Pages

Showing posts with label my family :D. Show all posts
Showing posts with label my family :D. Show all posts

Saturday, August 17, 2013

My Mom dan Jilbabnya

Bismillahirrahmanirrahiim..


Postingan kali ini murni hanya curhat biasa ala Sasa, jadi untuk yang nggak berminat boleh skip dari postingan ini ^^


Sudah pernah baca postingan saya yang di sini? Di sana udah sedikit disinggung, kalau saya pakai jilbab memang semenjak kecil. Nah, kali ini saya mau curhat tentang proses berjilbab yang saya alami -- dan juga dialami ibunda saya.

Dulu, waktu kecil, saya pakai jilbabnya ngasal. Adanya apa. Yang penting berjilbab. Kebetulan waktu TK kan memang di TK ABA gitu jadi jilbab udah disediain sama sekolahan. Waktu SD juga begitu, jilbabnya standart jilbab anak-anak; jilbab cemplungan, pendek, ada talinya.

Memasuki SMP, awal-awal kelas satu masih pakai jilbab cemplungan yang pendek. Lalu tahun kedua mulai pakai jilbab paris (jilbab segiempat yang tipis itu) gara-gara terinspirasi sama jilbab seorang teman saya yang rapi. Waktu itu perempuan di angkatan saya (yang jumlahnya hampir 200 orang) yang berjilbab cuma ada dua orang; saya dan teman saya itu.

Waktu itu saya pernah iseng tanya sama ibunda saya yang sedang siap-siap mau berangkat operasi (ibunda saya dokter kandungan yang kece sekali, kapan-kapan saya tulis di postingan khusus ya),
"Bu, kok jilbabnya diikat di leher gitu? Nggak panas?"
Saya heran aja lihat jilbab dililit-lilit di leher, ngeliatinnya kan gerah.

Ibunda saya njawab, "Biar nggak ribet. Daripada ngganggu operasi."
Saya sih ngangguk-ngangguk aja, berhenti tanya, nanti keburu pasiennya yang marah-marah ke saya kan repot.

Lalu ketika masuk dunia SMA, saya baru tau tuh kalau pakai jilbab paris itu harus di dobel. Biar nggak transparan, katanya.

Ribet ya kesannya. Jadi saya mutusin pakai jilbab agak gedhenya ya pakai jilbab cemplungan aja, males ndobel-ndobel.
Lalu teman saya protes, "jilbab cemplungan kan kesannya nggak formal. Masa' acara resmi pakai jilbabnya kayak gitu?"

Wahh tersentil banget lah..
Akhirnya mulai latihan pakai jilbab paris yang di dobel. *dulu masih jarang banget bisa nemuin jilbab tebel macam jilbab Harifa yang saya jual ini :3

Suatu ketika, waktu siap-siap mau ada acara keluarga, saya masih ngelipat-lipat jilbab paris buat didobel. Ibunda saya masuk kamar, ngeliatin saya masang jilbab itu, lalu komentar, "Lha kalo jilbabannya lama banget kayak gitu, pasiennya ibu keburu meninggal semua dong!"

Jederr... Iya juga ya, haha..
Waktu itu saya nggak membenarkan atau menyalahkan, diem aja deh, belum tau mau komentar apa.

Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun terlewat,
Saya terus berdoa supaya suatu hari ibunda saya dapat hidayah atau petunjuk buat memanjangkan jilbab..

Sampai tibalah suatu hari dimana saya dilamar sama ikhwan yang sekarang jadi suami saya itu..
Seselesainya kunjungan ikhwan itu dan orangtuanya ke purworejo buat ta'arufan yang pertama kali,
ibunda saya komentar, "Umminya si Ibung itu jilbabannya kayak kamu ya? Emangnya bagus kalau kayak gitu po?"

Kebetulan ummi mertua saya kan memang kader inti di tarbiyah, bisa dibayangin lah ya..

Waktu itu saya senyum. Mencoba nanggepin dengan sedikit bercandaan,
"Iya dong, Bu, bagus kan? Ibu pasti cantik kalau pakai jilbabnya kayak itu tadi."

"Itu jilbabnya nggak perlu di dobel-dobel kayak kamu dulu itu?"

"Enggak dong, Bu, sekarang kan udah banyak yang jualan jilbab segiempat yang tebal."

Ibunda saya cuma manggut-manggut aja. Sedetik. Dua detik. Ibunda saya komentar lagi,
"Kalau gitu besok kamu ajarin ibu pakai jilbab kayak gitu ya!""

Hihihi happy bangett.. Alhamdulillah..


Akhirnya misi doa saya dari dulu-dulu itu kesampaian juga..

Kalau ditanya, apa perubahan besar yang terjadi karena pernikahan saya, ya salah satunya proses berjilbabnya ibunda saya yang tercinta itu.

Kemarin waktu malam idul fitri kan saya di rumah mertua, kami shalatnya di Lapangan Kadipiro. Waktu masih nungguin abah mertua yang menyelesaikan khutbahnya, saya sama ummi mertua sempat mengobrol tentang ini. Ummi bilang kalau seneng saya jadi menantu beliau, karena jadi bisa ngasih contoh ke adek-adek ipar saya. Dan saya akhirnya juga cerita tentang jilbab ibunda saya itu, saya seneng banget punya ummi mertua seperti beliau.

Sekarang bahkan nggak cuma jilbabnya saja yang tambah rapi dan syar'i, ibu pun sudah melengkapi busananya dengan kaos kaki. Walaupun mau operasi sekalipun.

Dan senangnya, pernikahan ini bukan hanya berpengaruh ke jilbab ibunda saya, tapi juga ke pemahaman ibu saya tentang da'wah di profesinya.. Subhanallah sekali pokoknya, luar biasa.

Boleh dibilang sifat wanita yang nggak pingin kalah yang awalnya bisa membuat perubahan besar di jilbab ibunda saya itu. Ibu saya sepertinya nggak mau saya lebih lengket ke ummi mertua, atau gimana, jadinya ibunda saya berusaha menyamai ummi mertua. hehee,, nggak tau juga ding.. ^^

Benar kata mbak murobbi saya dulu, "Kita memang pasti akan bahagia sekali dengan perubahan di keluarga kita yang mengarah ke kebaikan, jadi jangan pernah berhenti berda'wah kepada mereka sesibuk apapun kita. Karna mereka lah prioritas kita, mereka yang paling berhak mendapatkan da'wah dari kita, sebelum orang lain."

