Pages

Showing posts with label tarbiyah. Show all posts
Showing posts with label tarbiyah. Show all posts

Friday, April 17, 2015

Aku Rindu Karakter Abadi (Kita) Itu


Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahl dan Iyash bin Abi Rabiah
saling mendahulukan saudaranya untuk diberikan minuman,
padahal ketiganya dalam keadaan terluka parah, hingga ketiganya syahid.

Aku rindu cerita menakjubkan itu;
ketika Aisyah RA di cerca oleh seseorang,
Ammar bin Yasir yang berselisih dengan Aisyah dalam Wa’qah Jamal justru yang membelanya.

Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika dua orang sahabat Rasul,
Ibnu Abbas dan Zaid bin Tsabit yang saling beriringan menunggang kuda
dan satunya menuntunnya,
padahal mereka sedang berselisih pendapat yang begitu tajam

Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika Mursyid Aam membatalkan rihlah anggota Jama’ah Ikhwan,
hanya karena melihat ikhwah saling berebut duduk di dalam bis.

Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika seorang al-akh menunggu saja di antrian terakhir dalam sebuah resepsi,
karena mengutamakan saudaranya yang kelaparan.

Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika sekumpulan ikhwah berkumpul makan di sebuah nampan,
dan sesama ikhwah saling menyorongkan daging lauknya kepada saudaranya.

Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika seorang al-akh mengundurkan diri dari amanahnya,
karena melihat ikhwan lain ingin menduduki amanah itu
demi memperbanyak amal kebaikannya.

Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika ada persaingan jabatan politik,
seorang al-akh menyatakan dengan suara hati terjernih;
“biarlah saja si fulan yang menduduki jabatan itu akh. Kapasitasnya lebih memadai”

Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika seorang al-akh mempersilahkan saudaranya
mengkhitbah seorang akhwat pujaan hatinya,
hanya karena pernah mengetahui saudaranya yang lain itu jatuh hati pada akhwat itu.

Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika seorang al-akh memohon maaf kepada saudaranya yang lain
yang telah menyakiti hatinya,
karena mengetahui saudaranya yang bersalah itu sungkan untuk minta maaf.

Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika seorang al-akh meminta dengan sangat kepada saudaranya setiap hari
untuk menasehati dan menjaganya dari keburukan.

Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika seorang. al-akh datang ke rumah saudaranya yang lain,
dan memohon ampunan Allah,
hanya karena ia pernah membicarakan keburukan saudaranya (ghibah),
membawa berita tentang sudaranya yang membawa permusuhan (naminah),
serta memata-matai saudaranya itu (tajassus)

Aku rindu cerita menakjubkan;
ketika ada peluang usaha yang hasilnya banyak bermanfaat bagi da’wah,
seorang al-akh mempersilahkan saudaranya untuk mengambil ladang usaha itu,
atau di lain kesempatan,
ia mengajarkan kepada saudaranya yang lain
belajar menggarap ladang usaha itu tanpa takut tersaingi

“Ukhuwah itu adalah saudara iman dan perpecahan itu saudara kufur. Ada hamba-hamba Allah bukan nabi, bukan syuhada namun “diri/disamakan” oleh para nabi dan syuhada dihadapan Allah. “Mereka orang -orang yang saling mencintai dengan ruh Allah, bukan karena hubungan sedarah atau hubungan kepentingan memperoleh kekayaan. Demi Allah, wajah-wajah mereka cahaya. Mereka takkan merasakan ketakutan ketika banyak orang yang ketakutan dan tidak bersedih, bila ummat manusia bersedih” (HR Ahmad)

“Saudara yang lurus memandang pada saudaranya lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Hasan Al-Banna)

“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan; tidak ada persatuan tanpa cinta kasih; minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri)” (Hasan Al-Banna)

Thursday, February 6, 2014

Bagaimana bila aku rindu pada mereka?

Mengutip salah satu puisi dalam buku kedua saya yang judulnya "Pintu Hati Pintu Langit"..
".....
Ada yang rindu...
Ia membisikkannya melalui sarana imaji
Melayangkan segenap prihatin akan jawaban yang terdiam,
membeku

Kesekian kali menanyakan
Ia rindu, katanya

Begitukah adanya tatapan mata yang menipu?
Tersenyum,
lantang menyirat ketiadaan
Sementara asa yang nyata adalah harapan

Beginikah yang menjadikan keengganan serupa permintaan
akan jawaban berbalut rindu?

Seperti ombak yang menghempas karang
Rindu tebal yang ganas
Tak habis tercurahkan sampai runtuhnya perkasamu

Seperti pena yang berdebu
Dan kertas yang menguning
......"
-Annisa Fitriani

Dan sekarang, lagi-lagi saya rindu...
Yang pertama jelas ke suami ya... hehehe... lama banget nggak liat beliau, terpisah jarak dan waktu. Masih setia menanti kabar kapan kepulangan beliau.

Yang berikutnya,, saya tujukan kepada mereka...

Mereka, sahabat-sahabat yang dulu dalam lingkaran yang sama...
Meskipun telah terpisah tempat menimba ilmu,, 
meski terkendala jadwal yang sering sekali bertubrukan,
tapi selalu saja berkumpul dengan mereka terasa seperti *kembali ke rumah*...

Mereka, rekan-rekan yang dulu bersama-sama membangun jalan cinta ini, jalan cinta dakwah..
Dengan sedikit sekali orang yang mau ikut andil bersama mereka,
dengan tak berhenti bekerja walau hasilnya belum terlihat di dunia,
toh yang diutamakan memang hanya istana di syurga Allah..

Mereka, yang waktu dan raga rela saya korbankan untuk bisa berpeluh dan berlelah-lelah bersamanya..
Tak peduli siang terik ataupun malam larut,
tak masalah entah hari kuliah ataupun hari libur,
seakan raga ini tak ada habisnya untuk digunakan beribadah bersama mereka..

Mereka, yang meski kadang terpisah jarak dan waktu, tapi selalu terasa rekat di hati..
Mereka, keluarga dakwah sekolahku....

Ingat sekali, dulu, ketika kaki ini sedang sedikit tertatih di jalanNya,
air mata jatuh sesenggukan,
seorang mbak berkata,

"ya.... memang seperti ini.... memang kita tidak seperti mereka, yang bersinar dengan hingar bingar kemewahan kampus... yang berdiri di depan dan memimpin pasukan elit di gerakannya.. yang bisa berjalan dengan kepala yang tertegak dan membusungnya dada, karna setiap langkah kakinya menjadi percontohan untuk diikuti.. yang slalu mendapatkan tepuk tangan serta pujian untuk berbagai aksi dan kesibukan yang dilakukan...
tapi mereka tak seperti kita... yang bisa terselamatkan dengan sifat qonaah karna tak perlu berebut hingar bingar kekuasaan... yang terjaga dari kesombongan hati karna setiap yang kita lakukan akan selalu terorientasi kepada Allah, karna kita tak punya kepentingan dunia yang merusak jalan kerja kita.. yang memang akan selalu ada di balik layar, namun akan menjadi orang yang tersenyum paling indah ketika bibit-bibit yang diperjuangkan mulai terlihat pesonanya..."

