Pages

Friday, December 3, 2010

pelajaran mahal dari Ayah yang berharga.. :)

Senin, 29 November 2010
08.30
SMS dari Bunda masuk "Mbak Anis siap2 ya, Ayah jadinya dioprasi besok pagi, nanti sore kita berangkat ke Jakarta. Mbak Anis nanti jam 12 ke Purworejo dulu ya"

Kaget. Ayah memang udah sampai di RS Harapan Kita sejak minggu lalu, untuk cek kondisi tubuh danlainlain, tapi kemarin malam aku dapat berita dari Bunda kalau operasinya dimundurin harinya. Dan SMS ini termasuk mendadak, karena aku bahkan belum packing dan segala macam.

Tidak mau terlambat, aku segera ke loby, meminta surat izin, dan langsung pulang begitu bel istirahat pertama berbunyi. Beruntung teman-teman sekelasku udah tau tentang kondisi Ayahku, jadi begitu kubilang "aku izin mau ke Jakarta" mereka langsung mengerti dan turut mendoakan kesembuhan Ayah (cozy).

09.30
Sampai di rumah aku bergegas packing, membawa 4 pasang baju dan tak lupa buku-buku pelajaran (supaya keliatan rajin ^_^). Saat sedang packing itulah handphone-ku menderingkan nada SMS berkali-kali. Begitu kubuka, subhanallah, ada berpuluh pesan masuk dari teman-teman FLP. Pesan itu memang singkat, tapi sungguh penuh makna dan cinta kasih. Pesan-pesan itu berisi beragam doa, dirangkai dengan kata-kata buatan mereka sendiri, tak lupa disertai doa-doa yang diambil dari Al-Qur'an.. benar-benar indah.. membuatku semakin sayang terhadap keluargaku ini.. :')

Singkat cerita, aku, bunda, dan om Yudi akhirnya sampai juga di Jakarta.
Selasa, 30 November 2010
02.45
Kami langsung menuju RS Harapan Kita, sekedar say Assalamualaykum kepada Ayah, dan sedikit cerita ngalor-ngidul tentang persiapan operasi.
Dan kulihat mata itu. Mata berair Ayah, yang sebenarnya tidak menginginkan operasi ini dilakukan.

Aku sangat mengerti bahwa operasi itu berat Yah,, apalagi dengan kasus penyakit seperti Ayah ini,, ini bahkan pertaruhan hidup dan mati.. Tapi bukankah tugas manusia adalah untuk berusaha semaksimal mungkin? Aku yakin Ayah kuat, aku yakin Allah bersama kita.. kuucapkan itu lembut sembari memegang tangan Ayah. :')

07.00
Aku dan Bunda datang lagi ke RS Harapan Kita, ke kamar Ayah, berusaha menyemangati Ayah di detik-detik menuju operasinya ini. Rencana operasi akan berlangsung dari jam 08.00, dan kata dokter, jika tidak terjadi masalah, maka operasi akan selesai dalam waktu 5-6 jam.
Kulihat Ayah melakukan shalat dhuha bahkan lebih dari 4 rakaat pada saat diminta dokter untuk bersiap-siap.
Lindungilah kami Ya Rabb.. Jagalah Ayah..

13.00
Ayah belum keluar dari ruang operasi. Aku dan bunda masih mencoba khusnudzon,
mungkin satu jam lagi..

14.00
Bapak-bapak yang masuk ruang operasi setelah Ayah bahkan telah keluar dari ruang operasi dan keluarganya diminta ke ruang ICU, sementara Ayah sama sekali belum ada kabarnya..

17.00
Aku dan bunda mulai deg-degan. Banyak SMS dari kerabat yang menanyakan kondisi Ayah pasca operasi, yang bahkan kamipun belum mengetahui kabar Ayah yang sebenarnya. Bunda memaksa masuk ke ruang ICU, mengecek semua kamar untuk mencari Ayah, tapi percuma, Ayah belum masuk ruang ICU.. Bukankah Ayah belum selesai operasi? pikirku khusnudzon.