Subhanallaah... :")

Ah ya, tadi ada kejadian lucu lagi.
Kemarin waktu ibunda saya nelpon, saya kan sedang ikut aksi #SaveEgypt di nol kilometer itu, ibunda saya kelihatan keberatan. Beliau memang nggak pernah setuju kalau saya ikut aksi-aksi semacam itu. Berbahaya, katanya.

Lalu tadi waktu ditanyain tentang aksi kemarin, saya bilang, "Tau nggak, Bu, yang maju ke atas panggung dan orasi mewakili Salimah? Ummi lho! Ummi kemarin yang maju ke atas panggung, padahal yang lainnya ikhwan-ikhwan gitu. Ummi akhwat sendiri!"

Ibunda saya terdiam... Dan sedetik kemudian,, kami malah udah asyik mbahas tentang aksi itu.
Hihi,, saya jadi senyum-senyum mbayangin, gimana ya kalau besok-entah-kapan ibunda saya juga ikut turun buat aksi semacam itu?

Who knows kan? ^___^

Love you both so much, ibu dan ummi... :')

Smoga akan smakin banyak lagi perubahan baik untuk keluarga kami karena pernikahan ini ya..
Karena menikah itu bukan karena cinta, tapi untuk membangun ummat, membuat peradaban. :)

Friday, May 17, 2013

Cemburu dalam batas wajar?


=khususon untuk ikhwan sholeh yang sudah beristri, dan untuk akhwat sholihah secara umum=

Bismillaah....
Mendadak teringat dengan postingan (duluuu banget) seorang mbak berinisial “KR” ,, yang kurang lebih menyarankan kepada para akhwat (lajang) agar tidak berkomen ria dengan ikhwan (yang sudah beristri), untuk menjaga hati sang istri tersebut..

Hmmm.... mulai darimana ya?
Dulu sewaktu pertama kali membaca tulisan mbak KR itu, saya belum menikah, hanya saja memang sudah mendekati hari H pernikahan. Dan pikir saya waktu itu, “memangnya kenapa? Bukannya sudah aman ya kalau si ikhwan itu udah di*tali* pakai ikatan pernikahan?”

Sampai akhirnya saya merasakan sendiri hal tersebut ketika sudah menikah. Ya, perasaan mengganjal yang rasanya tidak semestinya muncul, tapi entah kenapa ganjalannya terasa sekali di hati.

Kurang lebih beberapa lama dari postingan mbak KR itu, saya menikah, dan selang sedikit waktu ada postingan lain yang menguatkan statement mbak KR. Statement itu berasal dari seorang mbak berinisial “FNW” yang mengucapkan permintaan maafnya kepada saya (dan juga kepada beberapa teman akhwat lain) karna beliau telah meremove kami dari friendlist fb suaminya.. kenapa? Cemburu pada kami, kata beliau.

Saya sih nggak masalah, toh saya memang nggak kenal sama suami beliau.. Tapi postingan beliau itu sedikit banyak jadi saya renungkan..

Mbak FNW saja meremove saya (dan teman-teman akhwat yang lain) dari friendlist fb suaminya, padahal saya (waktu itu) berteman dengan suaminya juga hanya sekedar tau dari undangan pernikahan mbak FNW.Saya yang tidak pernah komen ataupun kontak suami beliau sama sekali saja diremove si mbak karena rasa cemburunya, apalagi jika lebih dari itu? Bayangkan jika di wall fb atau di folder message suami justru terpolusi dengan beberapa nama akhwat yang hinggap memberikan pesan.

Meskipun (kasus disini) akhwat-akhwat itu saya tau memang sebagai kawan beliau di organisasi, dan memang murni tidak ada apa-apa *yang khusus* di antara mereka, tapi ternyata rasanya tetap ada yang mengganjal. Saya tau, seharusnya memang tidak ada masalah bukan, jika seorang ikhwan mempunyai beberapa kawan akhwat? Begitu juga sebaliknya? Terlebih jika mereka memang tergabung dalam suatu organisasi tertentu dalam kurun waktu lama, pasti hubungan yang terjalin sudah sangat profesional. Sayangnya, permasalahan akan muncul jika hubungan itu bukan lagi mengenai ikhwan terhadap akhwat banyak (atau mungkin juga akhwat terhadap ikhwan banyak). Permasalahannya muncul ketika hadir orang ketiga dalam komunitas itu, yaitu sang istri (untuk ikhwan) dan sang suami (untuk akhwat).

Ya, orang ketiga ini memang orang baru, bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan relasi yang kalian bangun bertahun-tahun sebelum orang ketiga ini datang. Tapi apa kemudian kehadiran orang ketiga ini tidak berhak mendapat perhatian? :( #mungkin seperti ini ungkapan para istri yang terpendam ~_~

Pertamanya memang terasa biasa saja, saya justru mencoba untuk berkawan juga dengan kawan-kawan suami saya (kawan akhwat lho yaa...) Tapi saya sendiri ternyata termasuk orang yang tidak bisa menutupi rasa cemburu.. :(

Akhirnya, seperti yang terjadi pada mbak FNW, saya merasa cemburu pada mereka. Pada akhwat-akhwat itu. Dan, seperti yang dilakukan oleh mbak FNW pun, saya mengambil keputusan untuk meremove dan bahkan memblock akhwat-akhwat itu dari fb suami saya... (terdengar sangat mengerikan ya.. @__@)

Tapi memang yang terjadi seperti itu...
Bukan bermaksud memutuskan silaturahim, hanya untuk menenangkan hati yang sedang bergejolak cemburu, apakah dilarang?

Ummi mertua pernah berkata bahwa salah satu karakteristik suami yang insyaaLLoh sama seperti abah mertua adalah tentang kesetiaannya yang tidak perlu diragukan lagi. Apakah kemudian tulisan ini mencerminkan jika saya tidak percaya dengan suami? Bukan,,, bukan seperti itu. Saya sangat percaya dengan suami saya, sangat sangat percaya. Ummi mertua bahkan berani menjamin jika beliau sangat terjaga sejak masih di bangku sekolah. Begitupun dengan akhwat-akhwat itu, tentu saja saya percaya pada mereka. Saya hanya tidak percaya pada syaitan yang slalu mencari-cari celah khilaf pada diri masing-masing manusia... Apakah ketakutan saya berlebihan?