Dan saya dulu hanya bisa menangis... kalimat beliau praktis menjadi pengingat dan penguat ketika diri ini jatuh ke titik yang lebih bawah.

Saya sangat mencintai mereka,, apakah mereka juga?
Saya sangat rindu dengan mereka,,, begitu jugakah dengan mereka?

Seandainya boleh memilih, dan saya memang sudah pernah memilih,
tak pernah ada sedikitpun bayangan jika saya harus berpisah dengan mereka..

Bahkan dulu pernah berkata kepada murobbi bahwa saya lebih baik tetap disana daripada lahan dakwah manapun yang selainnya.

Tapi yang namanya takdir Allah, bukankah Ia yang memilihkan, dan bukannya kita?

Sekali lagi,,, ketika sudah seperti ini,,,, apa yang harus saya lakukan bila saya ingin kembali?
bagaimana....bila... saya... rindu....?

Ah, jangankan saya, Rasulullah saja rindu kok.....
“Mereka adalah umatku kelak, yang mana mereka belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tetapi mereka sangat merindukanku dengan tulus, ikhlas dan penuh rasa hormat kepadaku...

mereka adalah orang-orang yang melanjutkan perjuanganku dan tidak jarang pula mereka meneteskan air mata karena menahan rindu yang sangat kepadaku, 
aku rindu kepada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka…”

Kalian, para calon penghuni syurga,
dimanapun berada dan sedang apapun sekarang,
semoga slalu berada dalam lindungan dan cahaya dari Allah.... :"

Karna Tuhan tak pernah tidur, apalagi mendengkur!
semua ini jelas-jelas telah Tuhan ukur
mungkin dengan begini kita kan tahu bersyukur
mungkin dengan ini kita takkan pernah takabur

Karna satu persatu, seiring berjalannya waktu,
kita akan tahu sebenarnya yang Tuhan Mau
Tuhan ingin kita jadi manusia yang tangguh
Tuhan ingin agar kita tak mudah tuk mengeluh,
-Karena Tuhan Tau Kita Mampu-

Walladziina yu’tuuna maa aataw wa quluubuhum
wajilatun annahum
ilaa rabbihim raaji'uun.

ukhibbukum fillah.. lillah..

Friday, December 27, 2013

Pandu Coklat

galau ditengah pengerjaan tugas-tugas..

ngeliat seorang sahabat sliweran pakai baju coklat-coklat itu.....
mbuat jadi KSBB....
sedih dan galau lagi

mendadak keinget waktu dulu masih sering banget aksi
dan terpesona sama baju coklat-coklat untuk yang pertama kali...
kesannya langsung kuat menancap, keren banget ya mbak-mbaknya itu...
keliatan banget aura kekuatan jisminya...
"aaahh kapan ya bisa kayak gitu...." pikir saya dulu.

hingga akhirnya sebuah tawaran itupun datang juga....
tawaran bergabung dengan mereka, pandu coklat-coklat...
yang sayangnya, tawaran itu datang justru bukan pada waktu yang tepat....

tawaran yang awalnya membuat saya sangat bergairah, mendadak justru menjadikan hari-hari saya penuh kegalauan...
menimbang-nimbang,,, berdiskusi sana-sini,,,
hingga akhirnya mbak murobbi di kampus berkata,,
"tak usah dipaksakan... itu ndak wajib kok... lagipula lahan da'wahnya Sasa kan ada sendiri... gabung ke yang satunya saja ya..."

dan akhirnya benar-benar harus berpisah jalan dengan sahabat liqo saya itu....
yah, jalan da'wah seseorang memang sendiri-sendiri kan..

tapi ternyata sampai sekarang saya masih belum bisa move on....
terlebih ketika melihat seragam coklat-coklat itu kembali....

masyaaAllahh.....

Allahumma mushorrifal quluub
shorrif quluubana 'ala tho'atiq

ya Tuhan kami... tuangkanlah kesabaran atas diri kami..
dan kokohkanlah pendirian kami..
dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir...
aamiin

Nama: Sasa
Pekerjaan: Berjuang untuk Move On

Thursday, August 29, 2013

Kami Rindu Tegaknya Syariat Islam

Ya Allah,

kami memohon kepada-Mu dengan menyebut Nama-Mu Yang Paling Agung

agar Engkau menangkan saudara-saudara kami dan umat Islam di Mesir

atas musuh-musuh mereka, musuh-musuh-Mu,

sebagaimana Engkau menangkan Nabi Musa atas Fir'aun dan bala tentaranya..


Ya Allah,
jadikan kami termasuk orang-orang yang memenuhi janji tatkala berjanji,
termasuk orang-orang yang sabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam pertempuran. Jadikan lah kami termasuk mereka yang benar imannya dan mereka yang bertaqwa..

Ya Allah,

kami pasrahkan padamu Mesir dan ahlinya,

jagalah dari semua makar buruk dan niat busuk,

dan suburkan di sana keadilan dan kebajikan..



Ya Allah,
tolonglah saudara-saudara kami di Mesir atas musuh-musuh Islam,
tolonglah mereka dalam menghadapi semua yang membantu musuh-musuh-Mu dan memusuhi wali-wali-Mu, serta siapapun yang menolak syariat-Mu dan menekan da’wah-Mu..

Ya Allah,
turunkan kepada mereka hukuman-Mu
yang tak kan terhindarkan dari orang-orang yang berbuat jahat..

Ya Allah, Pemilik Tipu Daya yang kokoh,
lenyapkan lah tipu daya dan makar mereka, Ya Allah..
Jangan biarkan satu jalan pun bagi mereka untuk menghinakan seorang pun diantara hamba-hamba-Mu yang beriman


Ya Allah,
menangkan lah kaum muslimin di Mesir melawan thaghut militer,
hancurkan lah kekuatan As-Sisi,
lemparkan rasa takut kepada mereka
sehingga menyerah pada kekuatan orang-orang yg menginginkan tegaknya syariah-Mu..


Ya Allah hancurkanlah orang-orang zhalim yang membantai kaum muslimin di Mesir tanpa hak, karena sesungguhnya mereka telah melampaui batas

Ya Allah,
Engkau tahu jika ini semua HANYA untuk-Mu,
maka tolonglah da'wah kami,
sebarkan fikrah islamiyah kami,
berkahi ukhuwah kami,
jinakkan dan satukan hati kami,
bimbinglah para pemimpin kami,
dukung lah mereka dengan kebenaran di mana pun mereka berada,
dan jadikan kami satu shaf bagaikan bangunan yang tersusun kokoh..

Sungguh, kami rindu dengan tegaknya khilafah,
kami rindu tegaknya syariat islam di negara kami..