Aku menemani Bunda menunggu di depan ruang ICU karna Bunda nggak mau diajak duduk kembali di ruang tunggu. Penjaga ruang ICU saat itu mendatangi kami dan berkata "Manusia itu tugasnya berusaha,, tapi apapun hasilnya kita serahkan padaNya, karna Dialah yang memiliki takdir.."

Aku stres mendengarnya.
Kalaupun ada yang harus-dan-pantas disalahkan jika terjadi apa-apa pada operasi Ayah, aku lah orangnya. Aku lah yang telah memaksa Ayah untuk melakukan operasi. Ya Rabb..

17.30 -menjelang maghrib
Berita bahagia itu akhirnya datang. Setelah lebih dari 9 jam Ayah berada di ruang operasi, akhirnya operasinya selesai :D

Bunda langsung mencari dokter bedahnya demi meminta penjelasan tentang waktu operasi yang begitu lama.

Ternyata, kata dokter, jantung Ayah bukan hanya tersumbat, tetapi ada bagian jantung yang telah mati. Sehingga apabila pasien lain biasanya hanya butuh penyambungan 1-2 pembuluh darah, jantung Ayah ternyata harus disambung dengan 5 pembuluh darah yang baru. Beruntung kondisi tak terduga itu dapat diatasi dengan baik oleh dokternya. *dokter emang kereeen :DD
Dokter juga berkata, insyaAllah Ayah akan sadar dalam waktu 6-8jam,
dan selama pendarahan di jantung tidak berlebihan, insyaAllah tidak perlu dilakukan operasi ulang..
Aku dan Bunda akhirnya bisa bernafas lega.
Setelah shalat magrib, makan, shalat isya', danlainlain, kami kembali ke ruang tunggu, siapa tau Ayah membutuhkan obat tambahan atau apa.

21.00
4 jam setelah operasi, kami dipanggil ke ruang ICU, ke tempat Ayah,
aku sudah takut akan terjadi apa, jangan-jangan terjadi pendarahan atau apa seperti kata dokter tadi :((

dan disanalah aku melihat sesuatu yang menyentuh hati.

Saat itu adalah untuk pertama kalinya Ayah membuka mata sejak keluar dari operasi,
dan di tempat tidur itu, dengan dibalut banyak sekali selang dan alat kedokteran,
Ayah melakukan shalat magrib dan isya', begitu khusyu dan khidmat,
seakan tak ada masalah yang sedang dihadapinya saat itu.. :')

Kami melihat kejadian itu dengan hati terenyuh,
betapa besarnya cintamu padaNya Yah.. kejadian itu benar-benar membuatku cemburu..

Selesai shalat, Ayah memanggil suster, seakan tak menyadari kehadiranku dan Bunda,
dengan lirih Ayah berkata "Suster, besok tolong bangunkan saya jam 3, saya ingin shalat tahajud.."

Ah,, begitu mulianya engkau Yah.. Aku menangis, Bunda tersenyum pelan dan mengajakku keluar dari ruang ICU, takut akan mengganggu waktu istirahat Ayah yang saat itu mulai memejamkan matanya.. Aku menurut, melihat Ayah sudah sadar saja bahagianya bukan main :)

Rabu, 1 Desember 2010
08.00
Kami datang kembali ke ruang ICU, berniat untuk menemani Ayah sarapan,
tapi lagi-lagi kami dikejutkan oleh sesuatu.
Di saat pasien-pasca-operasi yang lain sedang disuapkan makanan oleh para perawat atau keluarga mereka, Ayah justru sedang sarapan sendirian, menggunakan tangannya sendiri, padahal selang yang terpasang di tubuh Ayah bahkan lebih banyak daripada pasien yang lain.


