kita tak menyalakan mercon di lengangnya malam, apalagi di depan rumah mereka.”

Kau tertawa lagi, barangkali menertawakan khayalan konyolku yang kesekian tentang menjadi kupu-kupu. Tapi aku tak pernah keberatan, kau tau itu, aku yakin kau tak pernah menganggapku konyol dengan semua ide itu.

***

Andai saja kau tau, Raisa,, aku selalu membayangkan itu.. Sampai detik ini pun aku masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatku masih betah menunggumu kini meski cangkir ketiga telah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan kau tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuatku selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ku pesan.

Aku hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan secangkir kopi, ketika kulihat seekor kupu-kupu terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kupu-kupu itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang hingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kupu-kupu itu pertanda? Adakah kupu-kupu itu hanya belaka imajinasiku? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang hingar ini makin terasa murung.

Cangkir kopiku sudah tak berbuih. Hanya hitam yang diam. Tak seperti kupu-kupu yang kini sedang beterbangan itu, yang meski hitam namun tak usah dipertanyakan tentang anggunnya. Hitam di cangkir ini mati. Sementara hitam di luar kopiku gemerlapan. Hidup. Aku jadi teringat pada percakapan kita dulu, dua hari sebelum kau memilih hidupmu sendiri, percakapan tentang kopi dan kupu-kupu.

====to be continue====
Buku Kumcer "Pintu Hati dan Pintu Langit" (dalam proses editing)