Monday, August 26, 2013

Wanita Menikah yang Berkarir -- Sunnah pun Tidak

bismillaahirrahmanirrahiim..

Sebenarnya postingan ini semi-curhat juga.. Berawal dari keseringan saya menjumpai berbagai pertanyaan dari teman-teman mengenai pernikahan; entah itu "gimana rasanya menikah?", "susah nggak nikah?", "dulu gimana kok bisa ketemu sama si mas?", dan kawan-kawan, ada satu pertanyaan yang sedikit menggelitik, "kalo menikah trus nanti gimana kuliahnya? trus nanti karirnya gimana dong?" Terlebih beberapa teman perempuan yang curhat ke saya tentang penundaan mereka menikah ya karena orangtua mereka menyuruh mereka berkarir dulu dan baru menikah kemudian.

"Buat apa sekolah susah-susah, mahal-mahal, kalo ujung-ujungnya justru malah cuma jadi ibu rumah tangga??" -ini termasuk pertanyaan paliing sering yang saya dapat.

Jujur, dari dulu saya juga nggak pernah berpikiran untuk menjadi ibu rumah tangga.. Saya lahir dan besar dalam keluarga dimana ibunda dan bapak saya semuanya bekerja.. Bapak ngantor dari jam 7-sampai siang, dan sorenya wirausahawan (bapak punya perusahaan kecil-kecilan pembangunan perumahan gitu). Sedangkan ibunda saya justru lebih padat lagi, dari jam 7.00 sampai siang jaga poli di rumah sakit daerah, lalu sore sampai malam jaga praktek di rumah sakitnya sendiri.. Pulangnya biasanya jam 22.00 ke atas,, dan itupun jam dua pagi masih sering bangun dan ke rumah sakit lagi untuk operasi..

Saya dan adik-adik saya jaraang sekali bertemu orangtua, tapi ketika ada beberapa jam waktu bersama di rumah, pasti akan termanfaatkan dengan maksimal..

Karena kondisi orangtua yang sama-sama bekerja itu lah, kami sekeluarga sudah biasa membagi tugas merata ke semua anggota keluarga.. Kalau ibu belum pulang, ya kadang bapak yang masak. Nanti siapa yang masak, siapa yang cuci, siapa yang ngunci-ngunci rumah, dan lain lain.

Nah, ketika menikah, saya menemukan potret keluarga yang lain. Keluarga suami saya itu mom-center. Yang bekerja ya cuma abah, sedangkan yang lebih sering di rumah ya ummi..  Berhubung ummi itu full ibu rumah tangga, dan aktivas beliau juga hanya di sosial (jadi ketua GRAPYAK, ngisi pengajian di mana-mana, kegiatan-kegiatan Salimah, dan kawan-kawan) jadi ya memang semua pekerjaan yang di rumah dilakukan ummi..

Di sini bedanya.. Saya waktu awal-awal menikah itu jadi semacam culture shock. Biasanya di rumah saya, semua orang bertanggung jawab sama dirinya sendiri. Apalagi beberapa tahun ini kan saya cuma tinggal sendirian di jogja. Kalau makan ya piringnya dicuci sendiri, kalau pingin makanan lain ya masak sendiri, dan sebagainya. Nah, padahal di keluarga suami itu sistemnya mom-center, ya semua pekerjaan rumah wajib dilakukannya sama si istri. Yang pihak laki-laki itu ya makanan dimasakkan, disiapkan, dicucikan, dan sebagainya. Contoh sederhananya, kalau saya nggak makan ya suami juga nggak mau makan. Repot kan.. ^^"

Nah,, akhirnya kita baru diskusi.. Gimana baiknya untuk ke depannya..

Kalau secara cita-cita, suami dan keluarga suami saya itu sangat mendukung cita-cita saya untuk menjadi dokter spesialis kandungan seperti ibunda saya (berhubung saya kan diwarisi rumah sakitnya itu).. Tapi apa saya akan sesibuk ibunda saya, itu kan pertanyaannya.

Beruntungnya, beberapa waktu lalu, saya dan suami berkesempatan datang di KRPH (Kajian Rutih Pagi Hari @Masjid Mardhiyyah) yang saat itu dibersamai oleh Ustadz Didik Purwodarsono. Tau lah ya, kalau ustadz didik itu kan pasti tentang parenting, hhe. Kebetulan waktu itu juga menyinggung tentang peran suami-istri di dalam keluarga.

Di sana beberapa poin yang saya camkan betul sampai sekarang, salah duanya adalah :
1. Seorang istri yang bekerja itu, sunnah pun TIDAK
2. Seorang anak berhak mendapatkan 3 ibu : ibu kandung, ibu susu, ibu guru

Saat poin pertama tadi dijelaskan, saya tercekat. Iya ya, sunnah aja enggak lho. Di sana ada kemuliaan Allah untuk wanita, katanya. Wanita itu, untuk meraih surga cuma tinggal patuh sama suami, sholat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, dan menjaga kehormatan. Gitu aja. Dan dia akan bebas masuk surga dari pintu manapun. Subhanallah banget kan..

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda :
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ
Apabila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kehormatan dirinya, dan taat kepada suaminya,Maka ia akan masuk syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki..[HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 1931]
Kata ustadz, kecuali dalam kondisi dimana istri yang bekerja itu untuk membantu perekonomian keluarga, dimana kalo si istri nggak bekerja maka akan mengganggu stabilitas keluarga..

Tapi, kata ustadz itu juga, kita perlu sadar sama lingkungan masyarakat dimana wanita juga dibutuhkan di dalam profesionalitas terutama untuk yang berhadapan dengan masalah akhwat..

Saya jadi ingat, duluu banget saya juga pernah tanya ke ibunda saya,
"Ibu nggak capek po seharian bekerja? Di luar banyak banget pasiennya, padahal di rumah juga masih harus macem-macem. Kenapa nggak bapak aja yang kerja?"

Jawaban ibu saya,
"Ibu nggak merasa sedang kerja kok. Bagi ibu ini hobi, karna ibu seneng banget kalo bisa menolong pasien. Lagipula, kalau bukan ibu, nanti para perempuan itu masa harus ke dokter kandungan yang laki-laki?"

Fyi aja, dokter kandungan itu pekerjaan yang berat lho, setiap kali ada konferensi bareng dokter-dokter kandungan, bisa dipastikan lebih dari tiga per empatnya adalah laki-laki. Bahkan di purworejo aja, dokter kandungan perempuannya ya cuma ibunda saya ini, yang lainnya laki-laki (kebayang kan ya banyaknya pasien yang datang ke ibunda saya)

Berdasarkan itulah, kemudian diambil keputusan, jadi dokter spesialis kandungan ya nggak apa-apa. Tapi tujuannya untuk aktivitas sosial, alias kita nggak mematok penghasilan dari sana. Sedangkan masalah penghasilan sepenuhnya dihandle sama suami saya, begituu. Setiap orang punya lahan da'wahnya masing-masing kan ya? Dan kami sepakat lahan da'wah saya ya melalui profesi saya itu, tanpa mengorbankan peran ibu rumah tangga sedikitpun.. :)

Btw, untuk poin selanjutnya, insyaaLLoh saya lanjut besok-besok, ini saya keburu ke kampus karna mendadak ada syuro' (padahal libur-libur) *_* btw lagi, saya ke kampus juga karna bosan di rumah nungguin suami pulang kerja, hehe. Masaknya nanti aja waktu udah mau ifthor ^_^

See ya! ;D

[UPDATE] ceritanya udah pulang dari syuro' ini, hehee, lanjut ya..