Padahal, ketika saya menjumpai kawan ikhwan yang sudah beristri, pasti kemudian yang saya minta adalah nomor kontak si istri itu. Saya melakukan komunikasi dengan istrinya itu, bukan dengan ikhwan itu langsung, sekalipun itu urusan organisasi.. Saya melibatkan istri beliau dalam komunikasi itu, tidak ada khalwat disana. Ataupun kalau memang sangat urgent, kenapa tidak berbicara dalam sebuah grup? Bukankah ada fasilitias itu dimana-mana?

Tapi pada akhirnya memang jika kita tidak bisa mengubah orang lain, yang bisa kita lakukan adalah mengubah cara pandang atau sikap kita dalam memandang masalah itu... Dan itu yang saya lakukan, mencoba menutup mata kalau masih ada akhwat-akhwat yang belum sadar dan berhinggapan di message atau lain sebagainya.. Mungkin (dan semoga tidak terjadi) akhwat-akhwat itu baru bisa mengetahui rasanya ketika mereka mengalami sendiri hal tersebut didalam pernikahan mereka,, mungkin....

Akhir kata,,, kenapa tulisan ini dibuat? Sincerely,,, untuk minta maaf.... :’) . Seperti yang dilakukan mbak FNW, sayapun ingin meminta maaf kepada teman-teman yang sudah secara sengaja saya remove ataupun block dari fb suami saya,, walaupun sekarang sudah saya add-kan kembali. ‘afwan, benar-benar ‘afwan..

Dan untuk yang masih dalam keadaan saya remove dari friendlist suami saya,,,, ‘afwan ya :( saya memang masih dalam tahap pembelajaran dengan perasaan cemburu ini..

Dan untuk teman-teman akhwat yang friend requestnya ke suami saya belum di accept-accept sampai sekarang,,, smoga tulisan ini cukup mewakili perasaan saya :(

= istri yang geje dan cemburu=
Pelarian dari tanggungan menyelesaikan laporan praktikum anatomi dan biokimia~ :’)
#mungkin benar kata Ayaz, saya perlu dikasih stressor dulu supaya bisa menghasilkan tulisan o_o

Wednesday, April 24, 2013

Marriage isn't a Cinderella Love Story


Marriage isn’t a Cinderella Love Story

Kenapa saya tiba-tiba menulis tulisan ini di tengah himpitan jadwal ujian yang sedang berlangsung? Bukan, bukan karna saya baru saja menonton film Cinderella. Jawabannya mudah : saya sedang melarikan diri dari stress pasca ujian Osce tadi siang =,=

Kalau secara konten, sebenarnya saya sudah ingin membuat tulisan tentang ini sejak bulan lalu. Kenapa? Simpel, karena sejak saya menikah 3 bulan yang lalu, semua orang yang bertemu saya rata-rata menanyakan hal yang sama, “menikah itu rasanya gimana sih?”, “menikah itu enak nggak?” atau bahkan ada juga yang mengemukakannya dalam bentuk judgement, “sasa sekarang wajahnya bahagia terus ya, pasti pernikahannya nggak ada masalah deh.”

Kira-kira seperti itu yang sering menjadi pertanyaan besar bagi siapapun yang belum berada di tengah-tengah pernikahan itu sendiri. Entah itu statement atau pertanyaan, atau bisa jadi keduanya. Meski tetap saja, ketertarikan banyak orang terhadap pasangan yang menikah muda tak bisa ditampik.

Beberapa kali, rekan orangtua saya juga sering menanyakan pertanyaan yang sama pada saya, yang kurang lebih menuntut jawaban mengenai motivasi kami menikah muda, padahal keduanya masih sama-sama menuntut jenjang kuliah. Menurut saya, motivasi memang sangat menentukan persepsi susah atau tidaknya sesuatu, atau paling tidak timing dan responnya.

Jadi, sebelum menjawab pertanyaan tadi, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenali kembali motivasi kita. Jangan sampai, saat kalian memilih untuk lanjut ke jenjang pernikahan, motivasi yang kalian punya adalah hal-hal yang rapuh, lemah, yang tidak cukup kuat untuk meyakinkan diri kalian pada titik-titik nadir.

Contoh sederhana, menikah karena suka-sama-suka, menikah karena sudah melampaui usia lanjut, atau bahkan ada yang terpaksa menikah karena suatu kasus tertentu (oalah, kalau menikah cuma sekedar menikah, mana ada ‘arsy Allah sampai bergetar ketika janji suci terucap? menikah adalah panggilan hati, menjadi seorang istri -ataupun suami- layaknya seorang pemegang amanah besar yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya; it’s not about the status anymore), atau mungkin juga karna keinginan-keinginan lain yang kalau saya tanya, “Kamu yakin alasan itu bisa membuat kamu bangkit dari titik terendahmu jika kelak kalian ada goncangan dalam pernikahan?”, kalian akan menggeleng kuat dan menyatakan tidak.

Mengapa? Karena sesungguhnya, dalam hal apapun, peperangan paling berat terjadi dalam diri kita sendiri. Salah satu bentuk jihad yang utama (jihad itu artinya perjuangan lho, struggle) adalah jihad melawan hawa nafsu.

Terlebih tentang menikah di usia muda, yang mana masih menuntut ilmu di jenjang kuliah. Jauh sebelum rumah menjadi berantakan atau hasil masakan yang kurang sesuai harapan, kalian sudah dikalahkan oleh keinginan untuk menyerah dalam berusaha. Jauh sebelum kalian bertengkar karna permasalahan yang sama, kalian sudah akan dikalahkan oleh penolakan untuk belajar dari kesalahan sebelumnya.

Jadi, jawaban untuk pertanyaan ‘menikah itu sulit nggak sih’ juga kuat dipengaruhi oleh niatnya, motivasinya.