Antara senang (Ayah sudah sadar sepenuhnya) dan bingung (kenapa kok Ayah udah bisa makan sendiri? -___-a)

Aku bergegas mendekati Ayah (sementara Bunda pergi berkonsultasi dengan dokter) dan menawarkan diri untuk membantu dengan cara mengambilalih sendok yang sedang dipegang Ayah, tapi Ayah menukas "Allah menyukai seseorang yang melakukan sesuatu yang meskipun sedikit, tapi dilakukan secara terus menerus. Jangan dipikir Ayah dioperasi terus mbuat Ayah jadi nggak bisa apa-apa. Itu salah besar. Bahkan cara seperti inilah yang bisa membuat Ayah cepat sembuh, semua dilakukan sendiri, sekecil apapun itu."

Aku cuma bisa diam. Bahkan disaat-saat seperti inipun Ayah masih saja mengingat hafalan Qur'an dan hadistnya untuk mengajariku, dan saat ini aku nggak tau harus menanggapi perkataan Ayah dengan hadist yang mana -__-

Akhirnya aku meletakkan kembali sendoknya -yang langsung diambil oleh Ayah- dan menawarkan bantuan dalam bentuk lain, yaitu mengambilkan minuman dan menyeka ceceran makanan Ayah dengan tisu. Beruntung kali ini Ayah tidak menolak :D

Di tengah sarapannya, saat aku sedang membersihkan sisa makanan yang berceceran, Ayah memintaku untuk mendekat. Ingin membisikiku sesuatu nampaknya.

"Mbak Anis jadi seperti Mas Lutfhan ya.. Mas Lutfhan itu pekerja keras, nggak pernah mengeluh, bahkan di saat-saati terburuknya pun dia nggak pernah menunjukkannya didepan adik-adiknya.. Jadilah seperti Mas Lutfhan.. demi dek Lia dan dek Arif.."

Tak kuasa kucium juga dahi Ayahku penuh kasih. Sungguh, aku cinta padamu Yah..
Ayah benar-benar tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, sedikitpun tidak pernah, bahkan disaat seperti inipun yang diingatnya tetaplah anak-anaknya. Ana uhibuka fillah, Ayah.. :')

Meskipun tak mungkin bagiku untuk menjadi sesempurna Mas Lutfhan -kakak sepupuku, lulusan terbaik Tehnik Elektro ITB dengan segudang prestasi- tapi aku akan mencoba Yah, demi Ayah, demi Bunda, dan demi adik-adikku.
Terimakasih Yah telah mengingatkanku ke tujuan semula hidupku.. :)

Monday, November 29, 2010

PDKT FLP -- Saatnya Bersenang-senang! :D

Mataku terbelalak menatap jam hapeku. Seketika itu aku terbangun. Pukul 06.30. It means, aku kesiangan! Dan ini semua akibat terlalu memaksakan diri untuk menghabiskan malam dengan mesranya bersama elastisitas, gerak harmonis, impuls momentum, dan entah apalagi itu. Yang jelas mereka semua membuatku masih terjaga hingga pukul 2 dini hari, padahal 4 jam setelahnya aku sudah harus menempuh perjalanan ke Parangtritis (walaupun seharusnya acara itu dimulai sejak sabtu pagi, tapi berhubung aku sedang masa UAS, maka aku menyusul di ahad paginya). Bersyukur waktu itu aku memang sedang berhalangan untuk shalat.

Langsung ku menuju kamar mandi, membersihkan badan dengan tak berlama-lama, lalu segera memilih pakaian yang kurasa pantas kukenakan dalam momen ini. Pilihan akhirnya jatuh pada rok merah muda lembut dan pakaian berlengan panjang berwarna perpaduan putih dan merah muda, dengan jilbab putih polos yang kupanjangkan hingga bagian belakangnya menyentuh pinggangku. Hmm, sederhana seperti biasanya.

Setelah selesai, kupacu motorku menuju kos seorang temanku, Hanif.
Tak perlu lama kuhentikan motorku, ia telah siap didepan gerbang dengan jilbab hitamnya yang melambai.

Waktu menunjukkan pukul 07.20 saat kami melaju ke arah Parangtritis, padahal momen spesial itu dimulai pukul 07.30 tepat, dengan lama perjalanan 1,5 jam. Sedikit takut akan terlambat (dan sudah tak diragukan lagi akan terlambat) kupacu motorku lebih cepat.