Kadang, setelah dijelaskan dengan penjelasan di atas itu, masih banyak yang kemudian berkomentar,
"Lalu buat apa sekolah tinggi-tinggi? Buat apa jauh-jauh? Buat apa mahal-mahal?? Kalo cuma jadi ibu rumah tangga aja, percuma dong!"


Hmm… apa benar, ilmu itu jadi nggak bermanfaat? Yuk kita bahas, sekalian sedikit banyak menyinggung poin nomor dua tadi.. ^^
Ini beberapa alasan versi saya, kenapa anak perempuan tetap harus sekolah, walaupun sejak awal sudah berniat untuk nggak kerja kantoran.. Sekali lagi, ini versi SAYA lho ya.. jadi dilarang protes ^.^
1. Ibu/istri rumah tangga yang berpendidikan akan dapat suami yang setara.
Sebuah artikel yang ditulis Susan Patton, seorang alumunus Princeton, sempat diprotes para feminis. Patton bilang kalau saat-saat di kampus Princeton-lah masa-masa emas wanita mencari jodoh, yang kalau bisa sesama mahasiswa Princeton, supaya secara intelektualitas setara. Karena setelah lulus dari Princeton, bakal susah mencari pria setara yang masih available (jomblo kalo istilah kita hehe). Para pria cenderung mencari wanita yang lebih muda & berpendidikan lebih rendah, jadi semakin tua & pintar wanita, semakin susah jodohnya. Ini kata Patton lho..
Artikel ini mungkin terdengar jahat, tapi suka nggak suka banyak kakak kelas perempuan saya yang akhirnya menikah dengan teman kampus, satu angkatan atau senior. Walaupun lebih banyaak lagi yang menikah dengan teman SMA, atau angkatan bawahnya atau atasnya di SMA (contohnya saya ini), tapi hal ini pun dikarenakan lingkungan dan culture yang sudah *sama* sejak di SMA (kultur SMA saya memang cenderung islami banget).
Nah, dengan kata lain, pada akhirnya dengan proses pendidikan inilah para calon ibu ini berhasil mendapatkan pria yang sama pintarnya, karena mereka sama-sama bersekolah, berpendidikan tinggi, dan berpergaulan luas :)
2. Ibu/istri rumah tangga yang berpendidikan akan mampu ‘mengimbangi’ suaminya.
Walaupun tidak bekerja di luar rumah, para ibu/istri ini akan rajin membaca berita, buku, meng-update diri dengan info terbaru, termasuk dengan bagian pekerjaan suaminya. Otak yang selalu terasah dengan kegiatan membaca dan menulis akan tetap tajam, karena sudah terlatih selama proses pendidikan beberapa tahun.
Dari sebuah artikel, seorang sarjana psikolog menulis di skripsinya kalau komunikasi adalah kunci kebahagiaan rumah tangga. Komunikasi di sini bukan hanya ngomongin tentang anak-anak aja lho ya, tapi juga isu-isu terkini seperti Pemilu 2014, krisis ekonomi Eropa, bentrokan di Mesir dan Suriah, harga saham, bencana alam, perusahaan bangkrut, pidato SBY, cerita film, kabar artis, kasus korupsi, pokoknya selain hal-hal domestik. Tentu, para istri yang berpendidikan akan jauh lebih mampu melakukannya dibandingkan dengan istri yang tidak berpendidikan kan? :)
3. Ibu/istri rumah tangga yang berpendidikan akan bersosialisasi dengan luwes dan percaya diri.
Seperti yang kita tau, sekolah nggak hanya menghasilkan technical skills aja, tapi juga interpersonal dan soft skills. Salah satu tugas para ibu/istri adalah menemani suami ke acara-acara kantor, yang otomatis membuat mereka harus bergaul dengan atasan atau bawahan suaminya. Mereka yang berpendidikan tentu akan percaya diri dan yakin dalam berbicara. Mereka punya banyak topik, termasuk bisa bilang, “oh.. saya juga alumnus kampus itu.. wah sempat diajar sama Pak Fulan?”. Ujung-ujungnya akan bikin suami bangga dan tambah sayang sama kita ^^
4. Ibu/istri rumah tangga yang berpendidikan adalah pendidik anak nomor satu.
Kalau yang ini sih nggak perlu diperdebatkan lagi yah.. Ilmu yang dipunyai sang ibu tentu bisa diaplikasikan di rumah tangga. Mulai dari masalah memasak, mengatur uang, berbelanja, mendesain rumah, sampai mendidik anak. Tentu si anak akan bangga kalau ibunya berijazah sarjana, bisa berkarir di luar rumah tapi memilih bersama si anak, daripada kalau ibunya nggak sekolah, jadi ibu rumah tangga karena nggak punya keahlian lain. Si anak pun punya perspektif yang setara untuk ayah-bundanya, sebagai role model yang sama hebatnya, sama pintarnya, sama baiknya. 
Masih banyak alasan lain kenapa anak perempuan harus sekolah. Kadang sedih ya kalau denger komentar yang merendahkan ibu rumah tangga yang berijazah. Padahal, mereka bisa membangun keluarga ya karena bersekolah. Kalau nggak sekolah, mungkin nggak ketemu suaminya, hehehe…
Pesan sponsor :: Jadi,, jangan halangi pendidikan anak perempuan hanya karena mereka ingin jadi ibu rumah tangga, seperti ibunya ya. Untuk para ibu/istri rumah tangga yang ingin sekolah lagi, kenapa tidak? ^^ Tetap semangat! :DD
PS : Kalau mau ada tambahan lagi dari para istri, silahkan lho ;)

Saturday, August 17, 2013

My Mom dan Jilbabnya

Bismillahirrahmanirrahiim..


Postingan kali ini murni hanya curhat biasa ala Sasa, jadi untuk yang nggak berminat boleh skip dari postingan ini ^^


Sudah pernah baca postingan saya yang di sini? Di sana udah sedikit disinggung, kalau saya pakai jilbab memang semenjak kecil. Nah, kali ini saya mau curhat tentang proses berjilbab yang saya alami -- dan juga dialami ibunda saya.

Dulu, waktu kecil, saya pakai jilbabnya ngasal. Adanya apa. Yang penting berjilbab. Kebetulan waktu TK kan memang di TK ABA gitu jadi jilbab udah disediain sama sekolahan. Waktu SD juga begitu, jilbabnya standart jilbab anak-anak; jilbab cemplungan, pendek, ada talinya.