Jika ditilik dari segi proses pembelajarannya, memang, menikah di usia muda memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Banyak hal yang harus dipelajari, dipahami, diresapi, dalam usia yang masih begitu dini. Tentang bagaimana mengatur waktu antara jadwal kuliah yang subhanallah dengan memenuhi kewajiban sebagai ibu rumah tangga. Bagaimana memenuhi amanah sebagai masyarakat sosial di lingkungan sekitar, sementara masih banyak tanggungan dari buku-buku yang tebal dan menyesakkan besarnya tapi sama sekali tak bisa kau tolak untuk dibaca, materi-materi yang rumit dan komprehensif, serta tugas-tugas perkuliahan yang luar biasa menyita waktu. Belum lagi tentang bagaimana membagi diri dari satu amanah dengan amanah lain yang berada di luar perkuliahan maupun lingkungan kemasyarakatan.

Maksud saya begini, apa yang harus dijalani dalam proses pernikahan di usia muda memang menantang, tapi menyerah atau tidaknya kita, kembali pada diri kita masing-masing.

Apakah hal yang menantang itu akan menjadi sesuatu yang kita pandang sebagai sesuatu yang sulit, atau sesuatu yang menyenangkan?

Maksudnya menyenangkan?
Saat kita punya tujuan yang jelas, maka hati, akal, dan jasad kita akan saling bersepakat untuk saling menguatkan menuju tujuan itu. Kita akan mempunyai kombinasi perasaan yang luar biasa : senang, semangat, teguh. Lagipula, senang di sini bukan berarti tidak ada tangisan disana, tapi senang yang menetap; senang yang bermula dari benih lalu tumbuh menjadi pohon yang besar. Bukan senang yang periodik. Mungkin, pada masa-masa saat kami ada masalah dalam rumah tangga, saya akan sering menangis; saat amanah-amanah yang ada menuntut saya berbuat lebih banyak, saya juga akan menangis, tetapi setelah itu, saya bahagia. Bersyukur karena Allah masih memberikan begitu banyaak kesempatan yang harus saya tempuh untuk mencapai mimpi saya, untuk meraih surga, dan kebahagiaan itu akan menjadi penghubung bagi kebahagiaan-kebahagiaan saya selanjutnya. InsyaaLLoh.

Berat, iya. Tapi pertanyaan intinya bukan itu. Pertanyaannya adalah, apakah kita memiliki determinasi dan istiqomah untuk berdo’a, berjuang, dan bertawakkal agar rasa berat itu menjadi ringan?
Agar Allah mempermudah segala kesulitan.
Agar Allah membimbing segala langkah kita.
Agar Allah mendukung segala perjuangan kita.
Agar ridho dan syurga-Nya menjadi hadiah terbaik dari-Nya.

Jadi, pertanyaan ‘menikah itu sulit nggak sih’ adalah pertanyaan yang multidimensional, dan meskipun beberapa orang berpendapat bahwa pertanyaan itu bisa dijawab dengan ‘ya’ atau ‘tidak’, ketahuilah, jawabannya tak pernah berhenti sampai di sana.

Karena, memilih untuk menikah di usia muda artinya memilih bagaimana kamu akan menjalani peran dalam kehidupanmu selanjutnya.

Di dalam pernikahan, kalian belajar bukan untuk diri kalian sendiri. Kalian menangis, sakit, sedih, tertawa, berjuang, bukan untuk diri kalian sendiri. Murni, untuk Allah, dan untuk orang-orang yang diamanahkan menjadi pasangan kalian. Juga untuk jundi-jundi Allah yang besok Ia titipkan kepada kalian.

Yang akan menjudge kalian, bukan para teman, bukan orang tua kalian, tapi Tuhan kalian. Sosok yang akan kalian hadapi saat hari penghitungan kelak.

Memilih menjadi mahasiswa kedokteran, dan menikah di usia muda, adalah salah satu pilihan terbesar yang pernah saya ambil. Makna penuh tentang tanggung jawab menjadi semakin akrab dalam kehidupan saya.
Ya, ini tanggung jawab saya.
Subhanallah.

Jadi, sebelum membulatkan hati untuk memasuki dimensi pernikahan ini, luruskan dan teguhkan kembali niat kalian. Bismillaah. Yakinkan diri kalian,
Menjadi istri –ataupun suami- adalah bentuk ketaatanku pada Allah.

Setelah itu, mari bergabung bersama, kita ikhtiarkan untuk bersama-sama menggapai jannah-Nya yang kita nanti-nantikan. InsyaaLLoh, jalan ini akan menjadi jalan yang paling kita syukuri sejak saat ini dan seterusnya. J

Tuesday, April 23, 2013

kamu yang berulangtahun ;)

Hey kamu yang disana, iya, kamu ;)
Ketika selesai membaca tulisan ini, kau akan tau kenapa aku menuliskannya untukmu, my dearest sister :)

Tak terasa sudah belasan tahun aku memilikimu sebagai adik,, dan sekarang usiamu sudah akan berganti menjadi 17 saja :’)

Kau tau? Lebih dari 16 tahun sebelumnya, aku pernah mendoakan untuk kehadiranmu. Ya,aku menginginkan seorang teman untuk bermain di rumah, begitu pikirku ketika kecil. Menjadi cucu tertua memang sedikit membosankan bukan? Di rumahpun belum ada saudara yang seusia ketika itu, padahal kami tinggal lengkap dengankeluarga besar.

Maka aku berdoa kepada Allah, aku mendoakan untuk kehadiranmu.
Dan Allah Yang Maha Baik ternyata mengabulkan doaku itu..
Terbukti usia kita yang hanya terpaut sedikit tahun.

Tujuh belas tahun lalu, ketika kau keluar dari rahim ibu kita yang terkasih, adabanyak doa di sana, bersamamu. Doa-doa dari orang tersayang, tak hentinyamendoakan agar berkah Allah menaungimu. Sedangkan aku? Ah, aku bahagia sekali waktu itu. Akhirnya aku punya seorang teman bermain di rumah.

Aku menjagamu dan ibu setiap hari, bahkan ketika keluarga yang lain bergantian pulang dan istirahat, aku tidak. Aku tidak meninggalkan kamarmu dan ibu. Aku tidur dikasur samping ibu, sedikit-sedikit menengok ke arahmu, takut kamu menangis ataubutuh apa. Berbekal gamewatch untuk mengusir rasa bosan yang sesekali melanda, aku bertekad untuk menjaga kalian waktu itu.