80 km/jam, masih baik-baik saja. Jalanan juga masih sepi. Jadi apa salahnya bila kupacu lagi?

100 km/jam, sedikit takut juga dengan kecepatan motorku ini, tapi bukannya mengurangi kecepatan, aku hanya berusaha menjaga kestabilan motorku masih dengan kecepatan gila tersebut.

Melebihi 100 km/jam, Hanif sampai harus memegangi helm standarku. Betul-betul kecepatan yang membuatku sendiri keder.

Pukul 07.45 kami telah sampai di penginapan Yu Djum, tempat dimana acara itu terlaksana. Aku menghela nafas lega sembari berucap "Subhanallah" berulang kali di dalam hatiku. Perjalanan yang hebat, seakan lebih takut ketinggalan momen ini daripada takut kepada maut yang mungkin saja sudah membayang.

Aku segera memarkir motorku kemudian bergabung dengan teman-teman yang lain di sebuah ruangan terbuka, dimana seorang trainer tampak sedang menjelaskan beberapa hal mengenai dunia kepenulisan.
Ya, inilah dunia kami.
Dan disinilah kami semua,
bersiap memperoleh berbagai siraman ilmu mengenai dunia kepenulisan,
dalam suatu wadah organisasi bernama Forum Lingkar Pena.

Forum kepenulisan pagi ini diisi dengan sesi-sesi yang begitu menarik,
tak lupa kita diminta untuk membuat suatu karya dalam setiap sesi,
dan begitu seterusnya hingga semua sesi selesai.

Ba'da dzuhur kami kembali dikumpulkan di ruangan tadi.
Kami diacak dan dipecah dalam 3 kelompok, ikhwan dan akhwat bercampur.
Dengan kelompok tersebut, kami diminta untuk saling menceritakan tentang kata-kata motivasi dalam hidup kami, untuk kemudian dirangkum dalam satu kertas,
 
 
selanjutnya kami diminta untuk membuat suatu games yang nantinya akan dipertunjukkan ke kelompok lain.

Iseng kutawarkan games "bintang-bintang",
sebuah games yang kudapat dari anak Korea saat sekolahku mengadakan Pertukaran Budaya Indonesia-Korea.
Tak disangka, kelompokku (yang rata-rata merupakan anak kuliah) merespon positif ideku itu.

Kami mulai mempraktekkan games ini.
Butuh konsentrasi penuh dan nafas yang panjang untuk terus menyanyikan lagunya. Memang kelihatan susah awalnya bagi mereka, tapi rupanya mereka begitu menikmatinya sehingga kami terus terlarut untuk memainkannya dengan nyanyian yang semakin lama semakin cepat dan keras, disaat kelompok lain masih berdiskusi dengan tenangnya.

Kami terus bernyanyi berderai tawa, tak henti-hentinya mengulang permainan itu seakan tak ada batasan waktu yang diberikan. Satu kesalahan yang terjadi akan berimbas pada sekian menit tawa lantang kami. Spontan. Keras. Menertawakan kebodohan kami sendiri. Aku bersyukur terpikir ide tentang permainan ini, aku bersyukur bisa mencairkan suasana kaku diantara kami.

 
Saat akhirnya tiba di penghujung acara,
kami tau semua kebersamaan ini tak hanya berhenti di acara ini.
Ini barulah awal kebersamaan kami,
masih panjang jalan yang akan kami tempuh bersama.

Dengan suatu tekad pasti untuk berdakwah,
untuk menulis dan terus berkarya,
dalam jalinan ukhuwah indah ini 

ah,, I DO LOVE THIS FAMILY SO MUCH... :D





-kisah ini terjadi pada tanggal 6 desember 2009 lalu. Dan kini, sebagai sie acara PDKT FLP 2010, akan kubuat PDKT yang lebih berkesan bagi keluarga kami nanti, agar mereka merasakan kehangatan FLP sama seperti yang kurasakan dulu.. :)