Memasuki SMP, awal-awal kelas satu masih pakai jilbab cemplungan yang pendek. Lalu tahun kedua mulai pakai jilbab paris (jilbab segiempat yang tipis itu) gara-gara terinspirasi sama jilbab seorang teman saya yang rapi. Waktu itu perempuan di angkatan saya (yang jumlahnya hampir 200 orang) yang berjilbab cuma ada dua orang; saya dan teman saya itu.

Waktu itu saya pernah iseng tanya sama ibunda saya yang sedang siap-siap mau berangkat operasi (ibunda saya dokter kandungan yang kece sekali, kapan-kapan saya tulis di postingan khusus ya),
"Bu, kok jilbabnya diikat di leher gitu? Nggak panas?"
Saya heran aja lihat jilbab dililit-lilit di leher, ngeliatinnya kan gerah.

Ibunda saya njawab, "Biar nggak ribet. Daripada ngganggu operasi."
Saya sih ngangguk-ngangguk aja, berhenti tanya, nanti keburu pasiennya yang marah-marah ke saya kan repot.

Lalu ketika masuk dunia SMA, saya baru tau tuh kalau pakai jilbab paris itu harus di dobel. Biar nggak transparan, katanya.

Ribet ya kesannya. Jadi saya mutusin pakai jilbab agak gedhenya ya pakai jilbab cemplungan aja, males ndobel-ndobel.
Lalu teman saya protes, "jilbab cemplungan kan kesannya nggak formal. Masa' acara resmi pakai jilbabnya kayak gitu?"

Wahh tersentil banget lah..
Akhirnya mulai latihan pakai jilbab paris yang di dobel. *dulu masih jarang banget bisa nemuin jilbab tebel macam jilbab Harifa yang saya jual ini :3

Suatu ketika, waktu siap-siap mau ada acara keluarga, saya masih ngelipat-lipat jilbab paris buat didobel. Ibunda saya masuk kamar, ngeliatin saya masang jilbab itu, lalu komentar, "Lha kalo jilbabannya lama banget kayak gitu, pasiennya ibu keburu meninggal semua dong!"

Jederr... Iya juga ya, haha..
Waktu itu saya nggak membenarkan atau menyalahkan, diem aja deh, belum tau mau komentar apa.

Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun terlewat,
Saya terus berdoa supaya suatu hari ibunda saya dapat hidayah atau petunjuk buat memanjangkan jilbab..

Sampai tibalah suatu hari dimana saya dilamar sama ikhwan yang sekarang jadi suami saya itu..
Seselesainya kunjungan ikhwan itu dan orangtuanya ke purworejo buat ta'arufan yang pertama kali,
ibunda saya komentar, "Umminya si Ibung itu jilbabannya kayak kamu ya? Emangnya bagus kalau kayak gitu po?"

Kebetulan ummi mertua saya kan memang kader inti di tarbiyah, bisa dibayangin lah ya..

Waktu itu saya senyum. Mencoba nanggepin dengan sedikit bercandaan,
"Iya dong, Bu, bagus kan? Ibu pasti cantik kalau pakai jilbabnya kayak itu tadi."

"Itu jilbabnya nggak perlu di dobel-dobel kayak kamu dulu itu?"

"Enggak dong, Bu, sekarang kan udah banyak yang jualan jilbab segiempat yang tebal."

Ibunda saya cuma manggut-manggut aja. Sedetik. Dua detik. Ibunda saya komentar lagi,
"Kalau gitu besok kamu ajarin ibu pakai jilbab kayak gitu ya!""

Hihihi happy bangett.. Alhamdulillah..


Akhirnya misi doa saya dari dulu-dulu itu kesampaian juga..

Kalau ditanya, apa perubahan besar yang terjadi karena pernikahan saya, ya salah satunya proses berjilbabnya ibunda saya yang tercinta itu.

Kemarin waktu malam idul fitri kan saya di rumah mertua, kami shalatnya di Lapangan Kadipiro. Waktu masih nungguin abah mertua yang menyelesaikan khutbahnya, saya sama ummi mertua sempat mengobrol tentang ini. Ummi bilang kalau seneng saya jadi menantu beliau, karena jadi bisa ngasih contoh ke adek-adek ipar saya. Dan saya akhirnya juga cerita tentang jilbab ibunda saya itu, saya seneng banget punya ummi mertua seperti beliau.

Sekarang bahkan nggak cuma jilbabnya saja yang tambah rapi dan syar'i, ibu pun sudah melengkapi busananya dengan kaos kaki. Walaupun mau operasi sekalipun.

Dan senangnya, pernikahan ini bukan hanya berpengaruh ke jilbab ibunda saya, tapi juga ke pemahaman ibu saya tentang da'wah di profesinya.. Subhanallah sekali pokoknya, luar biasa.

Boleh dibilang sifat wanita yang nggak pingin kalah yang awalnya bisa membuat perubahan besar di jilbab ibunda saya itu. Ibu saya sepertinya nggak mau saya lebih lengket ke ummi mertua, atau gimana, jadinya ibunda saya berusaha menyamai ummi mertua. hehee,, nggak tau juga ding.. ^^

Benar kata mbak murobbi saya dulu, "Kita memang pasti akan bahagia sekali dengan perubahan di keluarga kita yang mengarah ke kebaikan, jadi jangan pernah berhenti berda'wah kepada mereka sesibuk apapun kita. Karna mereka lah prioritas kita, mereka yang paling berhak mendapatkan da'wah dari kita, sebelum orang lain."

Subhanallaah... :")

Ah ya, tadi ada kejadian lucu lagi.
Kemarin waktu ibunda saya nelpon, saya kan sedang ikut aksi #SaveEgypt di nol kilometer itu, ibunda saya kelihatan keberatan. Beliau memang nggak pernah setuju kalau saya ikut aksi-aksi semacam itu. Berbahaya, katanya.

Lalu tadi waktu ditanyain tentang aksi kemarin, saya bilang, "Tau nggak, Bu, yang maju ke atas panggung dan orasi mewakili Salimah? Ummi lho! Ummi kemarin yang maju ke atas panggung, padahal yang lainnya ikhwan-ikhwan gitu. Ummi akhwat sendiri!"

Ibunda saya terdiam... Dan sedetik kemudian,, kami malah udah asyik mbahas tentang aksi itu.
Hihi,, saya jadi senyum-senyum mbayangin, gimana ya kalau besok-entah-kapan ibunda saya juga ikut turun buat aksi semacam itu?

Who knows kan? ^___^

Love you both so much, ibu dan ummi... :')

Smoga akan smakin banyak lagi perubahan baik untuk keluarga kami karena pernikahan ini ya..
Karena menikah itu bukan karena cinta, tapi untuk membangun ummat, membuat peradaban. :)

Tuesday, July 30, 2013

Islam Berpolitik

Yang ngikutin berita dunia Islam pasti langsung ngeh deh saya lagi ngomong apa. Clue : Mesir.