Masih sangat teringat ketika suatu hari padhe Was’an menjengukmu dan ibu. Aku dengan antusiasnya memperkenalkanmu, anggota baru keluarga kami. Tapi kejadian selanjutnya membuatku sebal. Pakdhe justru menggodaku dan bilang kalau akan membawamu pulang, menjadi anak beliau. Aku melotot. Nggak boleh, itu nggak boleh terjadi. Kamu kan temanku bermain, kalau kamu dibawa pakdhe, lalu besok aku main sama siapa?

Aku ingat sekali, sepanjang hari itu aku nggak berhenti melepaskan pandanganku dari arah pakdhe yang terus menggendongmu. Aku terus membuntuti pakdhe kemanapun pakdhe bergerak. Dan ketika pakdhe benar-benar membawamu ke luar kamar, kemudian menuju pintu depan, aku langsung mengejarnya. Pakdhe nggak boleh ngambil kamu, kamu kan temanku.

Hmm...sebuah kisah yang pasti bukan hanya aku saja yang masih ingat, tapi juga keluarga kita yang lain.. Betapa ngototnya aku ketika itu –dan juga sampai sekarang—karna nggak mau kamu diambil pakdhe, atau siapapun..

Nggak terasa kau kini sudah tumbuh besar ya? :) Ingin rasanya menyampaikan banyak hal padamu, tapi aku sadar jika diri ini sangat terbatas dalam berkata-kata.. Maka inilah yang ingin kukatakan padamu..

Detik demi detik berlalu, begitupun dengan tahun. Kita sama-sama tau, sudah banyak yang kau lalui untuk sampai di hari ini, di detik ini.. Dan memang tak hanya ada suka di sana, tanpa luka ataupun duka. Kita sama-sama menyadari, bahwa kita belum sempurna dalam menghadapi beberapa kejadian, baik itu kejadian suka maupun yang luka, meski terlebih sering kejadian luka lah yang mengambil porsi lebih besar.

Taukah kau? Ketika kau menangis saat itu, ketika kau merasa air matamu tak kunjung habis juga, aku bisa merasakan itu. Ya, seperti aku bisa merasakan hati ini ikut sesak ketika kau tersakiti, atau saat  takdir memilihkan jalan yang berat kepadamu, aku bisa merasakannya. Karena hatiku terluka ketika itu. Hatiku ikut menuntut keadilan Allah untukmu. Bagaimana mungkin orang yang slalu kusebut namanya di sholat-sholat malamku justru Ia buat menangis tak henti seperti itu. Berkali-kali ujian itu datang padamu, dan berkali-kali pula aku menuntut kenapa tidak semua luka itu diberikan kepadaku saja, semuanya, tanpa sisa. Hingga kau tak akan lagi merasakan kesedihan, dan satu-satunya yang terukir di wajahmu adalah kebahagiaan.

Tapi kemudian kita sama-sama mengerti, bahwa setiap potongan kejadian ini akan mendewasakan kita. Inilah cara Allah, untukmu dan untukku. Maka kemudian kita hanya bisa meneruskan cerita. Kita cukup bertahan dulu, dan mempercayai jika sakitnya pasti akan berlalu. Benar, kita memang bisa melupakan saat-saat kita bersedih dan terluka, tapi aku tau sakitnya tetap akan terkenang; dada yang perih, perasaan yang tak pernah cukup diwakilkan pada kata-kata. Barangkali sudah kering air mata, dan kita tak perlu menangis lagi, tapi sensasi hangat yang menjalar di tebing pipi kita masih akan tetap terasa,, saat- saat dimana kita jadi manusia yang lupa cara bicara.

Aku tahu rasanya seperti apa. Tapi tenanglah, masih ada banyak doa yang bersamamu.. Kau hanya perlu yakin, selama kau terus berjalan, pasti akan ada suatu titik dimana hatimu akan mengatakan, "Ini. Di sini aku menemukan penuh kebahagiaan."  Maka, ketika itu kau bisa memutuskan untuk berhenti berjalan dan tinggal. Menikmati sejenak kebahagiaan itu.

Sebelum kau selesai membaca tulisan ini, kau harus mengingat satu hal.. "Selesaikan apa pun yang kamumulai". Hidup adalah hidup, selesaikan. Kalaupun kau dihantam dari segala sisi kehidupan, jangan berhenti. Selesaikan 'pertandingan'mu. Jadilah orang yang berjiwa besar. Terima kekalahan jika memang kau kalah, dan berbagilah kebahagiaan jika kau menang.

My dearest... Kau kini memang membacanya ketika usiamu menginjak angka 17. Tapi besok, entah beberapa bulan lagi, setahun, atau jauh setelah ini, jika kau merasa lemah, kaubisa membaca tulisan ini lagi, lalu bangun dan berjalan lagi.. Terus saja sampai 'pertandingan'mu berhenti. Apa pun, jangan sampai kau yang memutuskan untuk berhenti, karna kau punya banyak tangan yang akan mendorongmu berjalan. Biar Allah yang memutuskan kapan kau boleh berhenti..

Untuk itulah tulisan ini kubuat, untuk mengingatkanmu tentang orang-orang yang ada di belakangmu untuk mendukungmu dan mendoakanmu. Bahwa seperti ketika kau lahir di dunia ini, kamipun masih berbahagia membersamaimu dalam tujuh belas tahun ini, mendoakanmu agar selalu dalam kebaikan..

Tulisan ini, aku akhiri disini.., barokallahufiy umrikum my dearest... :)


Saturday, October 27, 2012

Sosis Blunderr

Ceritanya, setelah seharian berurusan sama listrik rumah yang rusak-entah-kenapa, malamnya kami pingin makan sesuatu.. tapi ternyata,,, malam ini sangat sendu,, sesendu isi kulkas di rumah kami .__.


Nah ini si adek yang paling kecil teteup ngga berhenti menjerit-jerit lapar, dan satu-satunya bahan makanan yang bisa dimasak cuma sosis yang ada di freezer atas,, itupun cuma 1 bungkus... haha.. yasudahlah,, sabar ya nak.. #pukpuk

Masak sosis bisa dibilang gampang banget, makanya saya berfikir gimana caranya biar makanan murah simple ini bisa keliatan *rame* dikit... dan voila....

ini ngehiasnya cuma lima menitan... ^__^

wajahnya si adek paling kecil.. ^__^ adek yang satu lagi nggak tau udah ngeloyor ke mana lagi.. --"

Our sweet dinner ditutup dengan pertanyaan si adek kecil,
"Mbak, ini daun-daunannya mau dimakan siapa?"