“Innahum Yakiiduuna kaida, wa akiidu kaida, famahhilil kaafiriina Amhilhum ruwaida..”
[Q.S. Ath-Thariq: 15-17]

Allah yang maha memberikan dan mencabut kerajaan/kekuasaan dari orang yang Ia kehendaki..

Jika memang yang mereka (orang-orang kufur) kehendaki adalah kekuasaan di dunia, maka biarkan kita tetap menggantungkan diri kepada kekuasaan-Nya dengan menjaga umat ini tetap dekat dengan ajaran Islam yang sebenarnya..

Keep praying for our brothers n sisters in Egypt.. Allahu akbar..! Allahu ghayatuna..! #saveEgypt


pic.source : komikmuslimah

Friday, July 19, 2013

a little something refreshing :')

bimillaah...
Rasanya udah lama banget saya nggak nulis di sini #niup-niup debu di blog >,<

Tadi nggak sengaja ada seorang mbak yang bertanya "dek sasa kapan nulis lagi? :) hehe. ditunggu tulisannya" dan seketika itu juga langsung membuka blog dan ternyata,,, saya terakhir nulis itu bulan Mei lalu, dan sekarang sudah bulan Juli,, wah wah.... *_*

Sebenarnya jadi lama nulis blog bukan karna nggak ada alasan,, tau sendiri lah mahasiswa kedokteran, isinya cuma kuliah-praktikum-tutorial-ujian #ngeles. hehe. Tapi bukan berarti saya jadi berhenti nulis :D saya tetap nulis kok, tapi karna masih proyek rahasia jadinya belum saya publish hehehe ^_^v #ngeles kedua

Kebetulan memang ada yang sedang ingin saya share, jadi ya lanjut deh mbuka blognya :D

Ceritanya bermula beberapa waktu lalu. Sekitar hari selasa mbak murobbi saya yang di kampus sms saya, menanyakan apakah kamis siang saya luang. Saya jawab luang, lalu bertanya ada apa. Ternyata si mbak minta tolong ke saya dan juga temen liqo buat membantu jadi mentor di SMA Tamantirto deket kampus, soalnya si mbak udah lama nggak megang anak sekolahan. Nah, waktu itu saya tertarik dan langsung menyanggupi.

Mungkin saya semacam terkena sindrom homesick ya. Saya kangen anak-anak SMA. Terakhir megang anak SMA udah lamaa banget kayaknya, sekitar 6 bulan lalu (saya berhenti jadi mentor SMA ketika menikah januari kemarin). Sekarang terlalu seringnya ketemu sama anak-anak kuliahan, berforum dengan mahasiswa-mahasiswa yang sudah pinter sekali untuk berdiskusi masalah-masalah berat, yang terkadang harus mewaspadakan diri sendiri supaya hati nggak terkeraskan. Huff,, bener-bener pingin ngerasain megang anak SMA lagi :")

Akhirnya tiba juga hari kamis. Hari itu agenda romadhon saya standar aja kayak biasanya = kajian-syuro'-ngurus masjid-nyiapin ifthor. Ketambahan mentoring.

Kami pertamanya janjian di rumah mbak murobbi jam 12.10 lalu berangkat bareng-bareng. Tapi saya masih ada urusan lain sebelum itu, dan waktu ngeliat jam ternyata udah jam 12.40, padahal acaranya mulai jam 12.45 .

Jadi saya memutuskan untuk langsungan aja pergi ke SMA nya itu dengan berbekal nekat dan sok tau karna saya juga nggak tau alamat sekolahnya. Tapi ternyata,, saya justru jadi mentor pertama yang datang ke sekolah itu --" Saya sms mbak murobbi saya, nggak dibales, mungkin masih di jalan.

Ketika menunggu balasan sms itulah, tiba-tiba ada seorang adek berjilbab unyu yang mendekati saya di parkiran motor, "Assalamualaykum mbak, mbak yang mengisi kajian hari ini ya?"

Nah lho,, saya bingung. "Kajian apa ya dek? Saya taunya yang mentoring itu.."

"Iya mbak, iya ada mentoring. Mari mbak ikut saya ke masjid.."

Ngobrol basa-basi. Perkenalan. Sampai tiba di masjid. Ternyata udah ramai banget adek-adek muslimah yang berkumpul, sekitar 30an orang ada.

"Mari mbak, silahkan masuk. Acaranya bisa kami mulai karna mbak sudah datang.."

Mendadak jadi dapet feeling buruk.....
"Nggak menunggu mentor yang lain dulu dek?"

Si adek dengan polosnya menjawab, "sebelum mentoring kita kan kajian keputrian dulu mbak.. Jadi nanti mbak sasa mengisi kajian dulu saja sambil menunggu teman-teman mbak yang lain."

Lhoh lhoh lhoh -__-" wkwkwk. Jujur saya shock lho waktu itu =,=
Ini pasti harusnya yang ngisi kajian itu mbak murobbi saya, tapi berhubung baru saya yang datang jadi saya yang kena jebakan batman =_= #speechless

Seharusnya biasa aja, kemarin-kemarin juga sempat dimintai tolong untuk mengisi beberapa kajian, termasuk keakhwatan. Tapi masalahnya waktu itu, saya nggak prepare materi apapun untuk kajian. Jangankan media powerpoint atau film pembuka, flashdisk saja nggak bawa. Saya cuma menyiapkan game-game standar perkenalan mentoring. wkwk.

Akhirnya saya bilang, "forumnya dibuka dulu saja dek, tilawah dulu." Sambil berharap nanti mbak murobbi dan rombongan temen-temen sudah sampai di lokasi ketika pembukaan selesai. Tapi ternyata sampai selesai tilawahpun rombongan belum datang juga...

Dan kalimat itupun datang :: ".... kami persilahkan mbak Sasa untuk mengisi kajian di depan.."
Hoho... yasudahlah... the show must go on... yang jelas saya nggak mau tanggungjawab kalau minggu depan jamaah kajiannya jadi bertambah banyak gara-gara saya. 