(super_doh) hahaa ^__^""

Friday, October 26, 2012

Spaghetti Sardine ala Sasha... :D

Heyyhoo,,, kembali lagi dengan edisi ngobrak-abrik dapur masak buat adek-adek.. ^^

Awalnya gegara my little brother yang masih unyu-unyu itu minta dibuatin spaghetti.. Biasanya sih cuma tinggal direbus doang gitu sama pake bumbu instan,, tapi kan saya gaul anti mainstream, jadi nggakmau lah yaa kalo cuma pake bumbu instan gitu.. :3

Here is it...

saya mbuatnya dua piring gedhe lho... dan hasilnya? dalam waktu hanya 10 menit aja, bentukan piringnya udah jadi kayak yang di bawah ini.. ~~


Fyi itu mbikinnya hampir 30 menit sendiri lhoh,, belum lagi nyari bumbu-bumbunya,,, tapi habis bersih hanya dalam waktu 10 menit... padahal yang makan juga cuma dua adek saya yang masih kecil-kecil itu.. :""O

Tapi alhamdulillah ya,, untung pada suka ^^ Penasaran sama resepnya? Nantikan postingannya kapan-kapan yaa kalo inget hehehe, soalnya itu rada ngawur juga kemarin mbuatnya, asal masukin bahan.. ^__^v

#Salam sehat salam semangatt ;D

Ice Cream Chacha ^__^

Here is my special creation for my lovely sister and brother... ^^ hihi #lebay dikit

udah mirip belum sama yang di Chocolate Cafe? ^^
buat 3 piring dong... ^__^

Biasanya yang sering diupload temen-temen yang udah punya suami kan pasti kreasi masakan buat suaminya,,, kalo saya sih berhubung jomblo single jadi ya kerjaannya berkreasi buat adek-adek tersayang hihii ^__^

#because pure ice cream is too mainstream :3

Bythewayy,, buat orangtua tercinta,, baik-baik yaa di sana.. ^^ smoga pulang-pulang jadi haji yang mabrur :"DD aamiin

Tenang aja,, rumah nggak diserang negara api aman terkendali kok ;))

Sunday, February 19, 2012

dapatkan satu hal, korbankan hal yang lain. :)

Mengutip kata-kata seorang mbak cantik:
"Tidak ada orang yang bisa mendapatkan semuanya, kalau dia sukses di satu hal, pasti ada hal lain yang dikorbankan"

Dan memang benar, kita harus banyak memilih dalam kehidupan ini..

Huff.. Jujur, akhir-akhir ini banyak yang membuat saya dilema (bahasa gaulnya : galau). Mulai dari jadwal kuliah yang semakin amburadul, jam praktikum yang nggak bisa dihitung lagi dengan jari, tumpukan laporan praktikum yang harus diselesaiin, agenda syuro' yang kedobel-dobel, sampai jam pertemuan mentoringpun yang kadang harus dirapel karna tubrukan dengan jadwal kuliah. Astaghfirullah.. #ini juga seharusnya belajar buat 2 praktikum besok pagi + nyelesaiin rekap suatu tugas negara tapi malah mampir ngeblog -,-

Bukan apa-apa sih, cuma ngerasa kalau hari ini sedang banyaak yang ingin saya tuliskan..

Hari ini seharusnya ada beberapa agenda da'wah(nggak usah saya sebutkan disini), dan udah sejak beberapa hari sebelumnya belum ada yang saya konfirm (karna rencananya ahad siang ada kumpul keluarga besar untuk milad bunda saya)

Sebenarnya sudah berencana mengikuti satu agenda organisasi paginya, tapi mendadak orangtua mengabari kalau nggak jadi kumpul keluarga besar karna ayah ada seminar di jogja. Dan memang tipikal ayah saya lebih suka mengendarai motor daripada mobil, jadilah beliau meminjam motor saya dan meminta saya menemani bunda jalan-jalan hari ini.

Sudah sempat membatin, "duh, terpaksa harus ijin lagi dari agenda" dengan sedikit merasa sesal juga. Tapi,, semua berubah saat negara api menyerang. #hehe bercanda

Semua berubah ketika hari ini selesai, setelah seharian menemani bunda ke tempat-tempat yang ingin beliau kunjungi. Di perjalanan pulang dari tempat touring terakhir, bunda megang tangan saya, trus bilang "bunda seneeeng banget hari ini bisa jalan-jalan berdua sama mbak anis aja.. kayaknya udah lama banget ya nggak jalan berdua kayak gini? makasih ya mbak anis.."

Dan nggak bisa ditahan lagi, air mata saya netes.. Anak macam apa saya, bukankah yang kayak gini itu lebih penting?

Bunda itu memang sudah seharusnya diatas segala-galanya, bahkan di atas da'wah sekalipun!

Mendadak teringat kisah seorang fulan di jaman Rasulullah dulu, kisah seorang fulan yang datang meminta saran kepada Rasulullah tentang keberangkatannya ke medan perang. Waktu itu Beliau SAW kurang lebih berucap "jika kau masih mempunyai seorang ibu, maka pulanglah ke rumah, dan rawatlah dia dengan sebaik-baiknya. Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagimu"

Ya. Yang demikian itu lebih baik bagimu. Lebih baik bagi kita. Lebih baik bagi akhirat.

Benar-benar telah jelas bahwa berbakti pada orangtua itu harus dinomorsatukan, termasuk diatas nama da'wah sekalipun.

Jadi kenapa masih menyesal jika tidak dapat mengikuti suatu agenda da'wah karna harus menemani orangtua??

Dan jujur, saya bahkan nggak ada rasa menyesal sedikitpun terhadap hari ini. Dan juga terhadap hari-hari sebelumnya, yang mana mendadak harus meninggalkan beberapa urusan di jogja untuk pulang bertemu orangtua. Saya nggak menyesal. Sedikitpun.

Satu azzam kuat saya : nggak boleh ada air mata yang menetes dari mata bunda saya, juga ayah saya. titik.

Mari bahagiakan orangtua kita :D

Wednesday, February 8, 2012

bunda..

Bunda,

pinjami aku sifatmu yang pendiam,,

agar aku paham dan merasakan

saat kesedihan hatimu berbicara tanpa air mata..


*mendadak homesick,,
kangen semuanya.. kangen keluarga.. kangen bunda.. :'(

Wednesday, December 7, 2011

Dimana rumahmu Nak?

Orang bilang anakku seorang aktivis . Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana . Orang bilang anakku seorang aktivis.Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat . Orang bilang anakku seorang aktivis .Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak ? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.


Anakku,sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis .Dengan segala kesibukkanmu,ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat.Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak ? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak,tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.


Anakku,kita memang berada disatu atap nak,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini .Tapi kini dimanakah rumahmu nak?ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini .Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu dirumah,dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu .Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut.Mungkin tawamu telah habis hari ini,tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu..


Ah,lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti,bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu . Atau jangankan untuk tersenyum,sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal,andai kau tahu nak,ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini,memastikan engkau baik-baik saja,memberi sedikit nasehat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu.Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau nak,tapi bukankah aku ini ibumu ? yang 9 bulan waktumu engkau habiskan didalam rahimku..


Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu,engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu . Engkau nampak amat peduli dengan semua itu,ibu bangga padamu .Namun,sebagian hati ibu mulai bertanya nak,kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini nak ? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu ? kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu nak ? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu nak ?


Anakku,ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu.Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu . Memang nak,menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat,tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan .Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga nak?bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga nak?


Anakku,ibu mencoba membuka buku agendamu .Buku agenda sang aktivis.Jadwalmu begitu padat nak,ada rapat disana sini,ada jadwal mengkaji,ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting.Ibu membuka lembar demi lembarnya,disana ada sekumpulan agendamu,ada sekumpulan mimpi dan harapanmu.Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya,masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana.Ternyata memang tak ada nak,tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini.Tak ada cita-cita untuk ibumu ini . Padahal nak,andai engkau tahu sejak kau ada dirahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu,putra kecilku..


Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka,mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya nak, dimana profesionalitasmu untuk ibu ?dimana profesionalitasmu untuk keluarga ? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat ?


Ah,waktumu terlalu mahal nak.Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu..


**************************************

MJJ banget ya, subhanaLlah... T,T

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta,ibu,ayah,kaka dan adik . Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik .Dan hingga saat itu datang,jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan.Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan .Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai.


Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang ini . Saksikanlah,bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridhamu atas segala aktivitas yang kita lakukan.Karena tanpa ridhamu, mustahil kuperoleh ridhaNya...


Friday, December 3, 2010

pelajaran mahal dari Ayah yang berharga.. :)

Senin, 29 November 2010
08.30
SMS dari Bunda masuk "Mbak Anis siap2 ya, Ayah jadinya dioprasi besok pagi, nanti sore kita berangkat ke Jakarta. Mbak Anis nanti jam 12 ke Purworejo dulu ya"

Kaget. Ayah memang udah sampai di RS Harapan Kita sejak minggu lalu, untuk cek kondisi tubuh danlainlain, tapi kemarin malam aku dapat berita dari Bunda kalau operasinya dimundurin harinya. Dan SMS ini termasuk mendadak, karena aku bahkan belum packing dan segala macam.

Tidak mau terlambat, aku segera ke loby, meminta surat izin, dan langsung pulang begitu bel istirahat pertama berbunyi. Beruntung teman-teman sekelasku udah tau tentang kondisi Ayahku, jadi begitu kubilang "aku izin mau ke Jakarta" mereka langsung mengerti dan turut mendoakan kesembuhan Ayah (cozy).

09.30
Sampai di rumah aku bergegas packing, membawa 4 pasang baju dan tak lupa buku-buku pelajaran (supaya keliatan rajin ^_^). Saat sedang packing itulah handphone-ku menderingkan nada SMS berkali-kali. Begitu kubuka, subhanallah, ada berpuluh pesan masuk dari teman-teman FLP. Pesan itu memang singkat, tapi sungguh penuh makna dan cinta kasih. Pesan-pesan itu berisi beragam doa, dirangkai dengan kata-kata buatan mereka sendiri, tak lupa disertai doa-doa yang diambil dari Al-Qur'an.. benar-benar indah.. membuatku semakin sayang terhadap keluargaku ini.. :')

Singkat cerita, aku, bunda, dan om Yudi akhirnya sampai juga di Jakarta.
Selasa, 30 November 2010
02.45
Kami langsung menuju RS Harapan Kita, sekedar say Assalamualaykum kepada Ayah, dan sedikit cerita ngalor-ngidul tentang persiapan operasi.
Dan kulihat mata itu. Mata berair Ayah, yang sebenarnya tidak menginginkan operasi ini dilakukan.

Aku sangat mengerti bahwa operasi itu berat Yah,, apalagi dengan kasus penyakit seperti Ayah ini,, ini bahkan pertaruhan hidup dan mati.. Tapi bukankah tugas manusia adalah untuk berusaha semaksimal mungkin? Aku yakin Ayah kuat, aku yakin Allah bersama kita.. kuucapkan itu lembut sembari memegang tangan Ayah. :')

07.00
Aku dan Bunda datang lagi ke RS Harapan Kita, ke kamar Ayah, berusaha menyemangati Ayah di detik-detik menuju operasinya ini. Rencana operasi akan berlangsung dari jam 08.00, dan kata dokter, jika tidak terjadi masalah, maka operasi akan selesai dalam waktu 5-6 jam.
Kulihat Ayah melakukan shalat dhuha bahkan lebih dari 4 rakaat pada saat diminta dokter untuk bersiap-siap.
Lindungilah kami Ya Rabb.. Jagalah Ayah..

13.00
Ayah belum keluar dari ruang operasi. Aku dan bunda masih mencoba khusnudzon,
mungkin satu jam lagi..

14.00
Bapak-bapak yang masuk ruang operasi setelah Ayah bahkan telah keluar dari ruang operasi dan keluarganya diminta ke ruang ICU, sementara Ayah sama sekali belum ada kabarnya..

17.00
Aku dan bunda mulai deg-degan. Banyak SMS dari kerabat yang menanyakan kondisi Ayah pasca operasi, yang bahkan kamipun belum mengetahui kabar Ayah yang sebenarnya. Bunda memaksa masuk ke ruang ICU, mengecek semua kamar untuk mencari Ayah, tapi percuma, Ayah belum masuk ruang ICU.. Bukankah Ayah belum selesai operasi? pikirku khusnudzon.