Sampai di penghujung kajian,, alhamdulillah berjalan cukup lancar dan mendapat respon baik dari adek-adeknya. Banyak yang bertanya, sedikit yang mencoba menjawab dan kurang betul. hehehe. Overall, saya bisa menarik nafas lega ketika panitia memberi saya secarik kertas yang menandakan bahwa seharusnya waktu sudah habis sejak tadi. Oh, maafkan saya adek-adek yang unyu >.<

Agenda berlanjut lagi ke tausyiah singkat dari mbak murobbi saya, kemudian pembagian kelompok, lanjut ke mentoring kelompok kecil. Saat semua rangkaian acara selesai itulah, si adek unyu yang pertama tadi bercerita ke saya kalau kegiatan kajian dan mentoring hari itu adalah yang pertama kali dalam sejarah persilatan di SMA itu,, dan agenda itu memang sengaja diadakan karena kebetulan bulan Ramadhan.. bahkan si adek berkali-kali meminta maaf ke saya karena dia merasa acara yang diselenggarakan jauh dari kelayakan..

subhanallah... saya peluk juga itu si adek.
Tenang saja dek,, saya juga pernah jadi pengelola mentoring, dan saya sadar pasti acara seperti ini akan selalu nggak se-sempurna yang diharapkan.. pukpuk adek sayang... :"")

Saya bersyukurr sekali hari itu.. Sebelumnya saya berharap agar materi yang saya sampaikan di kajian bisa bermanfaat untuk adek-adek itu. Tapi justru sebaliknya, saya yang mendapat banyak sekali pelajaran dari mereka.. Suasana siang itu seperti merefresh ingatan saya yang sudah lampau.. Cerita adek-adek bahkan bisa membangkitkan kembali ghiroh yang sama seperti dulu ketika masih aktif di sekolahan.. :"") yang sayangnya saya dipecat secara dini, hhe.

Perjumpaan siang itu juga sedikit banyak jadi menyadarkan saya,, apa mungkin selama ini tarbiyah hanya terfokus di tempat-tempat strategis atau kota besar,, sehingga daerah-daerah kecil dan terpelosok seperti ini baru tersentuh sekarang..?

Anyway,, jazaakillahu khayr untuk kesempatannya ya adek-adek,, dan juga untuk pelajarannya yang begitu berharga dari adek-adek... :') Semoga siang itu bisa menjadi pembuka yang manis untuk agenda keislaman selanjutnya di SMA kalian.. Dan semoga jamaahnya pekan depan bisa lebih banyak dari yang kemarin, syukur-syukur kalau bisa menularkan semangat mentoring ke SMA-SMA lain di Bantul... allahuma aamiin... :'')

peluk ciumm adek-adek binaan baru yang unyu-unyu... :**
jadi ketemu lagi deh sama adek-adek SMA,, hihi asiiik ^__^

Friday, February 3, 2012

fastabiqul khoirot!

Bila beban da'wah ini terlalu berat untukmu,
JANGANLAH berdoa agar amanah da'wah ini lepas darimu!

tapi berdoalah agar kamu diberi pundak yang kuat untuk menahan beban.


Bila kamu lelah dalam da'wah ini,
kumpulkan SEMUA semangat
dan yakini bahwa Allah SAYANG padamu!

MAJU dan MAJU TERUS!

hingga kelelahan itu lelah mengejarmu!!

..............

"cengeng kamu sha.
kayak gitu aja udah ngeluh?
kayak gitu udah ngerasa lelah??

CENGENG!

ayo bangkit sha, BANGKIT!!"

.........

"kamu selama ini kemana aja??
kok masih belum ngerti jalan ke surga??

ya inilah jalan kita,
jalanmu, jalanku.
jalan DA'WAH!"

.....

"udah hilangkah kerinduan pada surga itu??
kenapa baru seperti ini saja sudah menyerah??"

...

oke, udah cukup menampar diri sendiri hari ini.
kamu emang udah keterlaluan og sha.
nggak boleh terulang lagi.
awas kalo besok lagi cengeng!
awas kalo besok lagi lemah!!

surga masih sangat jauh shaa,,

dan kamu BELUM punya apa-apa untuk ngeraih itu!!

sadar sha, SADAR!

Sunday, January 29, 2012

calon bidadari surga.. :)

"mbak sha, aku takut mati.."

Siang itu begitu terik, bahkan kampus cemara yang biasanya sangat teduh sebagai tempat naungan untuk melingkar pun hari itu mendadak tak bersahabat. Dan akhirnya, atas bujukan bidadari-bidadari kecilku, kami berpindah ke warung makan nasi bakar. Alhamdulillah sejuk. Setidaknya angin masih berkenan menyapa lembut lingkaran kami.

Seharusnya materinya melanjutkan bahasan pekan lalu yang belum selesai, tentang shiroh 'Aisyah. Tapi hari itu bidadari-bidadari saya meminta pembahasan tentang akhirat, lengkap mulai dari dosa-dosanya hingga bagaimana ketika sudah berada di hari akhir besok. Okelah, challenge accepted. Saya sekaligus membatin, sepertinya memang sedang masa-masanya untuk tobat ya? Hari itu kedua lingkaran kecil saya meminta bahasan yang sama, berturut-turut .__.

Dan pernyataan itu terulang kembali. Pernyataan yang juga dicetuskan oleh seorang bidadari saya di lingkaran yang berbeda, masih di hari yang sama,

"Mbak Sha,, aku takut mati.."

Lagi, dan seperti di lingkaran sebelumnya, pernyataan itupun tak cukup hanya sekali. Selalu disertai cetusan-cetusan dari bidadari yang lain,

"Aku takut neraka mbak,,
aku takut ninggalin dunia ini.."

Saya hanya tersenyum pelan pada mereka. Karna jauh didalam lubuk hati, sayapun pernah berfikir seperti mereka.. Bahkan tak jarang saya merenungkannya hingga air mata tak berhenti menetes.

Saya menatap bidadari saya satu per satu,,

"tidakkah kalian rindu pada Rasulullah?

tidakkah kalian merindukan Abu Bakr?

tidakkah kalian.. ingin menatap Sang Pencipta?"

nafas saya sedikit terhenti saat kalimat terakhir itu terucap. Dan memoripun terulang kembali pada hari-hari dimana saya sering merenungkan tentang kematian.

"seandainya kalian tau,
mbak pun sering merasakan itu.. betapa takutnya menghadapi kematian, betapa malunya ketika besok malaikat mempertontonkan amal perbuatan mbak selama di dunia,, dan betapa betapa yang lainnya..

ah,
bahkan mbak yakin,
saat tiba hari yaumul hisab besok, sekedar mengangkat kepala saja pasti mbak nggak berani.."

"tapi lalu mbak sha ingat,
tentang sebuah cita yang selalu mbak nantikan wujudnya,

mbak sha sangat ingin bertemu mereka,
orang-orang yang sangat mbak cintai..

mbak merindukan Rasulullah,,
mbak ingin menatap langsung cahaya matanya -yang nggak diragukan lagi- akan membawa ketenangan buat jiwa kita,
mbak ingin mendengar langsung tutur katanya yang lembut,
mbak ingin mencium tangan sosok agung itu..

lagi, mbak merindukan Abu Bakr,,
mbak ingiin sekali bertemu langsung dengan sosok ksatria itu,
sosok sahabat sejati, cerminan umat yang utama,
tokoh yang selalu mbak idolakan,
lengkap dengan kebijaksanaannya dan segala kemuliaannya.."