Aku menemani Bunda menunggu di depan ruang ICU karna Bunda nggak mau diajak duduk kembali di ruang tunggu. Penjaga ruang ICU saat itu mendatangi kami dan berkata "Manusia itu tugasnya berusaha,, tapi apapun hasilnya kita serahkan padaNya, karna Dialah yang memiliki takdir.."

Aku stres mendengarnya.
Kalaupun ada yang harus-dan-pantas disalahkan jika terjadi apa-apa pada operasi Ayah, aku lah orangnya. Aku lah yang telah memaksa Ayah untuk melakukan operasi. Ya Rabb..

17.30 -menjelang maghrib
Berita bahagia itu akhirnya datang. Setelah lebih dari 9 jam Ayah berada di ruang operasi, akhirnya operasinya selesai :D

Bunda langsung mencari dokter bedahnya demi meminta penjelasan tentang waktu operasi yang begitu lama.

Ternyata, kata dokter, jantung Ayah bukan hanya tersumbat, tetapi ada bagian jantung yang telah mati. Sehingga apabila pasien lain biasanya hanya butuh penyambungan 1-2 pembuluh darah, jantung Ayah ternyata harus disambung dengan 5 pembuluh darah yang baru. Beruntung kondisi tak terduga itu dapat diatasi dengan baik oleh dokternya. *dokter emang kereeen :DD
Dokter juga berkata, insyaAllah Ayah akan sadar dalam waktu 6-8jam,
dan selama pendarahan di jantung tidak berlebihan, insyaAllah tidak perlu dilakukan operasi ulang..
Aku dan Bunda akhirnya bisa bernafas lega.
Setelah shalat magrib, makan, shalat isya', danlainlain, kami kembali ke ruang tunggu, siapa tau Ayah membutuhkan obat tambahan atau apa.

21.00
4 jam setelah operasi, kami dipanggil ke ruang ICU, ke tempat Ayah,
aku sudah takut akan terjadi apa, jangan-jangan terjadi pendarahan atau apa seperti kata dokter tadi :((

dan disanalah aku melihat sesuatu yang menyentuh hati.

Saat itu adalah untuk pertama kalinya Ayah membuka mata sejak keluar dari operasi,
dan di tempat tidur itu, dengan dibalut banyak sekali selang dan alat kedokteran,
Ayah melakukan shalat magrib dan isya', begitu khusyu dan khidmat,
seakan tak ada masalah yang sedang dihadapinya saat itu.. :')

Kami melihat kejadian itu dengan hati terenyuh,
betapa besarnya cintamu padaNya Yah.. kejadian itu benar-benar membuatku cemburu..

Selesai shalat, Ayah memanggil suster, seakan tak menyadari kehadiranku dan Bunda,
dengan lirih Ayah berkata "Suster, besok tolong bangunkan saya jam 3, saya ingin shalat tahajud.."

Ah,, begitu mulianya engkau Yah.. Aku menangis, Bunda tersenyum pelan dan mengajakku keluar dari ruang ICU, takut akan mengganggu waktu istirahat Ayah yang saat itu mulai memejamkan matanya.. Aku menurut, melihat Ayah sudah sadar saja bahagianya bukan main :)

Rabu, 1 Desember 2010
08.00
Kami datang kembali ke ruang ICU, berniat untuk menemani Ayah sarapan,
tapi lagi-lagi kami dikejutkan oleh sesuatu.
Di saat pasien-pasca-operasi yang lain sedang disuapkan makanan oleh para perawat atau keluarga mereka, Ayah justru sedang sarapan sendirian, menggunakan tangannya sendiri, padahal selang yang terpasang di tubuh Ayah bahkan lebih banyak daripada pasien yang lain.


Antara senang (Ayah sudah sadar sepenuhnya) dan bingung (kenapa kok Ayah udah bisa makan sendiri? -___-a)

Aku bergegas mendekati Ayah (sementara Bunda pergi berkonsultasi dengan dokter) dan menawarkan diri untuk membantu dengan cara mengambilalih sendok yang sedang dipegang Ayah, tapi Ayah menukas "Allah menyukai seseorang yang melakukan sesuatu yang meskipun sedikit, tapi dilakukan secara terus menerus. Jangan dipikir Ayah dioperasi terus mbuat Ayah jadi nggak bisa apa-apa. Itu salah besar. Bahkan cara seperti inilah yang bisa membuat Ayah cepat sembuh, semua dilakukan sendiri, sekecil apapun itu."

Aku cuma bisa diam. Bahkan disaat-saat seperti inipun Ayah masih saja mengingat hafalan Qur'an dan hadistnya untuk mengajariku, dan saat ini aku nggak tau harus menanggapi perkataan Ayah dengan hadist yang mana -__-

Akhirnya aku meletakkan kembali sendoknya -yang langsung diambil oleh Ayah- dan menawarkan bantuan dalam bentuk lain, yaitu mengambilkan minuman dan menyeka ceceran makanan Ayah dengan tisu. Beruntung kali ini Ayah tidak menolak :D

Di tengah sarapannya, saat aku sedang membersihkan sisa makanan yang berceceran, Ayah memintaku untuk mendekat. Ingin membisikiku sesuatu nampaknya.

"Mbak Anis jadi seperti Mas Lutfhan ya.. Mas Lutfhan itu pekerja keras, nggak pernah mengeluh, bahkan di saat-saati terburuknya pun dia nggak pernah menunjukkannya didepan adik-adiknya.. Jadilah seperti Mas Lutfhan.. demi dek Lia dan dek Arif.."

Tak kuasa kucium juga dahi Ayahku penuh kasih. Sungguh, aku cinta padamu Yah..
Ayah benar-benar tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, sedikitpun tidak pernah, bahkan disaat seperti inipun yang diingatnya tetaplah anak-anaknya. Ana uhibuka fillah, Ayah.. :')

Meskipun tak mungkin bagiku untuk menjadi sesempurna Mas Lutfhan -kakak sepupuku, lulusan terbaik Tehnik Elektro ITB dengan segudang prestasi- tapi aku akan mencoba Yah, demi Ayah, demi Bunda, dan demi adik-adikku.
Terimakasih Yah telah mengingatkanku ke tujuan semula hidupku.. :)