"banyak sekali orang yang mbak rindukan..

termasuk sosok tegar Umar bin Khattab, sang pedang Allah,
yang selalu membuat mbak tertawa sedih ketika membaca shirohnya..

tertawa tentang bagaimana gigihnya perjuangan beliau berusaha mengalahkan segala amal ibadah Abu Bakr, dan bagaimana lucunya karna beliau selalu kalah.. -ya, Abu Bakr selalu menang dengan segala kemuliaan ibadahnya,,

tapi lalu mbak hanya bisa sedih, mengingat salah satu ucapan Rasul yang berbunyi,
**seandainya amal ibadah Abu Bakr dan Umar digabungkan, itu bahkan masih lebih berat jika dibandingkan dengan amal ibadah seluruh umat di dunia ini**

ah, lagi, keutamaan mereka membuat rindu ini semakin menggebu,,
bahkan nyaris tak tertahankan lagi..

dan semakin hari, justru yang mbak rasakan adalah,
mbak ingin segera menghadapi kematian itu..

mbak sangat sangat merindukan mereka..

walaupun mbak sadar,
tak mungkin amal ibadah mbak yang tak ada apa-apanya ini bisa membuat mbak dikumpulkan Allah dalam satu tempat bersama mereka,
tapi mbak meyakini sebuah janji Allah,
bukankah Ia akan mempertemukan hambaNya dengan orang yang ia cintai ketika besok di akhirat?

maka cukuplah cinta ini yang terus mbak simpan,
cinta yang mbak harap cukup untuk membujuk Allah agar mempertemukan mbak dengan mereka,,

dan cinta yang juga harus kalian pupuk mulai sekarang,,

hingga akhirnya besok,
kalian tak akan lagi takut terhadap kematian,,

hingga akhirnya justru kalian lah yang akan merindukan kematian itu,,

hingga suatu saat nanti, kalian berani untuk berkata:

**Allah, aku siap berjumpa denganMu..**
:')"

Kita pasti bisa menjadi orang-orang yang dirindukan surga,,
we are going to be huurun 'iin,,
kitalah calon bidadari surga,, aamiin.. :)

Monday, August 15, 2011

Refleksi Diri tentang Tarbiyah

Perbaiki Dirimu dan Berda’walah kepada Orang Lain..

Ada sebuah rangkaian unik di dalam kehidupan berjamaah kita.. Yang satu bisa mempengaruhi yang lainnya.. Bahkan sampai masalah keistiqomahan,, sebab yang satu bisa berpengaruh ke sebab yang lain.. Mereka bisa saling menguatkan atau justru malah saling melemahkan.. Ya, mereka adalah tentang keteladanan..

Satu contoh mudah adalah tentang tarbiyah.. Terkadang ada kasus tentang akhwat yang futur karena kecewa dengan murobbiyahnya atau ustadzahnya. Atau adik-adik yang tidak mau lagi melanjutkan ngaji karena kecewa dengan sosok kakak tingkatnya yang sebelumnya ia kagumi. Tragis. Tapi ada juga kasus sebaliknya,, dimana ada seorang akhwat yang melejit karir da’wahnya karena kekagumannya terhadap murobbiyahnya atau kakak tingkat yang sudah lama berkecimpung di dunia da’wah..

Sayangnya, aku termasuk tipe orang yang mudah sekali terpengaruh dengan lingkungan dan juga dengan sebentuk “sosok”..

Sedikit cerita untuk mengawali tulisan ini, dulu aku pernah memiliki tokoh da’ia yang kukagumi. Sebut saja tokoh itu dengan nama Fulanah. Beliau adalah sosok yang berkharisma, yang lisannya terasa begitu halus dan dapat dipercaya, yang nasehatnya selalu solutif dan pantas untuk diteladani. Hingga suatu ketika aku mengetahui ada suatu cacat didalam diri itu, ini tentang suatu sikap yang seharusnya beliau tau betul bagaimana seharusnya disikapi oleh seorang muslim, namun beliau justru memilih untuk khilaf dengan suatu sebab itu. Dan aku benar-benar merasa sakit hati waktu itu, begitu sakit hatinya hingga membuat aku sempat berpikir “Lalu untuk apa semua ini? Untuk apa aku sekarang berusaha menjadi seperti ini? Toh beliau yang sudah seperti itu saja ternyata juga tidak bisa istiqomah terhadap da’wahnya.”

Hmm, benar-benar pemikiran childish.. Tapi alhamdulillah, Allah membuka nalarku untuk tak begitu saja menggelapkan cahaya iman di hati ini.. Ya, aku mulai mencari pembenaran kesana-sini, aku pergi ke kakak-kakak yang pada mereka masih kusisakan sedikit kekaguman terhadap da’wahnya, tak lupa aku juga pergi ke murobbiyahku, mencurahkan segala kekecewaan hati ini terhadap kekhilafan sosok itu..

Dan pada mereka lah, alhamdulillah, iman ini kembali dikuatkan.. Oleh mereka lah, semangat da’wah ini kembali menggelora..

Masih teringat salah seorang kakak yang tersenyum mafhum terhadap pengaduanku itu, lalu berucap, “kita hanya punya 2 senjata untuk bertahan di dunia yang memuakkan ini, iman yang menggelorakan semangat dan ukhuwah yang mengobati luka-luka.. Dan begitulah Allah mendidik kita, dari satu mihwar ke mihwar selanjutnya,, dari satu marhallah ke marhallah berikutnya.. Maka bersiap siagalah.”

Tak lupa juga dengan saran dari murobbiyahku yang masih kuingat hingga sekarang, “Jangan sampai lengah, karna syaitan selalu punya cara untuk menggoda umat yang beriman.. Mari kita tengok pada pengaduanmu, bahkan seorang sosok yang kau anggap begitu sholehah saja masih bisa terjerumus pada suatu khilaf seperti itu, bagaimana jadinya kalau kau justru melemahkan iman dan keluar dari barisan da’wah? Jangan pernah takut untuk berjuang, karna kau tak pernah sendirian, kami bersamamu.”

Ya, betapa beruntungnya aku masih memiliki mereka, orang-orang yang kuyakin akan tetap istiqomah berda’wah.. Betapa bersyukurnya aku karna diberi sebuah keluarga dalam ikatan ukhuwah islam seperti mereka.. Dan itulah sekuat-kuat alasan mengapa aku masih bertahan di barisan da’wah ini, karena aku percaya bahwa aku tak pernah sendirian, karna mereka tak pernah meninggalkan barisan ini, dan juga karna aku dibersamai oleh kelompok orang-orang sholehah seperti mereka..

Aku mencintai mereka karna Allah,, dan aku akan selalu menunjukkan cintaku pada mereka di jalan Allah.. Walaupun tertatih kaki ini berjalan, jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan,, sekalipun tak akan.. Maka disinilah aku sekarang,, masih terus berjuang memperdalam ilmuku, dan masih akan terus berjuang untuk berda’wah.. Karna shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah..

Hamasah ^____^

*artikel ini sebenarnya kutulis karna suatu tugas,, tak apa kan kalau sekalian ku post? ^_^